Di Tengah Pandemi Covid-19, Warga Percantik Perumahan Pepabri Borokulon

Dengan tetap mengenakan masker, warga Perumahan Pepabri RW V Kelurahan Borokulon Kecamatan Banyuurip mengurus kebun mereka. (Foto: capture Youtube)

 

HALO PURWOREJO – Pandemi Covid-19 tak menghalangi warga Perumahan Pepabri RW V Kelurahan Borokulon Kecamatan Banyuurip, untuk berkreasi.

Di lahan sempit yang tersisa di rumah masing-masing, mereka bertanam sayuran dan buah-buahan. Ruas-ruas jalan, dinding pagar, serta lorong gang pun dicat warna-warni dengan sentuhan seni mural. Mereka juga melakukan upaya untuk mencegah Covid-19 meluas, melalui program Jogo Tonggo.

Setelah diunggah oleh beberapa akun Youtube, kampung ini pun viral di dunia maya. Warga dari luar perumahan pun datang untuk membeli aneka sayuran yang dibudidaya. Ada pula yang sekadar melihat-lihat dan berswafoto.

Tri Budiyono, Ketua RW V Perum Pepabri, Jumat (6/11) mengatakan wilayah RW V terdiri atas tujuh RT dengan jumlah penduduk sekitar 281 kepala keluarga (KK).

Upaya menciptakan suasana asri di sana telah berlangsung cukup lama, dan mulai intens sejak delapan bulan terakhir. Atas kesepakatan warga, mereka menamakan wilayahnya sebagai Kampung Bhinneka .

Antusias warga pun menguat saat kompleks RW V dipercaya maju, mewakili Kecamatan Banyuurip dalam Lomba Kampung Cantik Tahun 2020 Tingkat Kabupaten Purworejo belum lama ini.

Wilayah RW V yang memiliki inovasi penanganan Covid-19, juga ditunjuk menjadi salah satu peserta Lomba Jogo Tonggo Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Pekan kemarin sudah dinilai dalam Lomba Kampung Cantik. Harapannya, karena sudah diajukan lomba, ya ingin juara 1. Sehingga warga lebih termotivasi untuk mengembangkan lagi, dan menjadi tujuan wisatawan, minimal lokal Purworejo,” kata dia.

Tri menjelaskan, Kawasan Kampung Cantik di sana, terdiri dari dua kawasan rintisan. Dua kawasan percobaan, dan tiga kawasan percontohan. Potensi yang menjadi unggulan, antara lain tanaman organik dan anorganik, budidaya ikan, serta bank sampah.

Koordinator pelaksanaan program Kampung Cantik yakni masing-masing kepala RT. Dan didukung ibu-ibu yang tergabung dalam PKK, Dasawisma, dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Antusias warga luar biasa. Pembuatan Kampung Cantik ini menggunakan swadaya orang pribadi dan kas masing-masing RT. Setiap Ketua RT menjadi penggerak dan kami beri kewenangan terkait penggalian dana,” jelasnya.

Menurut Ketua KWT Anggrek Asri, Choirunnisa, keterbatasan lahan tidak menjadi hambatan. KWT melalui kader-kadernya telah banyak memberi edukasi dan pembekalan, sehingga hampir seluruh KK mampu memanfaatkan setiap sudut pekarangannya.

“Kami memanfaatkan lahan yang terbatas untuk budidaya aneka sayuran, buah, atau tanaman obat keluarga. Dan ini sangat bermanfaat, khususnya saat pandemi seperti ini. Contohnya, sayuran untuk warga yang menjaga posko Covid-19 di kampung kami, juga berasal dari kebun sendiri,” imbuhnya.

Choirunissa meungkapkan, kesadaran dan sinergitas warga menjadi kunci mewujudkan Kampung Cantik. Apalagi, di RW V telah berjalan sejumlah sistem pengelolaan lingkungan, antara lain bank sampah, pengolahan limbah plastik menjadi produk kerajinan, kelompok pembudidaya ikan, dan kelompok pemasaran ikan. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.