in

Dianggap Jadul, Beatle Mania Kota Semarang Hadir Menyatukan Pecinta The Beatles

Dokumentasi Komunitas Beatle Semarang saat perform sebelum masa pandemi.

 

SEPULUH tahun menghiasi dunia musik dari tahun 1960 hingga 1970, band legendaris The Beatles berhasil “meracuni” penggemar musik dari berbagai belahan negara.

Selama berkarir, The Beatles telah membuat 13 album sejak debutnya tahun 1960. Karya-karyanya dianggap tidak dapat dikalahkan oleh pendatang setelahnya.

Setelah resmi bubar pada tahun 1970, bukannya redup, namun justru karismanya menjadi topik perbincangan bagi para penggemarnya. Mulai tentang diri individu personel maupun karyanya.

Terbukti, tidak hanya para penggemar di masanya, generasi saat ini atau dikenal milenial pun nampak banyak yang gandrung dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan band asal Liverpool ini.

Di Tanah Air, penyuka musik oldies terbilang cukup banyak. Mayoritas penggemarnya lebih condong pada The Beatles atau kerap disebut Beatles Mania.

Wadah bagi penggemar di Kota Semarang mulai muncul pada tahun 2014, meski sebelumnya sudah banyak para penggemar yang belum tergabung dalam komunitas itu.

“Ini sebagai wadah untuk teman-teman yang lebih suka musik oldies khususnya karya The Beatles. Inisiasinya dari band yang menamai Beatles dari Kota Semarang sendiri,” ujar Febrian, salah satu anggota Komunitas Beatle Mania Semarang kepada halosemarang.id, Kamis (22/7/2021).

Pencetus wadah pecinta band yang digawangi John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringgo Star ini adalah band Beatle yang kerap membawakan lagu dari The Beatles dalam setiap penampilannya.

Febrian menuturkan, mayoritas penggemar yang tergabung adalah anak muda yaitu mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Lumpia. Latar belakang dari anggota yang tergabung bermacam-macam. Mulai dari pengaruh orang tuanya hingga terinspirasi dari karya.

“Saya suka The Beatles pengaruh orang tua saya, dari kecil saya dengerin lagu ketika ayah saya memutar kaset pita di tape,” tutur pria yang masih tercatat aktif sebagai mahasiswa Universitas Semarang ini.

Beragam kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini sebelum krisis kesehatan, seperti pertemuan rutin sampai manggung di berbagai event.

“Seringkali dalam tiap tahun kami bisa mengadakan acara Lennon Day pada bulan Oktober di hari lahirnya dan Desember pada kematian Jhon Lennon. Juga tiap satu bulan pada minggu pertama kami selalu mengadakan Beatles Night di Kafe Kopi Pas,” kenang mahasiswa yang sambil kerja di perusahaan ritel di Kota Semarang ini.

Ratusan orang tercatat menjadi anggota Komunitas Beatle Mania Kota Semarang. Terdapat 25 orang anggota yang aktif sebagai pengurus harian. 80 persen di antaranya adalah kalangan anak muda.

“Anggota hampir 500 orang. Namun yang aktif mengurus hanya 20 orang dari lintas kampus,” kata Febrian.

Di tengah era modernisasi, baginya, lirik lagu yang diciptakan seluruh personel The Beatles ini memantik ide-ide yang tidak keluar menjadi berkembang, bahkan mendorong untuk maju.

“Kita masih sering dianggap jadul, kalau kami suka karena orisinilnya, dan liriknya itu revolusioner sampai sekarang. Tapi kita juga dianggap unik, karena masih suka musik oldies. Bukan berarti kami tidak mengapresiasi musik sekarang,” tandas pria yang hobi menggebuk drum itu.(HS)

Share This

300 Bungkus Daging Kurban Disalurkan Yayasan CDK

Stok Darah PMI Kendal Hampir Habis