Dewan Minta Masyarakat Minimalisir Penggunaan Uang Tunai

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim.

 

HALO SEMARANG – Kalangan DPRD Kota Semarang berharap masyarakat untuk sementara meminimalisir penggunaan uang tunai saat bertransaksi. Hal itu untuk mencegah penularan virus corona di Kota Semarang.

“Kami berharap untuk sementara masyarakat meminimalisir penggunaan uang tunai. Kami sarankan kalau bisa, menggunakan transaksi nontunai dulu. Tapi kalau memang tidak bisa, baru menggunakan uang tunai. Ini dimaksudkan untuk mencegah penularan virus corona,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim menanggapi persoalan mewabahnya virus corona di Kota Semarang, Kamis (19/3/2020).

- Advertisement -

Dikatakan, penggunaan uang tunai memang rentan menularkan virus yang berasal dari Wuhan, China ini. Dikarenakan dalam sehari, uang kertas maupun koin, bisa berpindah tangan ke beberapa orang dengan cepat, tanpa bisa diketahui jejak transaksinya.

Meminimalisir penggunaan uang tunai, katanya, bukan berarti masyarakat tak boleh menggunakannya.

“Selain itu kami juga berharap masyarakat membiasakan mengkonsumsi makanan yang dimasak sendiri, dan meminimalisir jajan di luar. Selain untuk menjaga gizi makanan, juga mencegah penularan virus dari makanan yang dijajakan,” tegasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi juga menekankan beberapa hal untuk mencegah penularan corona di Kota Semarang. Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu menekankan pentingnya menghindari kontak fisik untuk sementara waktu, mencuci tangan sesering mungkin, serta segera memeriksakan diri dan menggunakan masker bila merasa sedang tidak sehat.

Dirinya juga berharap masyarakat memaksimalkan alat pembayaran non-tunai dalam melakukan transaski jual beli.
Hendi mengungkapkan, imbauan tersebut merupakan langkah preventif yang diharapkan mampu meminimalisir potensi penyebaran corona.

“Pemerintah Kota Semarang terus merinci sedetail mungkin hal-hal yang dirasa berpotensi sebagai media penyebaran virus, ini untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Pertukaran uang tunai bisa berpotensi, maka melakukan transaksi dengan instrument pembayaran nontunai menjadi sikap bijak yang bisa dilakukan bersama,” jelas Hendi.

“Partisipasi publik menjadi faktor utama di sejumlah negara yang sukses menekan potensi penyebaran virus corona, hal itu yang saya dorong terus,” tambahnya.

Sebagai informasi, pasien positif COVID-19 di Jawa Tengah yang meninggal kembali bertambah menjadi tiga orang.

Hingga Rabu (18/3/2020) di Jawa Tengah terdapat 1.005 Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sebanyak 68 orang di antaranya merupakan Pasien Dalam Pemantauan (PDP). Untuk yang positif sebanyak 9 orang, 6 di antaranya dirawat intensif dan 3 orang telah meninggal dunia.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.