Dindik Kota Pekalongan Dorong Pembelajaran Lebih Menarik

Foto : Jatengprov.go.id

 

 

KOTA PEKALONGAN – Para pengajar dituntut sampaikan materi secara daring dengan cara lebih menarik. Hal itu agar siswa tidak cepat merasa bosan dan memiliki motivasi untuk belajar.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Unang Suharyogi, seperti dirilis Jatengprov.go.id.

Dia mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, dalam semester genap 2021 ini, masih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan ini diambil karena pandemi Covid-19 belum berakhir.

Namun demikian, dia mengakui sistem semacam itu berdampak bagi pelajar, orang tua siswa, dan tenaga pendidik. Mereka merasakan kelelahan fisik dan psikologis, karena harus menatap layar gawai hampir setiap hari.

“Awalnya dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) via daring, orang tua senang karena anaknya bisa sekaligus belajar teknologi, tetapi lama-kelamaan merasa jenuh, karena bagaimanapun peran guru tidak mudah digantikan oleh orang tua,” terangnya.

Untuk mengatasi masalah kebosanan pada siswa, Unang berkoordinasi dengan kepala sekolah dan pengawas sekolah, untuk mendorong pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode berbeda. Para pengajar dituntut untuk menyampaikan materi secara lebih baik dan menyenangkan.

“Pembelajaran jarak jauh di semester baru, nantinya harus berorientasi pada aktivitas anak. Bahan ajar dan juga tugas-tugas yang diberikan dari sekolah, tidak lagi hanya menekankan pada teori, melainkan akan lebih bersifat merangsang anak untuk beraktivitas secara kreatif di rumah masing-masing,” ujar Dede.

Lebih lanjut, kurikulum yang dipergunakan masih sama dengan kurikulum tahun lalu, yakni sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus dengan mengupayakan PJJ.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, mengapresiasi langkah yang diambil oleh Dindik melalui PJJ. Menurutnya, di tengah pandemi ini, dunia pendidikan cukup merasakan dampaknya dengan tidak diberlakukannya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Tatap Muka.

Lebih lanjut, Saelany mengungkapkan banyak hambatan dan rintangan yang kerap ditemui insan pendidikan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, terutama di tengah pandemi Covid-19. Meskipun demikian, dirinya yakin bahwa para pendidik di Kota Pekalongan dapat mengubah rintangan tersebut menjadi tantangan dalam proses transfer ilmu kepada anak-anak didiknya.

“Para insan pendidikan ini memiliki sumbangsih besar dalam pembangunan pendidikan di Kota Pekalongan, apalagi kami mengapresiasi tren Indeks pembangunan manusia (IPM) terus meningkat dan tidak terlepas dari peran lembaga pendidikan yang berhasil meningkatkan IPM yang berbanding lurus dengan peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan,” paparnya.

Saelany menegaskan, Pemkot Pekalongan belum mengizinkan KBM tatap muka di seluruh jenjang pendidikan yang menjadi kewenangan Dindik Kota Pekalongan. Hal itu lantaran kasus Covid-19 di Kota Pekalongan belum mereda dan kembali masuk dalam peta risiko tinggi (zona merah) di Jawa Tengah.

“KBM tatap muka kami belum izinkan dibuka, masih terus kami kaji lagi. Sehingga, kami meminta untuk para insan pendidikan bisa terus berinovasi dan meningkatkan kreativitas dalam memberikan pembelajaran yang menarik kepada anak didiknya, seperti yang telah Pemkot Pekalongan fasilitasi melalui media Batik TV dan Radio Kota Batik,” kata dia. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.