in

Di Tengah Suhu Panas, Petugas Haji Indonesia Bantu Jemaah Menyeberang Jalan

Petugas haji membantu jemaah menyebrang jalan. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Waktu baru menunjukkan pukul 09.00 Waktu Arab Saudi (WAS) ketika bus yang mengangkut jemaah haji Indonesia, tiba di Makkah, dari Masjidil Haram.

Jemaah haji yang baru keluar dari bus itu pun, bergegas berkumpul di trotoar dan bersiap menyeberang jalan. Walaupun terhitung masih pagi, namun suhu udara di tempat itu sudah mencapai 37 derajat Celsius.

Melihat rombongan tersebut, dia petugas haji yang mengenakan rompi hijau terang, bergegas menghampiri, sembari membawa penanda berhenti bertuliskan “STOP” merah. Mereka pun memandu jemaah yang hendak menyeberang jalan dengan arus kendaraan yang tidak terlalu padat itu.

Setelah dipastikan relatif lengang, kedua petugas tersebut perlahan berjalan menjaga jemaah yang bergegas menyeberang jalan hingga berhasil menepi di Halte Mahbaz Jin 79, Mekkah, Arab Saudi.

Jalur penyeberangan jemaah yang hendak dan pulang dari Masjidil Haram tersebut berada di Kawasan Mahbaz Jin tempat hotel-hotel di mana sejumlah  jemaah umumnya berasal dari Embarkasi Surabaya menginap.

Novianto Hakim, petugas haji bidang transportasi yang membantu jemaah menyeberang, mengatakan sejak pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS), dia bersama 5 petugas lainnya sudah siaga.

Pembagiannya, 2 orang yang membantu menyeberangkan jemaah ke trotoar tengah, dua lagi menunggu di trotoar tengah lalu menyeberangkan ke sisi jalan lainnya, sementara dua laginya bergilir berteduh di halte, pola tersebut dilakukan agar setiap petugas berkesempatan berteduh dari sengatan Matahari.

“Tugas kami, pertama, mengatur dan membantu menyeberangkan semata untuk keselamatan jemaah, intinya itu. Kedua, mengarahkan jemaah ke Bus Shalawat dengan selamat, karena kawasan ini paling ramai, jemaah beberapa negara kumpul di sini,”ujar  Novianto, Sabtu (18/06/2022).

“Saat ini masih relatif tidak padat, puncaknya nanti mulai pukul 14.00 hingga sore hari, kita berupaya bukan hanya menyeberangkan saja, tapi bagaimana mereka sampai di bus dengan selamat, karena berdesakan dengan jemaah negara lain,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Kawasan Mahbaz Jin dihuni jemaah dari berbagai negara. Kebijakan Pemerintah Arab Saudi seluruh bus shalawat yang melintas di jalur ini digunakan oleh seluruh jemaah dari berbagai negara, tidak hanya dari Indonesia.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka melengkapi dirinya dengan alat pelindung diri, berupa topi, kain surban yang melilit dan menutup wajahnya, sehingga tersisa lubang untuk kedua matanya, kaca mata hitam, dan tongkat lampu berwarna merah.

Di halte yang menjadi tempat berteduh kala tidak ada jemaah  yang menyeberang, tersedia termos berwarna merah berisi pecahan es yang digunakan untuk membasahi kain surbannya, dan bisa menawarkan rasa suhu panas karena cuaca.

Novianto bersama rekannya sepakat, perlu ada penambahan personel terutama untuk membantu jemaah yang sudah tua.

“Nanti kalau sudah ramai, kita butuh banyak petugas, kalau ada kursi roda,  kita bantu jemaah yang sudah tua menyeberang,” katanya.

Keenam petugas haji tersebut bertugas selama 12 jam, tim yang menggantikannya nanti sama bertugas selama 12 jam. “Kita bertugas 2 shift, masing-masing shift bertugas selama 12 jam,” ujar Novianto.

Mendapat pelayanan tersebut, Slamet Priyanto (54) dan istrinya Pujiati (47), warga asal Deket, Lamongan, Jawa Timur yang tinggal di Hotel Sofwat Albayt di Mahbaz Jin, mengaku sangat terbantu atas keberadaan petugas tersebut saat menyeberang jalan.

“Sangat terbantu dengan pertolongan petugas. Kami susah nyeberang sendiri, laju mobilnya kencang, dan cuaca panas,” kata Slamet.

Jemaah bernama Tasnah (63) asal  dan Tuminanik (58) asal Mantub, Lamongan senada menyampaikan.

“Grogi kalau menyeberang, cuaca panas. Jadi sangat terbantu oleh petugas yang menyeberangkan jalan,” ujarnya yang baru datang dari Masjidil Haram saat ditemui Media Center Haji (MCH).

Sasmito Titik (55) asal Kedaton, Kapas, Bojonegoro, Jatim juga mengatakan, ia merasa lebih aman kalau dibantu diseberangkan.

“Di jalan,  kendaraan banyak dan melaju kencang. Sebagian jemaah kan dari desa, nggak terbiasa hidup di kota besar. Nggak biasa nyeberang jalan besar,” kata Sasmito.

“Susah sekali kalau menyeberang sendiri, kalau tidak dibantu petugas. Alhamdulillah, pemerintah dalam hal ini panitia penyelenggara haji kita memperhatikan sekali ini. Ini kelihatannya sepele, tapi sangat bermanfaat untuk kami,” ujar Sasmito. (HS-08)

Buka Gebyar PAUD 2022, Istri Bupati Blora Dorong Pencegahan Stunting

Peringati HUT Bhayangkara Ke-76, Polres Klaten Gelar Olahraga Bersama