in

Dibebaskan dan Diberi Sembako, Provokator di Blora Bakal Dibina Pemkab

Bupati H Arief Rohman SIP MSi menyerahkan bantuan paket sembako dari Pemkab untuk 24 pelaku provokasi, di halaman belakang Mapolres Blora. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Polisi membebaskan para pelaku provokasi penjarahan di Kabupaten Blora, tetapi tetap mengharuskan mereka wajib lapor dan tidak mengulangi perbuatannya.

Hal itu disampaikan Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, ketika bersama Bupati H Arief Rohman SIP MSi, menggelar konferensi pers di halaman belakang Mapolres, berkaitan dengan 24 provokator penjarahan yang sebelumnya sudah ditangkap Polres Blora.

“Setelah kami lakukan pemeriksaan, ke-24 orang ini menganut gagasan paham yang salah. Mereka memiliki paham, semua aset negara berupa sumber daya alam, baik berupa pertanian, perhutanan, tambang, adalah milik nenek moyang,” kata Kapolres.

Bupati H Arief Rohman SIP MSi, sebelumnya mengusulkan agar para pelaku provokasi ini, mendapat pembinaan agar mereka kembali setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Karena paham yang salah dan belum sampai melakukan tindak kejahatan, kami usulkan untuk dilakukan rehabilitasi. Selanjutnya, ke depan kami akan terus melakukan pembinaan, pendampingan agar mereka setia pada NKRI dan menjadi agen pendukung kebijakan pemerintah dalam pembangunan dan dalam upaya penanganan Covid-19,” ungkap Bupati.

Usulan itu disampaikan Bupati, karena dari hasil pemeriksaan polisi, diketahui perbuatan para pelaku itu dilatarbelakangi pemahaman yang salah tentang negara, ditambah kesulitan ekonomi.

Karena itu selain mengusulkan pembinaan, Bupati juga menyerahkan bantuan paket sembako dari Pemkab, kepada 24 pelaku.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Blora, AKP Setiyanto mengatakan otak penyebar selebaran tersebut bernama Samijo atau Suro Samin Sentiko, yang ditangkap beserta 23 orang lainnya.

Meski mengaku bernama Suro Samin Sentiko, tetapi Samijo tidak berkaitan dengan ajaran tokoh lokal Samin Surosentiko.

“Tidak ada (kaitannya dengan suku Samin). Memang dia namanya waktu kecil itu Suro Samin sentiko, terus setelah tua namanya Samijo atau S,” katanya.

Adapun motif mereka, adalah ingin mendapat perhatian dan meminta jatah ke para pemilik usaha.

“Motifnya sebenarnya adalah agar diperhatikan dan meminta jatah ke para pemilik usaha, seperti dealer motor, mobil, toko swalayan dan pabrik-pabrik,” kata Setiyanto.

Mereka melakukan perbuatan itu, karena kesulitan ekonomi, di tengah pandemi Covid-19.

“Ekonomi serbasulit, pelaku yang merupakan dukun, mengajak para pengikutnya untuk melakukan aksi tersebut. Para pelaku kebanyakan bekerja sebagai petani,” terangnya.

Dalam konferensi pers itu, dua pelaku utama, yakni Samijo alias mBah Suro Sentiko Samin, bersama Rohmat mewakili seluruh pelaku, membacakan pernyataan maafnya kepada Presiden, Kapolri, TNI dan seluruh jajaran hingga tingkat Kabupaten karena telah menimbulkan keresahan.

“Sejujurnya kami mohon maaf kepada Bapak Presiden, Panglima TNI, Kapolri, Pak Gubernur, Pak Pangdam, Kapolda, hingga Bupati, Kapolres dan Dandim beserta seluruh masyarakat atas perbuatan menghasut dan memprovokasi sehingga membuat keresahan. Kejadian ini terjadi akibat kesalahan dan kebodohan kami. Terima kasih kepada bapak-bapak aparat yang telah memberikan pembinaan dan menyadarkan kami,” ucapnya. (HS-08).

Share This

Evolusi Peran tiket.com Sebagai Pionir OTA di Indonesia

Mahasiswa KKN Undip Sosialisasikan Pembuatan Bakteri Fotosintesis Sebagai Pupuk Cair Tanaman