in

Dinas Kesehatan Jateng: Vaksin DBT Tersedia

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo.

 

HALO SEMARANG – Dinas Kesehatan Provinsi (Jawa Tengah) Jateng menyebut, stok vaksin Difteri, Pertusis dan Tetanus (DBT) untuk bayi umur bawah satu tahun tersedia, namun jumlahnya terbatas.

“Sebenarnya yang kosong itu BCG bukan DBT. Sekarang sudah mulai ada baik DBT, BCG dan lainnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo, Kamis (7/10/2021).

Ia mengatakan, kekosongan vaksin tersebut akibat terkendala pengiriman dari Kementerian Kesehatan.

“Memang sempat ada kekosongan pengiriman dari pusat,” ujarnya.

Perihal jumlahnya, ia menyatakan, masih terbatas. Kendati demikian, apabila terdapat daerah yang belum memiliki stok dapat mengajukan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jateng.

“Jumlahnya memang masih terbatas, tapi bagi daerah yang membutuhkan bisa untuk mengajukan ke provinsi. Itu termasuk vaksinasi rutin terhadap anak-anak balita,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Muhammad Abdul Hakam mengungkapkan, vaksin DBT kosong. Pihaknya tengah meminta pemerintah pusat untuk segera memberikan stok vaksin tersebut.

“Yang kosong tidak hanya Kota Semarang, tapi seluruh kota di Indonesia,” ungkapnya.

Hakam menyebut, akibat kosongnya vaksin DBT, pihaknya menerima banyak keluhan dari masyarakat. Baik melalui pesan WhatsApp maupun media sosial resmi Dinas Kesehatan Kota Semarang.

“Ada keluhan dari warga langsung ke WhatsApp saya dan di Instagramnya DKK tetap saya sampaikan barang itu belum ada,” katanya.

Terpisah, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah menyayangkan terjadi kekosongan ketersediaan imunisasi DPT bayi di sejumlah wilayah Jateng.

Sekretaris IDAI Jateng, Choirul Anam menyebut kekosongan ketersediaan DPT dikhawatirkan berimbas pada kesehatan anak dibawah satu tahun seperti lonjakan kasus difteri.

“Seharusnya hal seperti ini (kekosongan DPT) tidak terjadi karena bisa diantisipasi oleh pemerintah, karena yang akan dirugikan itukan anak-anak,” ucapnya.

Anam mengatakan, tidak adanya atau telat melakukan imunisasi DBT akan berdampak pada kesehatan bayi dan mengacaukan jadwal imunisasi. Seharusnya, lanjutnya, pemerintah dapat mengantisipasi kekosongan tersebut dengan mengatur ketersediaan logistik.

“Yang paling kita takutkan terjadi lonjakan kasus yang sebenarnya bisa dihindari dengan vaksin seperti difteri, campaign, tetanus, campak dan hepatitis B,” kata Anam.

Pihaknya berharap, pemerintah mampu menemukan solusi dengan adanya kelangkaan vaksin DPT di wilayahnya.

“Semoga bisa segera ada lagi stoknya,” imbuhnya.(HS)

Share This

OJK Sebut Transaksi Keuangan Digital Mendominasi Pertumbuhan Ekonomi Jateng

854.100 Dosis Vaksin Pfizer Masuk Indonesia, Bea Cukai Beri Fasilitas Fiskal dan Rush Handling