in

Dewan Minta DLH Buat Inovasi Ajak Masyarakat Daur Ulang Sampah Jadi Pupuk

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim menjadi nara sumber dalam kegiatan Dialog Interaktif DPRD Kota Semarang di hotel Fave Semarang, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang untuk melakukan kajian dan membuat inovasi, terkait sistem pengolahan atau daur ulang sampah agar menjadi barang yang bernilai. Salah satunya, sampah yang berasal dari rumah tangga nantinya bisa diolah lagi sehingga menjadi pupuk yang digunakan untuk pengembangan penghijauan.

Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim, bahwa pengolahan atau daur ulang sampah dimulai dari tingkatan RT/RW ini bisa sekaligus mengatasi volume sampah di TPA Jatibarang, yang kondisinya saat ini sudah overload. “Dengan adanya keterlibatan masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah ini diharapkan bisa mengurangi pembuangan sampah di TPA, baik sampah organik dan an organik. Nanti jika masih bisa didaur ulang, ya didaur ulang mulai dari rumah tangga yang sumber sampah itu berasal. Karena di satu sisi kawasan perumahan makin banyak, penghuninya pun makin bertambah, sehingga adanya inovasi atau terobosan pengolahan sampah ini diperlukan agar sampah makin sedikit dan lingkungan makin nyaman dan indah,” ujarnya, Minggu (19/5/2024).

“Selain pemerintah juga harus memberikan sosialisasi yang mengajak masyarakat untuk ikut mendaur ulang sampah, melalui bank bank sampah, serta pemerintah bisa memfasilitasinya. Baik itu dengan anggarannya atau melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari BUMN dan BUMD, kalau memang tujuannya untuk kepentingan masyarakat saya yakin mereka akan memberikan kontribusinya,” imbuhnya.

Mualim juga menambahkan, dewan mendorong DLH untuk menambah pengadaan tong sampah di tiap RT. “Agar masyarakat bisa mudah memilah sampah yang ada maupun untuk mendaur ulang sampah, mana yang organik dan an organik. Kalau sampah organik kan bisa dibuat menjadi bahan pupuk organik,” pungkasnya.

Sementara, Kabid Pengawasan dan Pemberdayana Lingkungan DLH Kota Semarang, Arry Susilowardani mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi sampai pendampingan kepada masyarakat untuk memilah sampah harapannya sisa makanan, daun-daun, sudah tidak masuk dan membebani di TPA. Sebaiknya sampah organik, dengan rekayasa teknologi, sebaiknya habis di masyarakat sendiri, misalnya sisa sayur atau makanan bisa dibuat menjadi eco enzym, komposting maupun magot.

“Bahkan, setelah diolah keluarnya bukan sampah lagi, tapi berupa cairan eco enzym yang bisa dipakai, bisa multifungsi sebagai pembersih kamar mandi, lantai rumah, kloset, dan kami juga menggunakannya untuk disemprotkan di TPA, supaya tidak bau. Sehingga sampah diolah menjadi bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,” katanya.

Eco enzym jika dibandingkan dengan bahan kimia, bisa mematikan bakteri, bahkan juga untuk membersihkan kotoran di kloset, dengan memakainya lebih ramah lingkungan dan umur pengurasan pun akan lebih lama.

Nantinya, untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA Jatibarang, Pemkot Semarang akan mengeluarkan kebijakan dengan surat instruksi tentang komposting, dan magot di tiap kelurahan.

“Selain dengan keberadaan bank sampah yang ada sampai saat ini ada, kami juga telah memberikan tas pilah sampah untuk memudahkan masyarakat memilah sampah di rumah. Dan sekaligus bisa menambah income masyarakat dengan adanya bank sampah,” imbuhnya.(HS)

Tiba di Bali, Elon Musk Disambut Luhut

Tiga Atlet PWRS ISSI Kendal Raih Podium di Ajang BOB Downhill 2024 Borobudur Highland