Delapan RW Di Surakarta Implementasikan Kampung Bebas Asap Rokok

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming, saat hadir dalam Deklarasi dan Festival Model Kampung Bebas Asap Rokok, Rabu (24/3) di RW 9 Kelurahan Mojosongo. (Foto : Surakarta.go.id)

 

HALO SURAKARTA – Di Kota Surakarta saat ini sudah terdapat 76 Kampung Bebas Asap Rokok (KBAR). Namun dari jumlah itu, baru delapan yang sudah mengimplementasikannya dalam berbagai program.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming, saat hadir dalam Deklarasi dan Festival Model Kampung Bebas Asap Rokok, Rabu (24/3) di RW 9 Kelurahan Mojosongo, tempat deklarasi 8 KBAR tersebut.

Adapun delapan RW yang sudah mengimplementasikan secara riil kampung bebas asap rokok, yakni Mangkubumen RW 3, Mojosongo RW 19, Kampung Sewu RW 7, Tegal harjo RW 2, Mojosongo RW 29, Sondakan RW 13, Karangasem RW 9 dan Tegal harjo RW 6.

Dalam kunjungannya yang didampingi Camat Jebres Sulistyorini tersebut, Gibran memuji langkah RW yang telah mengimplementasikan KBAR tersebut. Menurut dia, hal itu bisa ditiru oleh seluruh RW dan RT lain di Kota Surakarta.

“Saya sangat senang dengan Deklarasi KBAR ini. Saya harap deklarasi ini tidak hanya deklarasi, tetapi harus ditindaklanjuti dan diwujudkan. Ini sesuai program Pemkot Surakarta, yakni sebagai Kota Layak Anak. Kita ingin mencetak generasi yang kuat, kokoh, cerdas dan sehat,” kata Gibran, seperti dirilis Surakarta.go.id.

Gibran menyatakan, gerakan seperti ini nantinya dapat meningkatkan peran serta masyarakat, dalam mencegah dan mengendalikan bahaya asap rokok.

“Selanjutnya nanti kita buat regulasi untuk menguatkan 76 KBAR ini. Kalau bisa ditambah lagi jumlahnya, biar sejalan dengan program Pemkot Surakarta di bidang kesehatan dan perlindungan anak,” kata dia.

Saat menyambangi pojok stand KBAR, Gibran sempat menuliskan pernyataan ‘Solo bebas rokok. Sebarkan program ini ke seluruh pelosok Indonesia’ dibubuhi nama terang dan tanda tangan.

Dalam kunjungan ke salah satu stand RW KBAR, Wali Kota juga mendapat penjelasan soal tanaman, dapat menghisap polutan asap rokok, seperti lidah mertua, sirih, sri rejeki, bunga lili, palem kuning, dan kembang sepatu.

Jubir Yayasan Kakak, yang bergerak dalam perlindungan anak, Shoim Shariati menilai saat ini banyak perokok semakin tidak enak hati merokok di tempat-tempat umum.

“Ada kesadaran diri sungkan merokok di tempat umum. Saya yakin gerakan bebas asap rokok bisa dilaksanakan di seluruh wilayah Kota Solo,” terangnya.

Sementara Deklarasi Komitmen sebagai Kampung Bebas Asap Rokok, dibacakan perwakilan dari 8 RW yang sudah menetapkan aturan Kampung Bebas Asap Rokok dan menjalankannya.

Mereka berkomitmen untuk mendukung Perwali Nomor 13/2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM). Selain itu mereka menyatakan tidak merokok di dalam rumah, tidak menyediakan asbak, tidak merokok di setiap pertemuan warga dan tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat.

Lurah Mojosongo,  Winarto menyatakan kebijakan tersebut memang menjadi intervensi pemerintah, desa siaga dan kader kesehatan. Hal itu juga merupakan implementasi Inpres nomor 1/2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

“Kita dukung dan kawal sepenuhnya KBAR ini dalam menerapkan aturan untuk tidak dan berhenti merokok di kawasan masing-masing. Selain semakin meningkatkan perilaku hidup sehat khususnya dalam protokol kesehatan di masa Pandemi Covid 19 ini,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Solo, Setyowati, menerangkan seluruh Puskesmas di Surakarta kini memiliki fasilitas untuk membantu perokok yang ingin berhenti merokok. Disebutkan, pihaknya aktif memberikan edukasi, khususnya bagi perokok pemula.

“Program ini akan kami evaluasi tiap akhir tahun melalui survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” jelasnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.