in

Dari Vespa Warisan, Sekarang Tekuni Bisnis Jual Beli Vespa

Arta Cipta, pemilik Showroom skuter Vespa Art Classico Jalan Madukoro 2 No 75, Kota Semarang.

 

TEKNOLOGI kendaraan bermotor saat ini menunjukkan perkembangan yang begitu pesat. Hal ini merupakan jawaban kenyamanan serta kemudahan transportasi bagi manusia.

Namun hal itu, bukan berarti keberadaan sepeda motor klasik ditinggalkan. Karena salah satu jenis kendaraan ini telah digunakan bukan sebagai alat transportasi saja, akan tetapi menjadi bagian dari gaya hidup.

Salah satunya adalah skuter Vespa yang memiliki keunikan tersendiri. Sepeda motor asal Italia ini masih digandrungi dari berbagai kalangan. Baik anak muda hingga orang tua.

Salah satunya, Arta Cipta pemilik bisnis jual beli skuter Vespa di Kota Semarang. Sejak lulus SMA, dirinya telah akrab dengan skuter dari negara penghasil spaghetti ini. Lambat laun, pria yang kerap disapa Arta tersebut semakin dalam mencintai Vespa.

“Saat itu, teman-teman sering memandang sebelah mata, ketika saya berangkat sekolah naik Vespa PX tahun 86 milik bapak saya. Awalnya saya mau membuktikan bahwa Vespa tidak seperti yang mereka pikirkan,” terangnya, saat ditemui di Showroom nya Jalan Madukoro 2 No 75, Kota Semarang, Selasa (6/7/2021).

Dari situ, Arta mulai aktif mengikuti komunitas Vespa, dari touring, hingga bergabung pada event-event pertemuan komunitas Vespa. Dari aktivitas tersebut, pengetahuan Arta perihal dunia Vespa mulai terasah dan semakin bertambah. Selain itu, relasi pertemanan dari berbagai kota pun kian meluas.

“Kemudian, saya mulai belajar jualan Vespa, dari onderdil Vespa, hingga unit Vespa-nya, namun masih seadanya. Dan April 2015, saya mulai membuka toko Art Classico di Jalan Barito, itu dipinjami orang. Di sana hampir setiap hari toko terkena banjir rob. Kemudian pada 2016 saya putuskan, untuk pindah ke Madukoro ini,” terangnya.

Arta mengaku, kendala bisnis jual beli Vespa yang dilakoni, salah satunya adalah terbatasnya unit kendaraan. Hingga ia harus mencari Vespa ke luar kota, untuk dipasarkan.

Bahkan, Arta pernah mengalami pengalaman yang tidak enak, ketika mengecek unit Vespa untuk koleksi kemudian dijual. Namun, meski telah sampai Jawa Timur dan Jawa Barat, saat pulang tidak ada satu pun Vespa yang sesuai dengan standar yang diinginkan.

“Vespa ini sudah tidak diproduksi lagi, jadi saya cari unit sampai ke luar kota. Dan itu saya harus ngecek barangnya dulu bagus apa tidak, kendalanya di situ. Saat saya datangi barang tidak sesuai ekspektasi, akhirnya rugi waktu, tenaga dan finansial,” keluhnya.

Dari pengalaman tersebut, kini dirinya saat mau membeli Vespa dari luar kota, tidak langsung datang mengecek kondisi fisiknya. Melainkan meminta bantuan teman yang ada di kota tersebut untuk mengecek.

“Kalau barang cocok, dan kondisi lumayan, ya saya ambil. Namun dengan bantuan teman kita yang ada di kota-kota lain. Semakin ke sini kan, jaringan pertemanan semakin luas,” katanya.

Arta menyebut, sebelum pandemi Covid-19, bisa menjual Vespa sebanyak 130 unit per tahun. Rentang harga yang ia tawarkan beragam, mulai dari Rp 9 juta hingga Rp 180 juta. Dengan adanya pandemi Covid-19, diakuinya bahwa penjualannya mengalami penurunan.

“Pada 2020 kemarin, saya hanya mampu menjual 70 unit. Ya, mau bagaimana lagi, yang penting bersyukur, hasilnya masih bisa untuk keluarga dan menggaji dua karyawan. Yang penting tetap berusaha, berdoa, biar Tuhan yang menentukan hasilnya,” paparnya.

Untuk penjualan, Arta mengutarakan, paling ramai saat sedang ada event. Namun saat pandemi Covid-19 seperti ini event tidak ada, otomatis berjualan hanya melalui online, via Instagram.

Dia berharap, supaya pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir. Sebab menurutnya, tidak hanya bisnis jual beli vespa saja yang terdampak dari pandemi Covid-19.

“Harapannya, pandemi Covid-19 bisa berakhir dan masyarakat atau khususnya teman-teman juga tetap jaga kesehatan,” paparnya.(HS)

Share This

Ombudsman RI Jawa Tengah Minta Penertiban Aturan PPKM Darurat Lebih Bijaksana

Pria Ini Ditemukan Meninggal Dunia Di Kamar Kosnya