in

Diberhentikan Sepihak oleh Semarang Royale Golf, Puluhan Caddy Gelar Demo

Puluhan Caddy SRG gelar demo usai diberhentikan sepihak menjadi kemitraan, Sabtu (27/5/2023).

HALO SEMARANG – Belasan Caddy atau Pramugolf melakukan demo karena pemberhentian sepihak kemitraan oleh pengelola Semarang Royale Golf (SRG). Sekitar 50 caddy golf menggelar unjuk rasa di jalan masuk menuju area golf, kawasan Gombel Lama, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang Sabtu (27/5/2023).

Mereka menilai pengelola tidak berhak mengusir mereka dari SRG mengingat lahan milik Pemkot Semarang. Koordinator Paguyuban Caddy SRG, Alex menjelaskan caddy yang biasa melayani pegolf di SRG mayoritas berasal dari Semarang Candi Golf.

“Kami ini bukan pegawai atau pekerja dari pengelola SRG. Selama kerja di sini, sejak 2006 kami juga tidak pernah mendapat gaji dari pengelola SRG. Kami dapat bayaran, tips dari pegolf. Jadi kami tidak bisa dipecat sama perusahaan itu. Yang bisa mecat kami itu Pemkot Semarang, karena memang yang membawa kami ke sini adalah pemkot,” ujarnya disela-sela aksi.

Sedangkan salah satu Caddy, Agustiman (58) menjelaskan ia dan 17 rekannya belum lama ini mendapat surat dari PT Ardina Prima. Inti dari surat itu menyebutkan pemutusan kemitraan sebagai caddy karena masalah usia.

“Bahwa per 1 Juni kami sudah tidak diperbolehkan aktivitas di SRG karena masalah usia, lebih dari 58 tahun. Kemudian kami bertemu dengan mereka dan dijanjikan mendapat tali asih sebesar Rp 2,8 juta,” katanya.

Ia mengakui pemutusan kemitraan sama saja dengan memutus mata pencaharian mereka. Penawaran tali asih juga dirasa tidak sebanding dengan hasil keringat sebagai caddy selama ini.

“Intinya kami menolak kebijakan pengelola dan tetap minta bisa menjadi caddy di sini. Bukan masalah tali asih tapi kami minta tetap bisa bekerja sampai kami benar-benar sudah tidak mampu lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Ekwan Priyanto, perwakilan dari PT Ardina Prima menuturkan pemutusan kemitraan sejumlah pramugolf semata dalam rangka pengembangan bisnis SRG. Ia menyebut adanya permintaan dari pelanggan menjadi salah satu pertimbangan pihaknya tidak berkeinginan untuk bermitra dengan caddy yang lanjut usia.

“Namun kami juga tidak semena-mena dalam kebijakan pemutusan kemitraan tersebut. Ada sejumlah pilihan yang bisa diterima selain pemberian tali asih,” imbuhnya.

Selain tali asih, pihaknya juga tidak melarang kehadiran para caddy yang sudah diputus kemitraan ke SRG. Selama ada permintaan pribadi dari customer atau pegolf, ia mempersilakan para caddy beraktivitas.

“Dan yang lebih luar biasa, kami menawarkan kepada 18 caddy tersebut, jika ada anak atau keluarganya yang lain berminat jadi caddy menggantikan ayahnya. Atau jika anaknya berminat jadi karyawan di sini, kami prioritaskan untuk bisa diterima sesuai kebutuhan perusahaan,” imbuhnya.

Usai aksi demo, keduabelah pihak bertemu membahas solusi atas kebijakan yang diambil pengelola SRG. Namun hingga pertemuan berakhir belum ada keputusan yang disepakati. Diketahui, kawasan SRG milik Pemkot Semarang disewa oleh PT Semarang Pesona Semesta (SPS) sejak tahun 2022. Dan untuk pengelolaan SRG sendiri, PT SPS menunjuk PT Ardina Prima. (HS-06)

32 Biksu Mampir di Pendopo Weleri, Sambutan Masyarakat Diapresiasi

879 Jemaah Calon Haji Asal Kendal Diberangkatkan Menuju Asrama Donohudan