in

Di Masa Pandemi Covid-19, Layanan Bimbingan dan Konseling Jadi Lebih Optimal

Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Indonesia Prof Dr Muhammad Fahrozin saat menjadi keynote speaker workshop media BK UPGRIS.

 

HALO SEMARANG – Kondisi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai macam perubahan, termasuk salah satunya di ranah pendidikan. Pembelajaran yang awalnya tatap muka (PTM) berubah menjadi pembelajaran daring, dengan berbasis e-learning dan blended learning.

Guru maupun tenaga pengajar lainnya dituntut segera beradaptasi dan bertransformasi menghadapi situasi ini. Seperti dengan kreasi serta inovasi dalam mengembangkan media pembelajaran yang menarik, komunikatif, serta kekinian untuk dapat menjangkau pelayanan bimbingan dan konseling.

Begitupun guru Bimbingan dan Konseling (BK), dalam memberikan layanan kepada siswa tentunya membutuhkan media yang menarik, sehingga siswa menjadi lebih antusias untuk menyimak dan berpartisipasi pada layanan yang diberikan oleh guru BK.

Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru BK untuk menjalankan tugasnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan workshop.

Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar workshop dengan tema penyusunan Media Bimbingan dan Konseling dalam rangka mempersiapkan PTM. Workshop ini digelar selama dua hari, dalam rangkaian Dies Natalis UPGRIS ke-40.

Sebanyak 193 peserta dari unsur guru, dosen, dan mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti kegiatan ini. Tujuan dari kegiatan memfasilitasi guru BK mengasah kemampuannya dalam menyusun media pelayanan baik media grafis maupun audio.

Kegiatan workshop ini juga merupakan bentuk implementasi dari Program Kampus Merdeka, sebab Program Studi BK UPGRIS mendapatkan hibah PKKM. Salah satu kegiatannya ditujukan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun media BK.

Dalam sambutannya Dekan FIP UPGRIS Muniroh Munawar, SPi, MPd menyampaikan, pendidikan merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan. Melalui pendidikan akan mampu melahirkan generasi yang cerdas.

“Generasi yang cerdas dapat diperoleh dari pengupayaan pembelajaran yang dilakukan secara optimal, salah satunya melalui pemanfaatan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Adanya media pembelajaran yang menarik akan mampu meningkatkan pemahaman pada materi yang dipelajari serta akan memantik proses berpikir kritis pada siswa maupun mahasiswa. Harapannya melalui kegiatan ini guru maupun guru BK akan berupaya untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menunjang profesionalismenya dalam menjalankan tugas,” tutur Muniroh.

Sebagai keynote speaker pada workshop media BK adalah Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Indonesia, Prof Dr Muhammad Fahrozin. Ia menjelaskan, guru BK dituntut lebih berperan profesional di masa pandemi Covid-19. Baik melalui PTM maupun PJJ.

“Media BK yang disusun dengan memanfaatkan teknologi dan dekat dengan siswa akan menjadi sarana dalam melakukan layanan BK yang profesional,” kata Fahrozin.

Nara sumber lain Sekretaris Program Studi BK FIP UPGRIS, Agus Setiawan, MPd, Rizki Erdiantoro, SPd Cht dari ruang Bimbingan dan Konseling, Guru BK SMP Negeri 21 Semarang Anden Agung, SPd, serta Alan Hendratna, SPd adalah staff Laboratorium BK UPGRIS.
Agus Setiawan menyampaikan, Microsoft Power Point telah dimanfaatkan dalam penyusunan media BK. Menurutnya, aplikasi tersebut selain memudahkan juga sebagai salah satu alternatif media BK.

“Guru BK sudah mengenal dengan akrab aplikasi tersebut dan hampir seluruh guru BK dapat menggunakannya. Namun ternyata masih banyak hal yang dapat diolah lebih jauh dari media ini untuk dapat membuat media yang menarik,” tutur Agus.

Sementara, Rizki Erdiantoro SPd Cht dari ruang Bimbingan dan Konseling memberikan pelatihan sederhana terkait public speaking kepada guru BK. Dengan keterampilan berbicara di depan publik, harapannya guru BK dapat maksimal dalam pelayanan.

“Pelayanan daring maupun luring akan lebih maskimal ketika guru BK mempunyai keterampilan berbicara di depan publik dengan lebih baik. Pemateri melatihkan beberapa hal yang dapat meningkatkan keterampilan guru BK,” kata Rizqi.

“Diharapkan dari pelatihan memberikan bekal yang cukup bagi akademisi. Sebab, masih banyak guru yang kesulitan dalam membuat perangkat atau media BK. Semoga selama dua hari pelatihan ada hasil yang baik untuk bekal dalam dunia pendidikan di tanah air,” tambah Rizki.(HS)

Share This

Bupati Kendal: Jika Kedapatan Pekerja Tak Patuh Protokol Kesehatan, Proyek Akan Saya Hentikan

Kejar Target Vaksinasi, Pemkot Semarang Tambah Sentra Vaksin