Di Kendal Ternyata Ada Sektor Bisnis yang Tak Terpengaruh Pandemi Corona

Perajin di Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh sedang mencetak batu bata sebelum dibakar.

 

HALO KENDAL – Di tengah pandemi corona yang berpengaruh pada banyak sektor, ternyata tak mempengaruhi bisnis pembuatan batu bata di Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh.

Warga yang mayoritas berprofesi sebagai perajin batu bata di desa tersebut, masih bekerja seperti biasa.

Sedikitnya di desa itu ada 60 tempat pembuatan batu bata masih aktif berproduksi.

Jumro (55), salah seorang pembuat batu bata Tamangede mengaku, selama masa pandemi Covid-19, penjualan batu bata tidak mengalami penurunan. Bahkan saat ini, karena sedang musim kemarau, produksi batu bata mengalami peningkatan.

“Pembuatan batu bata memang tergantung dengan kondisi cuaca, karena untuk pengeringan tergantung dengan panas matahari,” kata Jumro, Kamis (13/8/2020).

Dijelaskan, jika musim hujan biasanya dua bulan sekali bisa melakukan pembakaran, namun saat musim kemarau pembakaran bisa dilakukan satu bulan sekali.

“Sekali pembakaran sekitar 50 sampai 60 ribu batu bata. Biasanya sehari setelah pembakaran sudah ada pembeli datang sendiri di sini,” terangnya.

“Satu biji batu bata produksi dibanderol Rp 500 – Rp 520. Saat ini, harga batu bata merah masih tinggi Rp 520 perbiji,” kata Jumro.

Memanfaatkan panas matahari yang bagus, keempat pekerjanya bisa mencetak 1000-2500 biji dalam sehari.
“Ini sudah 40 ribu lebih yang mentah, kira-kira kalau sudah mencapai 60 ribu biji, kami bakar,” tambah Jumro.

Biasanya, proses pengeringan memerlukan waktu 4-7 hari agar siap dibakar.

Pembakarannya pun masih menggunakan metode manual, dengan menggunakan sekam dan kayu. Dalam setiap pembakaran butuh waktu 1 hari 1 malam agar batu batanya benar-benar matang.

“Kalau saatnya bakar, biasanya sekali bakar menghabiskan 2,5 kol kayu,” tandasnya.

Senada diungkapkan pembuat batu bata lainnya, Busro. Dirinya juga mengaku bahwa batu bata yang dibuatnya selalu habis terjual, karena sudah ada yang pesan.

“Di tempat kami pembuatan batu bata bisa memproduksi sekitar 60 ribu sampai 80 ribu biji per bulan,” ujarnya.

Namun jika musim hujan kadang hanya bisa memproduksi sekitar 20 ribu batu bata per bulan, karena kendala cuaca, bahkan sampai dua bulan baru bisa melakukan pembakaran.

Busro menambahkan, saat ini yang menjadi kendala adalah semakin sulitnya mencari tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata.

“Tanah sawah sebagai bahan baku untuk membuat batu bata itu belinya agak sulit, karena diambil terus, sehingga cadangan makin berkurang. Padahal tanah yang digunakan merupakan tanah khusus,” imbuhnya.

Banyaknya pembangunan menjadikan batu bata banyak dicari. Pembeli batu bata tidak hanya dari wilayah Kabupaten Kendal, tapi ada juga pembeli dari daerah sekitar, seperti Batang, Pekalongan, dan Semarang.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.