in

Dinkes: Kasus Covid-19 Melonjak, Karena Kesadaran Penerapan Protokol Kesehatan Rendah

Foto Ilustrasi protokol kesehatan.

 

HALO SEMARANG – Kasus Covid-19 di Kota Semarang masih terus bergerak fluktuatif. Hingga saat ini kasus penularan pun masih terjadi, bahkan angkanya cenderung naik.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, dalam dua pekan terakhir kasus Covid-19 terjadi peningkatan. Sebelumnya, pihaknya mengira kasus tertinggi pada Juni lalu.

Namun pada pekan ke-47 kasus di Kota Semarang ternyata kembali naik. Bahkan berdasarkan data Dinas Kesehatan pada Rabu (2/12/2020) lalu, kasus Covid-19 mencapai 739 kasus.

Kini, kasus positif Covid-19 mulai turun. Hingga Jumat (4/12/2020) terpantau di website siagacorona.go.id, pukul 12.30, diperoleh data jumlah kasus aktif sebanyak 718 orang. Rinciannya, 501 merupakan warga Kota Semarang dan 217 merupakan warga luar kota.

“Yang bikin angka naik karena kesadaran penerapan protokol kesehatannya rendah. Orang-orang pada bosan menerapkan protokol kesehatan, padahal vaksin belum ada,” ujar Hakam, Jumat, (4/12/2020).

Hakam melanjutkan, Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan pengamatan protokol kesehatan di masyarakat per dua minggu. Berdasarkan hasil pengamatan data pada 20 November 2020, tingkat penerapan protokol kesehatan masyarakat memang menurun. Penerapan cuci tangan dan memakai masker pada angka 70 persen. Sedangkan jarak hanya sebesar 66 persen. Padahal, pekan sebelumnya mencapai 70-75 persen.

“Kami nilai dua minggu sekali di masing-masing wilayah kerja puskesmas. Kami ambil sampel 10 persen dari jumlah penduduk di masing-masing wilayah kerja,” jelas Hakam.

Dari hasil pengamatan, sambungnya, memang angka penerapan protokol kesehatan di beberapa daerah turun. Turunnya kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan pun berpengaruh pada meningkatnya kasus, seperti di Semarang Barat, Pedurungan, Tembalang, Ngaliyan, dan Banyumanik.

“Itu top five secara bergantian. Kalau prokes bagus, sebaran kasus pasti tidak tinggi. Daerah-daerah itu memang angka prokesnya turun. Selain itu, mobilitas di daerah itu tinggi,” jelasnya.

Hakam menambahkan, hingga saat ini klaster keluarga masih mendominasi. Bahkan, satu keluarga bisa sampai menyumbangkan 10 kasus. Selain klaster keluarga, kenaikan kasus juga berasal dari satu perusahaan besar di Semarang Barat yang menyumbangkan cukup signifikan hingga sekitar 100 kasus.

“Rata-rata per minggu yang terpapar 250-300 orang. Dari beberapa kecamatan, paling banyak keluarga. Kemarin juga sempat dari perusahaan besar di Semarang Barat yang menyumbang hingga sekitar 100 orang,” terangnya.

Menurutnya, solusi untuk menekan kasus Covid-19 yaitu protokol kesehatan. Operasi yustisi harus lebih digencarkan. Hakam menegaskan, perlu adanya operasi yang masuk ke hotel, tempat gelaran pernikahan, restoran, dan warung-warung kecil.(HS)

Share This

Klaim Bagyo untuk Bangun Sungai Bawah Tanah Di Solo, Mungkinkah?

Bantuan 600 Ribu Masker Dari Pemerintah Singapura Untuk Kendal Segera Datang