Diklat Aktivis Mahasiswa: Pemimpin Mendatang Harus Melakukan Perubahan Radikal

Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Ahmad Suaedy. (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menjadi pemimpin yang andal di masa depan, harus melakukan perubahan radikal dan itu sudah dicontohkan oleh Soekarno, Muhammad Hatta, dan Gus Dur.

Hal ini dikatakan Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, saat berbicara pada Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (Diklatpimnas) yang diikuti 80 aktivis mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Pada awal kemerdekaan Indonesia, lanjut Suaidy, Soekarno dan Muhamad Hatta melakukan langkah-langkah perubahan mendasar. Yaitu, menyatukan berbagai elemen bangsa, suku dan bahasa dari berbagai daerah yang terhampar dari Sabang hingga Merauke.

“Semangat kemerdekaan yang menjadi cita-cita seluruh bangsa di nusantara menjadi penyemangat mengusir penjajah dari bumi Indonesia adalah bukti perubahan radikal, yang dilakujkan Soekarno-Hatta,” papar Suaidy, seperti dirilis Kemenag.go.id.

Menurut Direktur Eksekutif Wahid Institut Jakarta ini, deklarasi kemerdekaan Indonesia, menjadi pintu kesuksesan bangsa Indonesia, dalam membangun bangsa besar di masa depan. Dia memaparkan materi tentang “Belajar dari Kepemimpinan Soekarno Hatta dan Gus Dur”.

Di hadapan para aktivis mahasiswa, Suaidy juga memaparkan kepemimpinan Gus Dur. Menurutnya, sebagai pemimpin, Gus Dur juga telah melakukan berbagai perubahan radikal, khususnya dalam penegakan good governance.

Di antara perubahan yang dilakukan Gus Dur, adalah pemberantasan korupsi dengan membentuk KPKPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara). KPKPN sekarang, menjadi Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Selain KPK, Gus Dur juga membentuk lembaga Ombudsman.

Lebih lanjut, dikatakan Suaidy, Gus Dur juga melakukan perubahan politik mendasar dengan melucuti dwi fungsi TNI. Di samping itu, Gus Dur juga mengambil langkah penyelesaian Papua dan Aceh, dengan menjadikan rakyat Papua dan Aceh sebagai partner pemerintahan pusat.

Kegiatan Diklatpimnas Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI bekerja dengan Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang pada 20-30 Desember secara online dan offline dengan bobot materi 70 jam tatap muka dan maya.

Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Diktis Ditjen Pendidikan Islam RuchmanBasori mengatakan aktivis mahasiswa bisa menjadikan figure Soekarno, Muhammad Hatta dan Gus Dur sebagai bestpractices model kepemimpinan nasional.

Tampil pada hari ke-5 Diklatpimnas, Ketua Lakpesdam NU Rumadi Ahmad. Dia membawakan tema “Mahasiswa dan Perubahan Sosial: Refleksi dan Proyeksi”.

Narasumber lainnya, adalah Sigit Pamungkas Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP). Dia memaparkan materi tentang “Peran Mahasiswa dalam Konteks Kepemimpinan Nasional”.

Ketua Rumah Moderasi UIN Walisongo Semarang Imam Yahya mengatakan, mahasiswa penting memahami bagaimana cara berfikir tokoh-tokoh nasional menjalankan praktik-praktik kepemimpinan. “Mereka adalah contoh pemimpin terbaik yang dimiliki bangsa ini yang layak dijadikan uswah hasanah bagi kehidupan kebangsaan,” kata Imam. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.