in

Di Atas Pandemi Ada Cinta

Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng.

 

SEJAK musim pandemi Covid-19 (corona) semua pernah mengalami penat, letih, jenuh dan uring-uringan, gampang sensi dan acap bikin kita gundah meski tak sampai level gusar. Berteriak, menggerutu, membabibuta menyalahkan orang lain dan pemerintah tak cukup menyantuni bagi meredanya corona.

Apalah bedanya kita dengan orang-orang ngeyel, mbalelo, sak karepe dhewe menghadapi corona, kala kita tetap saja merawat sikap dan perilaku kontraproduktif itu.

Sedari kecil bahkan semenjak dari rahim kita selalu diedukasi soal bukit kebaikan, termasuk mesti bersikap dan berlaku baik terhadap orang-orang yang tak sengaja berbuat ketidakbaikan, atau sengaja mendiskualifikasi kebaikan.

Tak penting kita mem-bully, mengucilkan, mengerdilkan dan memberi stumpuk stigma negative kepada orang-orang yang kebetulan sedang diuji dengan panyakit corona. Janganlah pelit dengan kekayaan kita hanya untuk sebungkus nasi putih atau sekadar segelas air. Sudah bukan zamannya kita hanya cakap memuja harta apalagi kuasa demi nafsu dunia.

Di luar sana, masih banyak sudara kita yang merintih, tidak bisa makan, tak mampu membayar obat, tidak kuasa menyekolahkan anaknya, tak berdaya dengan rentenir maupun petani kita yang kerap dipermainkan harga, apalagi sekarang ini tak sedikit warga kita yang sedang berjuang membebaskan diri dan keluarganya dengan isoman maupun isoter.

Pandemi Covid-19 ada di mana-mana, selaksa festival yang memedihkan. Di saat sedang terpuruk, dilanda kemurungan terdalam karena himpitan pandemi semestinya tidak lantas membawa kita nglokro, pesimistis dan pasrah. Kita wajib berikhtiar. Di dunia ini kala ada derita di sana ada sukacita, saat ada gelap pastikan terbit terang, ketika merasa gagal kita pastikan tersembunyi sukses yang terbuka, dan sebagainya.

Suka tak suka, pandemi merangsek kota hingga desa. Pada area pedesaan, rupanya tidaklah seheboh dengan warga kota dalam menyikapi pandemi. Masyarakat desa nampak jauh lebih tenang, bijaksana dan dewasa. Karena mereka sudah terdidik dengan hidup yang tidak selalu mulus alias kerap menemui jalan terjal.

Kita bisa belajar dari warga desa dengan segenap kearifannya saat pandemi merajalela. Meskipun kini tren angka Covid-19 di berbagai daerah maupun desa menurun, bukan lantas kita lengah, tapi harus tetap waspada dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker) +1M (manut) pemerintah.

Di belahan desa di negeri ini, kita patut bangga dengan kiprah desa dalam menangani pandemi Covid-19. Sekurangnya ada empat kebesaran cinta yang terbit kala pandemi memporakporandakan sejumlah harapan rakyat.

Pertama, munculnya kepedulian baru. Di sini saat Covid-19 menerjang. Di berbagai aras desa lahir secara sadar maupun spontan aksi-aksi kepedulian yang jauh sebelumnya sudah mengakar di masyarakat desa. Misalnya, membantu biaya tes covid warga, memberi makanan kepada warga sioman covid, memberi pinjaman modal usaha kecil-kecilan bagi tetangga, membeli jajan pada warung tetangga atau gotong royong mengurus dan membiayai pendidikan anak-anak yang ditinggal orang tuanya yang terkena Covid-19, atau tidak merebut jatah BLT, dll.

Kedua, terbitnya pengetahuan baru bagi warga desa. Pandemi Covid-19 baru pertama terjadi dalam seumuran kita, maka hal itu menjadi pengaetahuan dan wawasan baru bagi penduduk desa. Termasuk pengetahuan tentang Covid-19, gejala, penanganan dini, isolasi, vaksinasi hingga pengajuan berbagai syarat untuk mendapatkan bantuan terdampak pandemi, dan sebagainya. Pada situasi seperti ini masyarakat desa bisa menjadi guru, penyuluh, duta Covid-19 bagi warga lainnya. Inilah transfer pengetahuan, keterampilan hingga sikap yang layak digelorakan.

Ketiga, masifnya bisnis baru di pedesaan. Seperti yang sering kita dengar dari orang-orang bijak, selalu ada hikmah di balik kesulitan. Sekali lagi, pandemi meruntuhkan segalanya, tapi sebagai orang desa pun tak mau berpangku tangan dengan hanya njagakke ndog-e blorok alias bergantung uluran tangan pihak lain. BUMDes pun bisa mengambil peran baru untuk menegakkan ekonomi desa saat paceklik masa pandemi dengan menggandeng korporat untuk menggelontorkan CSR-nya ke desa-desa, misalnya menyediakan bibit lokal karena kaum muda mulai kembali pada hasil holtikultura organik.

Menghidupkan Desa

Maka kemudian, mesu budi dengan melakukan bisnis atau usaha produktif yang sekurangnya mampu menopang dapur tetap ngebul, seperti usaha hidroponik, membuka kuliner murah, membuat masker, memanfaatkan ruas ekonomi digital lewat bisnis on line sebagai reseller atau dropshipper, dan sebagainya. Melalu kegiatan produktif ini bisa menekan beban psikologis dan menutup ekonomi keluarga bahkan bisa saving.

Terakhir, pandemi pun memberikan perspektif atau perubahan baru pada masyarakat desa. Jika sebelumnya sudah baik, tapi lewat agresi Covid-19 ini sekurangnya masyarakat mulai sadar betul pentingnya menjaga kesehatan. Seperti disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan air mengalir, serta satu lagi, mereka tambah manut.

Hal baru lain, ditandai dengan antusiasme warga desa ikut vaksinasi bahkan rela antre berjam-jam demi diri dan keluarganya bisa bebas dari Covid-19. Secara sadar pun mereka ketika mengalami gejala cepat-cepat ke Puskesmas atau klinik untuk tes covid, menaati PPKM dari pemerintah.

Terpenting lainnya, pandemi ini membawa warga pedesaan lebih membudayakan budaya dan atau pola hidup bersih dan sehat. Gerakan masyarakat hidup sehat (germas) dan gotong royong menjaga kesehatan lingkungan menjadi kerinduan yang terjada di domain desa. Semoga itu semua dilakukan secara konsisten dan kontinyu, dengan atau tanpa pandemi.

Itulah kemudian, sekurangnya membawa pembangunan desa harus dilihat sebagai upaya menyehatkan dan mensejahterakan rakyat. Dalam relasi ini desa mesti melepas kacamata kudanya, sebab sumberdaya ada di desa, dengan demikian produksi pengetahuan di desa harus melampaui kala kota dihantam krisis.

Dalam penyadaran dan permenungan kita, selama ini desa sekadar untuk hidup, sudah saatnya kita menghidupkan desa (dengan cinta). Desa adalah sekolah kehidupan sesungguhnya.(HS)

Penulis: Marjono, Eksponen Pendamping Desa Miskin Indonesia dan Penulis Lepas.(HS)

Share This

Digitalisasi Bisnis Properti, Dongkrak Penjualan PT Dafam Property Indonesia Tbk (“DFAM”)

Kebakaran Pabrik Mabel di Tembalang, Kerugian Ditaksir Puluhan Miliar