Dianggap Membuat Kumuh, 25 PKL Dibongkar Satpol PP Kota Semarang

Kios PKL di Jalan Sekaran Raya, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, dibongkar oleh petugas Satpol PP Kota Semarang, Selasa (22/12/2020).

 

HALO SEMARANG – Setidaknya 25 lapak pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Sekaran Raya, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, dibongkar oleh petugas Satpol PP Kota Semarang, Selasa (22/12/2020).

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, keberadaan lapak-lapak tersebut liar dan tidak berizin. Selain itu lapak membuat kesan kumuh di sepanjang jalur menuju Univeristas Negeri Semarang.

“Ini arah ke Unnes. Semua orang Indonesia ngerti. Menteri, Presiden, lewat sini. Kalau sepanjang jalan ada PKL kan jadi kumuh,” ujar Fajar.

Fajar melanjutkan, lurah dan camat telah memberi peringatan kepada PKL untuk membongkar lapaknya masing-masing. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada pedagang yang bersedia membongkar lapaknya. Bagi pedagang yang tidak mengindahkan peringatan, Satpol PP langsung bertindak tegas membongkar lapak mereka.

“Setelah kejadian pembongkaran di MAJT. Masyarakat minta semua yang tidak berizin diratakan. Kemarin juga saya disupervisi KPK bahwa Satpol harus tertib. Ke depan, kami akan lakukan penertiban bagi yang tak berizin,” paparnya.

Dia mempersilakan warga untuk lapor kepada Satpol PP apabila terdapat bangunan liar tidak berizin. Tak hanya di tengah kota, kawasan pinggir kota juga akan tetap disasar. Hal ini untuk menjaga keindahan Kota Semarang.

“Satpol tidak akan turun selama warga tertib. Kalau masyarakat tidak tertib, kami akan lakukan poembongkaran,” tegasnya.

Lurah Sekaran, Eko Slamet Riyanto mengatakan, pihak kelurahan telah memberi peringatan baik lisan maupun tertulis sebanyak tiga kali sejak September lalu. Sebelum Satpol PP bertindak, dia sudah meminta PKL untuk melakukan pembongkaran mandiri.

“PKL memang kurang respon. Ternyata sampai hari H tidak dibongkar. Keberadaan PKL sudah lama sejak sebelum saya menjabat jadi Lurah Sekaran,” jelasnya.

Salah satu pemilik kios PKL, Tri Agung mengaku kecewa adanya pembongkaran tersebut. Namun dia mencoba ikhlas karena pembongkaran ini merupakan keputusan Pemerintah Kota Semarang.

Tri merupakan warga Kalialang, Gunungpati yang berjualan susu rempah dan kerang di lapak tersebut.

Dia telah meminta izin kepada pemilik tanah. Pihak pemilik tanah pun memperbolehkan sepanjang lapak tidak dibangun di bahu jalan.

“Saya mau sewa kios tidak mampu. Saya hubungi pemilik tanah di sini dan diperbolehkan. Akhirnya saya bangun lapak di sini. Modal saja utang, belum bayar sudah ada aturan (pembongkaran),” ungkap Tri di sela-sela pembongkaran.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.