in

Dialog Empat Pilar Tangkal Radikalisme di Solo, Generasi Milineal Harus Diselamatkan

Dialog 4 Pilar Kebangsaan bersama Kepala Badan Kesbangpol M Haerudin dan Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi di Surakarta.(foto: dprd.jatengprov.go.id)

 

HALO SURAKARTA – Generasi milineal dan mahasiswa harus diselamatkan dan dicegah agar tidak terpapar paham radikalisme dan terorisme. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyemaikan toleransi, dengan menghayati dan mengamalkan Pancasila, dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu mengemuka dalam “Dialog Empat Pilar : Menangkal Radikalisme Tingkatkan Nasionalisme”, Sabtu (12/3/2022) di Surakarta. Hadir tiga narasumber dalam kegiatan itu, masing-masing anggota Komisi A DPRD Jateng Muhammad Yunus, Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik (Kesbangpol) Jateng M Haerudin, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr Masrukhi.

Ketiganya sepakat radikalisme yang bersifat intoleransi, eksklusivitas, fanatisme dari kepentingan pribadi maupun golongan, untuk tidak berkembang di Indonesia.

Yunus menyatakan, saat ini yang harus dilakukan adalah menghadirkan semangat toleransi, saling menghargai, menghormati pendapat. Kesemua itu ada dalam Pancasila. Karena itulah pentingnya mengamalkan serta mengenalkan kepada generasi milenial.

Namun demikian, dia secara pribadi tidak sependapat dengan pengertian radikalisme yang disematkan pada salah satu agama, kelompok atau perorangan. Yunus menegaskan radikalisme tidak ditujukan pada satu agama tertentu.

“Ini (radikalisme) yang harus diluruskan. Bukan karena beda pendapat, bersikap kritis, lantas dicap radikal. Saya sepakat supaya tidak ada pemaksaan kehendak memunculkan intoleransi, eksklusivitas, fanatisme,” kata dia, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id.

Haerudin mengatakan, pentingnya toleransi hadir di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Badan Kesbangpol membuat program-program yang bertujuan untuk menghadirkan Pancasila dalam sendi kehidupan. Salah satunya penguatan toleransi dengan bekerja sama dengan forum komunikasi umat beragama (FKUB), Kemenang bentuk desa desa kerukunan, desa damai.

Sementara dari sisi perguruan tinggi, Prof Masrukhi mengakui dinamisasi kehidupan di kampus begitu terasa. Dengan adanya temuan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang menyebut perguruan tinggi bisa rentan menjadi tempat penyemaian radikalisme tidaklah salah.

“Mahasiswa banyak bersinggungan dengan dunia luar termasuk melalui media sosial. Interaksi itu menjadi pintu masuknya paham-paham salah satunya radikalisme. Pentingnya penguatan Pancasila dalam perkuliahan serta organisasi di kampung perlu dilakukan. Wawasan kebangsaan harus dikuatkan,” katanya. (HS-08)

Perempuan Miliki Kekuatan Bangkitkan Perekonomian

Sempat Vakum Enam Tahun, Sumber Raya Cup 2 Obati Rasa Rindu Penggemar Lomba Kicau Burung