in

Di Semarang, Hipertensi Menempati Peringkat Pertama Penyakit Tidak Menular Paling Berbahaya

Ilustrasi pemeriksaan tekanan darah. (dok/freepik.com).

 

HALO SEMARANG – Penyakit darah tinggi alias hipertensi masih menempati penyakit tidak menular yang paling banyak diderita masyarakat Kota Semarang.

Merujuk data pada portal Sirandu milik Dinas Kesehatan Kota Semarang, sejak awal tahun (1/1/2021) hingga hari ini (15/7/2022), penderita hipertensi tercatat sebanyak 61.950 jiwa. Kasus terbanyak berada di Kecamatan Gayamsari dengan jumlah penderita 4089 jiwa.

Menanggapi hal itu, Dokter umum Yayasan Sosial Soegijapranata Semarang, dr Rudi Purnomo menyebut, terdapat dua faktor utama penyebab seseorang mengidap hipertensi, yakni berdasarkan keturunan dan perilaku (gaya hidup).

“Ada dua faktor besarnya, pertama memang keturunan, ini sudah pasti kena. Kedua faktor perilaku, kalau ini masih bisa dihindari. Tetapi semua penderita hipertensi tetap harus memperhatikan perilaku,” ujar Rudi, Kamis (15/7/2021).

Ia menuturkan, tekanan darah normal pada manusia berada 120 untuk sistolik dan 80 untuk diastolik. Penderita hipertensi dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan dengan tekanan diastolik 90-95, sedang pada tekanan diastolik 85-105, dan berat dengan tekanan diastolik di atas 105.

Kenaikan tekanan darah, sambungnya, biasa terjadi ketika seseorang usai beraktivitas. Kondisi ini akan berangsur normal, apabila istirahat. Namun, hal ini berbeda jika terdapat komplikasi yang mengincar tubuh, di antaranya seperti pecahnya pembuluh darah di ginjal, hati, dan paru-paru.

“Komplikasi yang paling sering terjadi pecahnya pembuluh darah. Dengan bertambahnya usia, pembuluh darah semakin tidak lentur. Kalau pecahnya di tangan itu yang menimbulkan lebam. Yang sangat bahaya kalau pecahnya di otak, itu yang menyebabkan stroke,” tuturnya.

Rudi mengungkapkan, apabila terjadi pecah pembuluh darah pada otak, sudah dipastikan fungsi kendali seluruh aktivitas tidak dapat kembali utuh 100 persen. Bahkan, dapat berujung pada kematian.

“Kalau ada kasus orang meninggal karena jatuh kemudian stroke itu sebenarnya terbalik. Terkena serangan stroke dulu, dampak dari hipertensinya, kemudian jatuh. Mayoritas serangannya di pagi hari karena semua syaraf terangsang untuk bangun,” ungkap dia.

Hal yang menjadi penting diperhatikan, kata Rudi, adalah selalu menjaga pola makan serta rutin melakukan aktivitas olahraga. Sebab, hipertensi tidak hanya menyerang usia lanjut atau lansia saja.

“Pasien yang saya tangani ada yang berusia 20 tahun. Beberapa poin yang perlu diperhatikan yakni tidak merokok, tidak menggunakan narkoba, menjaga pola makan, manajemen stres, dan yang paling penting tetap berolahraga untuk menguatkan otot jantung. Mengingat jantung merupakan organ vital dalam proses memompa darah ke seluruh tubuh,” tukasnya.(HS)

Share This

Evaluasi Kinerja OPD, Komisi C Gelar Raker Dengan Mitra Kerja

Horison Nindya Tawarkan Paket Lunch Box dengan Menu Andalan Saat PPKM Darurat