in

Mengenal Komunitas Kreator TGC Semarang, di Ultah Pertamanya Ingin Makin Eksis dan Jadi Hiburan Alternatif

Ilustrasi foto: Personil Komunitas Kreator Tanjakan Gombel Channel (TGC) baru-baru ini, merayakan ulang tahun yang pertamanya.

DI ZAMAN yang serba digital ini sampai ke pelosok negeri membuat orang lebih mudah untuk akrab dengan teknologi, salah-satunya menjadi konten kreator di youtube atau tiktok. Seperti yang ditekuni oleh Komunitas Kreator Digital Tanjakan Gombel Channel (TGC) asal Semarang ini, yang pada tanggal 2 Agustus 2022 berulang tahun yang pertama. Selama satu tahun berkreasi, sejumlah konten yang lucu dan menghibur disajikan untuk penggemarnya. TGC dapat disaksikan lewat kanal Youtube: Tanjakan Gombel Channel.

TGC adalah komunitas dari warga Gombel Lama RT 3/RW 4, Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik, Kota Semarang yang secara produktif telah konsisten memuat tayangan komedi situasi berbahasa Jawa yang mereka sebut sebagai ‘dagelan Semarangan’.

Mereka terbentuk berawal sejak masa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir ini yang berdampak pada ekonomi warga. Namun dengan kegigihan dan motivasi yang tinggi, berusaha menghasilkan karya-karya terbaiknya secara produktif dan konsisten.

Hingga kurun waktu satu tahun ini, kanal YouTube Tanjakan Gombel Channel (TGC) telah memproduksi 51 episode sitkom beserta konten-konten lainnya dalam tajuk Sketsa Lucu dan Dagelan Lucu, dan telah memiliki lebih dari 2000 subscribers.

Digawangi oleh Aris Virgiyanto, sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, TGC menampilkan berbagai penokohan warga Gombel Lama. Di antaranya adalah Mbah Bedjo yang diperankan oleh Arlam sebagai orang terpandang di kampungnya yang berkarakter galak, namun sekaligus selalu menjadi korban. Lek To yang diperankan oleh Totok sebagai warga yang polos dan selalu menjadi bahan rundungan, lalu Lek Mar yang diperankan oleh Maryono sebagai tokoh sok bijak namun suka merundung, beserta tokoh-tokoh lainnya.

Dalam ulang tahunnya yang pertama ini, Tanjakan Gombel Channel (TGC) berusaha tetap eksis dengan berusaha mengumpulkan dukungan secara swadaya dengan dibantu oleh WeaveLine Production sebagai mitra dalam manajemen bisnis dan pemasaran.

TGC berharap, konten-konten kreatif yang mereka produksi dapat memberikan alternatif hiburan khas Semarangan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya, untuk kemudian di masa mendatang dapat dinikmati pula oleh masyarakat seluruh Indonesia.

Dikatakan Aris, pemilihan lokasi syuting untuk konten vidoenya mengambil lokasi sekitar Gombel Lama, dan sekitar Ungaran, Kabupaten Semarang. Alasannya, mengekplor kawasan Gombel Lama di tempat lahirnya. Selain itu, dirinya ingin melunturkan image Gombel Lama yang dikesan sebagai daerah “angker” di Kota Semarang.

“Kenapa komunitas ini dinamakan Tanjakan Gombel Channel, ingin menunjukan kepada masyarakat kalau daerah Gombel yang memang sering terjadi kecelakaan itu kebetulan saja. Justru dengan adanya konten TGC yang dengan ciri khas dagelan Semarangan ini, kesan angker di Gombel Lama akan luntur,” kata Aris kepada Halosemarang.id, saat dihubungi, Jumat (5/8/2022).

Menurut Aris, di Gombel Lama, sebenarnya ada beberapa tempat yang dikenal masyarakat untuk tempat adu nyali, seperti Sky Garden. Lalu tempat mistis lainnya di wilayahnya yakni Sendang Wewe, dan Sendang Nganten, yang sumber airnya juga sampai kini masih dipakai masyarakat.

“Selama ini lokasi tersebut belum banyak orang yang mengetahui, karena lokasinya di dalam, sedangkan Sendang Nganten sedikit nampak dari tepi jalan, jika melewati Tanjakan Gombel Lama,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, TGC akan membuat konten di Lokasi sendang tersebut.

“Jadi konten komedi bukan mengangkat yang mistisnya, karena memang sering di dua sendang itu ada yang datang memiliki niat tertentu. Sekaligus eksplor di sendang itu, karena tidak semua orang tahu sendang itu,” kata, alumnus D3 Menejemen Ekonomi, USM ini.

Dijelaskannya, selama ini tidak ada kendala untuk membuat konten di Youtube. Bahkan, dirinya bersyukur karena konten yang dibuatnya, kini telah dimoneteis Youtube, namun hal ini tidak membuat TGC merasa puas.

Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana membuat konten yang bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar sekaligus bisa membuat masyarakat terhibur.

“Yang penting berkarya dulu, dan kerja dulu. Dan bisa menjadi kebanggaan warga Kota Semarang. Kenapa di daerah lain konten kreator lebih berkembang dan eksis, karena mereka konsisten membuat konten. Saat ini kami ingin menunjukkan eksistensi dulu, dengan properti yang kami miliki,” terangnya.

TGC, lanjut Aris, tidak ada kendala saat memproduksi konten hiburan.

“Meski dengan keterbatasan properti, tak membuat kami surut untuk berkarya, yang terpenting bagi kami adalah bisa makin eksis dan menghasilkan karya demi karya, karena sebuah karya tidak bisa digantikan oleh materi. Karena banyak orang yang bermimpi ingin menjadi youtuber tapi tidak diimbagi dengan konsisten dengan adanya karya, tidak akan berhasil. Menurut saya, yang penting karya dulu yang dihasilkan, baru nanti materi atau penghasilan akan mengikutinya, “pungkas Aris. (HS-06)

 

Wali Kota Semarang Tekankan Gotong Royong Jadi Kunci Transformasi

PMI Gelar Bulan Dana, Bupati Rembang : Bukan Yayasan Abal-abal