Dapur Umum Masih Jadi Andalan Warga yang Mengungsi

Suasana dapur umum warga RT 3 RW 1 Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Warga terdampak banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah di Kota Semarang saat ini masih mengandalkan bantuan logistik, berupa makanan dari dapur umum yang dibangun.

Seperti di dapur umum di RT 3 RW 3, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, yang setiap hari harus menyediakan makanan nasi bungkus sekitar 1.000 bungkus.

Salah satu warga setempat, Edi Setiawan (35) mengatakan, di dapur umum tersebut pihaknya menyiapkan makan warga sekitar 1.000 porsi perhari.

- Advertisement -

“Total jumlah warga yang terdampak banjir ada 77 keluarga. Kalau masing-masing kepala keluarga, terdiri dari empat orang rata-rata, harus menyiapkan sedikitnya 904 porsi nasi bungkus tiap harinya di sini,” katanya, Selasa,(9/2/2021).

Dalam satu porsi di dalamnya, kata dia ada mi, telur, dan sayuran. “Dapur umum sudah berdiri sejak Sabtu (6/2/2021). Karena warga belum bisa memasak di rumah,” imbuhnya.

Karena rumah mereka terendam, pada Sabtu (6/2/2021) dengan ketinggian 60 cm di jalan masuk gang kampung.

“Sedangkan di Jalan Gajahraya, air banjir mencapai 1,5 meter. Dan Minggu (7/2/2021), air mulai surut sekitar 1 meter, sehingga tidak bisa dilewati,” jelasnya.

Memang pada hari pertama, Sabtu (6/2/2021), bantuan bahan baku belum ada bantuan dari instansi.

“Kami menggunakan dana dari kas RT sendiri. Kalau pada hari kedua, Minggu (7/2/2021), mulai ada bantuan dari kelurahan, dalam bentuk sembako, seperti beras, telur, mi instan,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, untuk kebutuhan bahan baku dapur umum sempat kesulitan diperoleh di pasar tradisional, karena selama dua hari pasar tradisional tutup pada Sabtu (6/2/2021) dan Minggu (7/2/2021).

Padahal selama dua hari itu, banjir di Semarang bisa dibilang cukup besar dan berdampak besar bagi warga.

“Kita sempat kesulitan nyari sayur, beras, bahan baku lainnya karena pasar-pasar tradisional dan swalayan tutup saat itu. Padahal DPC Partai Gerindra mendirikan dapur umum untuk membantu masyarakat terutama bagi mereka yang tidak bisa makan karena banjir,” katanya, Selasa (9/2/2021).

Joko menjelaskan, sejatinya Pemkot Semarang melalui Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membuat kebijakan atau modifikasi kebijakan yang sangat bijak.

Yakni masih memperbolehkan pasar tradisional untuk buka agar kebutuhan bahan baku mudah diperoleh.

“Namun di lapangan, banyak pasar yang memilih tutup sampai akhirnya saat terjadi bencana seperti ini  kita sendiri yang susah,” tandasnya yang juga anggota Komisi C DPRD Kota Semarang.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.