in

Dengan Keripik Kaca, Melia Ingin Jadikan Bisnis Utama

Melia Listiyani Owner Makanssnack.

 

BAGI setiap orang, memiliki keinginan untuk mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya. Termasuk yang diakui Melia Listiyani, karyawan swasta yang gemar menekuni dunia bisnis di Kota Semarang.

Ia menginginkan lapak bisnisnya menjadi penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perlahan tapi pasti, ia menggeluti bisnis makanan ringan yang diberi nama Makanssnack.

“Keripik kaca itu masih jarang ditemui. Kalau asalnya dari Jawa Barat. Di Semarang dari ujung selatan Banyumanik sampai utara Terboyo belum ada yang jual,” ujar Melia sapaan akrabnya saat ditemui halosemarang.id di indekosnya Jalan Kawi V No 560, Kelurahan Wonotingal, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, belum lama ini.

Dalam menjalankan bisnisnya, ia memasok keripik kaca dari kota di ujung timur Jawa Barat. Ia memilih dari Kota Udang Cirebon, sebab, dari sana merupakan pusat sentra keripik kaca, tentu dengan harga yang masih terjangkau.

“Masalah mencari yang paling murah sudah saya lakukan, baik langsung maupun melalui media sosial. Namun dari Cirebon itu kualitasnya bagus,” ujar alumnus Universitas Diponegoro tersebut.

Diungkapkannya, ia berani mengawali bisnis itu sejak Mei 2020 dengan modal usaha hanya Rp 600 ribu. Kini ia dapat menawarkan beberapa aneka varian rasa, antara lain original, rumput laut, dan pedas.

“Saya jualnya per bal, beratnya satu kilo, atau setengah kilo. Reseller minimal order 15 box, per boxnya Rp 7.500. Kalau asli dari kita, misal beli per box, harganya Rp 10.000 per box,” ungkapnya.

15 bulan berjalan, inovasi bisnis telah tercipta dari tangan terampilnya. Ia memilih fokus menjual kembali keripik kaca dari tangan pemasok atau sering disebut resseler.

Ia menawarkan keripiknya melalui media sosial dan pasar elektronik atau market place. Pelanggannya berasal dari dalam Kota Semarang, Klaten, Temanggung dan beberapa daerah di Jawa Tengah.

“Jam kerja saya di kantor selama delapan jam. Harus benar-benar manajemen waktu, karena jasa pengiriman jam empat sore sudah tutup,” tuturnya.

Kendati demikian, jika masih berada di dalam Kota Semarang, dirinya tidak mempermasalahkan. Sebab, dengan sistem metode pembayaran saat barang tiba atau biasa dikenal cash on delivery (COD).

Melia menyadari bisnisnya semakin berkembang. Dalam setiap satu pekan, dirinya dapat menerima pesanan hingga puluhan box.

“Prinsip saya punya penghasilan tetap dan tambahan. Harapannya usaha aku ini bisa jadi penghasilan utama, biar bisa mandiri dan resellernya bisa tambah. Sekarang sedang proses untuk produksi sendiri di Semarang, ke depan juga akan di Pati, rumah saya,” kata perempuan asal Bumi Mina Tani ini.(HS)

Share This

Wanita di Indonesia Memiliki Peran Vital Bernegara

Canangkan Target Tinggi di Piala Dunia 2022