Dikukuhkan Jadi Guru Besar Ilmu Akuntansi Udinus, Prof Dwiarso : Profesi Akuntan Tetap Relevan Dalam Revolusi Industri 4.0

Pengukuhan Prof Dr St Dwiarso Utomo SE M Kom Akt CA, sebagai guru besar Ilmu Akutansi Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Rabu (25/11). (Foto : Dok)

 

HALO SEMARANG – Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan besar dalam bentuk dan proses bisnis. Perubahan tersebut antara lain pada pendanaan atas bisnis, peningkatan jumlah aset yang berkaitan dengan teknologi, dan berkurangnya penggunaan sumber daya manusia (SDM). Namun demikian profesi akuntan tetap relevan pada era ini.

Hal itu disampaikan Prof Dr St Dwiarso Utomo SE M Kom Akt CA, saat menyampaikan orasi ilmiahnya, bertajuk “Paradigma Baru, Profesi Akuntan di Era Industri 4.0’.

Orasi tersebut disampaikannya, dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar Ilmu Akutansi Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Rabu (25/11).

Pengukuhan guru besar di Gedung E lantai 3 Udinus tersebut, juga diselengarakan secara daring dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Hadir dalam acara itu para anggota senat Udinus dan dua senat kehormatan.

Para anggota senat kehormatan tersebut adalah Prof Dr H Abdul Rohman SE Msi Akt dari Universitas Diponegoro dan Prof Dr Grahita Chandrarin MSi Ak CA dari Universitas Merdeka Malang.

Dengan pengukuhan Guru Besar Ilmu Akuntansi tersebut, Udinus ikut berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Sebelumnya, pada awal tahun 2020, Udinus juga telah mengukuhkan dua Guru Besar Ilmu Komputer dan Ekonomi Manajemen.

Secara keseluruhan, Guru Besar Ilmu Akuntansi di Indonesia, saat ini berjumlah sekitar 100 orang.

Foto : Dok

Lebih lanjut Profesor Dwiarso mengatakan pada era sekarang ini, terjadi peningkatan penggunaan teknologi seperti robot and data analytics (big data), termasuk dalam menangani pekerjaan-pekerjaan dasar akuntan, seperti mencatat transaksi, memilah transaksi, mengolah transaksi, membuat laporan transaksi, bahkan sampai pemeriksaan keuangan (audit).

“Karena itu secara keseluruhan, akuntan harus beradaptasi terhadap perubahan model industri 4.0. Jika akuntan tidak mampu beradaptasi, maka profesi akuntan akan hilang,” tegas dia.

Dia menambahkan dalam upaya bertahan agar tidak terdisrupsi pada era industri 4.0, seorang akuntan harus memiliki tujuh skill akuntansi. Tujuh skill tersebut yakni Technical and Ethical Competencies, Intelligence, Creativity, Digital Quotient, Emotional Intelligence, Vision dan Experience.

Namun demikian teknologi pada era industri 4.0, juga tidak semuanya bisa menggantikan peran para profesional di bidang akuntansi. Karena itulah ilmu akuntansi dan profesi akuntan, akan tetap relevan pada era tersebut.

Kebutuhan akan profesi akuntan, juga dibuktikan melalui terpilihnya Association of Chartered Certified Accountant (ACCA), yang memperoleh penghargaan ‘The Professional Global Body of The Year’, pada Digital Accountancy Forum (DAF) Awards tahun 2020.

“Penghargaan itu membuktikan bahwa di tengah disrupsi dan pandemi Covid-19, pemulihan ekonomi masih tetap membutuhkan ilmu akuntasi dan profesi Akuntan,” tambah Prof Dwiarso.

Sementara itu dalam kesehariannya, Prof Dwiarso Utomo menjabat sebagai Wakil Rektor II bidang Umum dan Keuangan di Udinus. Dia lahir di Semarang 24 Desember 1956, dan mencintai dunia akuntansi berkat Pelajaran Tata Buku Hitung Dagang, yang dipelajarinya semasa SMA.

Secara resmi, Prof Dwiarso mendapatkan jabatan fungsional sebagai Guru Besar pada 9 September 2020 yang lalu.

Prof Dr St Dwiarso Utomo SE M Kom Akt CA, menyampaikan orasi ilmiah dalam pengukuhannya sebagai guru besar Ilmu Akutansi Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Rabu (25/11). (Foto : Dok)

Sementara itu, Rektor Udinus Prof Dr Ir Edi Noersasongko M Kom yang mengikuti prosesi secara daring, menyampaikan bertepatan dengan Hari Guru Nasional, penambahan satu guru besar merupakan momentum yang patut disyukuri, menjelang penutupan tahun 2020.

Penambahan guru besar di bidang Ilmu Akuntansi, menjadi pelecut semangat bagi dosen lainnya. Menurutnya menjadi guru besar bukan menjadi akhir dari karir seorang dosen, namun menjadi spirit untuk membangkitkan karya-karya brilian dan berguna bagi masyarakat luas.

“Perguruan tinggi tidak hanya sekedar mencetak sarjana, magister dan doktor, namun juga harus mencetak guru besar. Perguruan tinggi berperan penting dalam keberlangsungan peradaban bangsa, utamanya di bidang pendidikan,” tegas Rektor Udinus, Prof Dr Ir Edi Noersasongko. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.