Di Sleman, Ada Kawasan Geoheritage yang Berdampingan dengan Kawasan Perumahan

Tim verifikasi ketika melakukan pemetaan di kawasan Bukit Pandawa, Sleman.(dok)

 

HALO SEMARANG – Gunung Wungkal atau yang lebih dikenal dengan Bukit Pandawa Sleman akan menjadi kawasan geoheritage (warisan geologi) paling unik.

Warisan geologi yang tiada duanya itu secara kebetulan berada di dalam kompleks perumahan bersubsidi Godean Jogja Hills (GJH) di Dusun Jering Sidorejo, Kabupaten Sleman, DIY.

Sebelumnya, daerah ini merupakan kawasan perbukitan sangat sepi, meski lokasinya tidak jauh dari kota. Bukit Pandawa dipastikan masuk dalam daftar 20 kawasan geoheritage di DIY.

Tim verifikasi Kawasan Cagar Alam Geologi dan Warisan Geologi DIY menginformasikan, surat keputusan ini sudah diketok pemerintah pusat, dan segera diserahterimakan kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

‘’Serah terima itu direncanakan pada 22 Maret. Karena itu, kami ke lapangan untuk melakukan pemetaan zona,’’ ujar Dr C Prasetyadi yang memimpin rombongan tim verifikasi Kawasan Cagar Alam Geologi dan Warisan Geologi DIY ke Gunung Wungkal atau Bukit Pandawa, Rabu (17/3/2021).

Ikut hadir Guru Besar sekaligus Peneliti Senior Geologi UPN, Prof Bambang Pratistho, beserta perwakilan dari instansi terkait Pemda DIY dan Sleman.

Pemetaan dilakukan setelah ditetapkannya Gunung Wungkal sebagai titik geoheritage oleh pemerintah pusat melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam pertemuan singkat dengan Direktur Utama PT Dewi Sri Sejati selaku pemilik kawasan, Prasetyadi menyatakan pentingnya penetapan zonasi untuk kawasan warisan geologi.

Dengan penetapan zonasi ini, semua pihak ke depan diharapkan bisa lebih memahami dan bersama-sama menjaga kawasan geoheritage sebagai salah satu pusaka bumi.

‘’Kawasan ini sudah diakui oleh negara. Ada enam titik yang ditetapkan pemerintah sebagai pusaka bumi. Pemerintah hanya menetapkan titiknya saja. Kawasan penyangga dan pemanfaatannya diserahkan kepada kita orang lokal, yakni Pemda DIY dan Pemkab Sleman,’’ jelas Prasetyadi.

Tim berkoordinasi dengan pemilik lahan dan warga. Tim ahli sangat berterima kasih kepada Alim Sugiantoro selaku pemilik lahan yang sudah berinisiatif menjaga enam titik.

Sudah ada usaha untuk mengamankan dengan membuat pagar-pagar pengaman agar titik-titik pusaka bumi tidak diganggu untuk kepentingan lain, meski berada di dalam kawasan perumahan.

Sebagaimana lazimnya kawasan geoheritage, Gunung Wungkal atau Bukit Pandawa seharusnya memiliki zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan.

Enam titik yang ditunjuk pemerintah dan perbukitannya ditetapkan sebagai zona inti. Sementara kawasan taman dan sebagian ruas jalan di pinggir Bukit Pandawa direncanakan sebagai kawasan penyangga.

Untuk zona pengembangan, dimungkinkan akan mencakup kawasan-kawasan di sekitarnya dengan keterlibatan masyarakat lebih luas, termasuk akses kepariwisataan.

‘’Ini baru tahap rembugan awal dulu. Kira-kira pemetaannya seperti itu. Detailnya nanti kita bicarakan lagi bersama pemda dan pemilik lahan. Jangan sampai penetapan geoheritage ini merugikan pemilik lahan yang sudah rela dan berkontribusi bagi lahirnya kekayaan geologi ini,’’ ungkap Prasetyadi.

‘’Pertanyaannya, apakah kalau ditetapkan sebagai zona inti kemudian pemilik lahan tidak bisa memanfaatkan untuk kepentingan umum? Tentu bisa. Sepanjang tidak tidak merusak bentangan alamnya. Semisal membuat gazebo-gazebo untuk mendukung pariwisata dan juga aktivitas penelitian. Ini baru awal, peta detailnya kita diskusikan kemudian,’’ papar dosen Geologi UPN Yogyakarta ini.

Prasetyadi mengakui titik geoheritage diketahui setelah kawasan itu dibuka untuk pembangunan perumahan. Zona penyangga nantinya menyesuaikan kondisi yang sudah ada, dan dibuka untuk kawasan permukiman.

‘’Kalau mau dibilang ideal, tentu tidak. Sebab, kawasan ini sudah dibangun perumahan. Dibangun dulu, baru ketahuan sebagai aset geologi yang sangat bagus. Kita cari win-win solution-nya,’’ tegasnya.

Yang penting, lanjut dia, kekayaan geologi ini bisa diselamatkan untuk memberdayakan dan memuliakannya bagi masyarakat. Pihaknya hanya akan mengkonservasi zona inti dan zona penyangga saja.

Prof Bambang Pratistho menambahkan, Bukit Pandawa spesial karena batuan dioritnya berusia sangat tua. Usia batuan diperkirakan 40-an juta tahun.

Dulunya adalah dasar laut. Hal itu terbukti adanya endapan dasar laut dan bagian dari aktivitas gunung api purba.

‘’Batuan di bukit ini sangat penting bagi kita untuk melacak jejak sejarah terbentuknya daratan, khususnya Pulau Jawa. Bukit tersebut harus dilindungi agar jangan sampai ditambang,’’ tuturnya.

Menurut dia, saat ini sudah tertata dan indah. Orang bisa datang ke Gunung Wungkal dalam rangka keilmuan.
Tidak perlu lagi membuat laboratorium karena Bukit Pandawa sudah menjadi laboratorium alam.

Aset yang secara tidak sengaja ditemukan setelah kawasan ini dibuka untuk perumahan.

Direktur Utama PT Dewi Sri Sejati selaku pengembang kawasan permukiman GJH, Alim Sugiantoro, mengaku senang dengan perkembangan yang ada terkait pengajuan Bukit Pandawa sebagai kawasan geoheritage.

Sejak awal menemukan kekayaan alam ini, Alim sudah berkoordinasi dengan tim dari UPN Veteran Yogyakarta untuk mengusulkan Bukit Pandawa sebagai geoheritage di DIY.

‘’Ini menarik, dan saya rasa sangat penting untuk keilmuan. Sayang, kalau sampai hilang. Menurut kawan-kawan di UPN, batuan di sini sangat langka dan unik. Sangat menarik untuk kawan-kawan di kampus yang membidangi geologi,’’ kata Alim.

Dia siap berunding dengan UPN, Pemda DIY, dan Pemkab Sleman untuk memelihara dan memuliakan Bukit Pandawa sebagai salah satu kawasan geoheritage.

‘’Saya akan terbuka dan berkomitmen menjaga kawasan ini sebagai kekayaan alam, demi kepentingan keilmuan dan kepentingan masyarakat banyak,’’ imbuhnya.

Penghuni Godean Jogja Hills juga perlu diajak bicara untuk menentukan zona dan titik yang jelas sehingga semua terakomodasi dengan baik.

Pihaknya bersyukur kalau penetapan sebagai kawasan geoheritage ini bisa mengangkat perumahan bersubsidi itu menjadi kawasan elite.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.