Dapat Terbang di Landasan Pendek dan Berumput, CN235-220 Diekspor ke Senegal

CN235-220 Maritime Patrol Aircraft buatan PT Dirgantara Indonesia. (Foto : kemenkeu.go.id)

 

HALO SEMARANG – Indonesia terus menegaskan posisinya sebagai produsen pesawat terbang, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dunia internasional.

Di tengah perekonomian yang terdampak Covid-19, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kembali sukses mengekspor satu unit pesawat terbang CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) senilai Rp 354 miliar.

Ferry Flight pesawat yang akan digunakan oleh Angkatan Udara Senegal ini, telah dilakukan belum lama ini dari Hanggar Fixed Wing PT DI di Bandung, Jawa Barat (Jabar).

“Alhamdulillah dalam situasi ini, PT DI berhasil melakukan ekspor pertamanya di awal tahun 2021. Dengan diserahkannya pesawat CN235 ketiga ini, semoga dapat membantu meningkatkan kinerja Angkatan Udara Senegal, dalam setiap pelaksanaan operasi udara. Kami merasa bangga atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Pemerintah Senegal kepada PT DI selama ini,” kata Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro, seperti dirilis Setkab.go.id, kemarin.

Pesawat CN235-220 MPA ini, memiliki beberapa keunggulan, antara lain dapat lepas landas dengan jarak pendek, dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama delapan jam dengan sistem avionik glass cockpit, autopilot, dan adanya winglet di ujung sayap, agar lebih stabil dan irit bahan bakar.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan Tactical Console (Tacco), 360⁰ Search Radar, yang dapat mendeteksi target kecil sampai 200 Nautical Mile (NM).

Selain itu juga dilengkapi Automatic Identification System (AIS), sistem pelacakan otomatis, untuk mengidentifikasi kapal sehingga dapat diperoleh posisi objek yang mencurigakan.

Kemudian terdapat juga Forward Looking Infra Red (FLIR), untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan target, serta mampu merekam situasi di sekitar wilayah terbang untuk evaluasi misi, baik dalam kondisi siang maupun malam hari.

Hingga saat ini, PT DI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan pesawat CN235 sebanyak 69 unit untuk dalam negeri maupun luar negeri. Dari total sebanyak 286 unit populasi pesawat CN235 series di dunia, saat ini PT DI merupakan satu-satunya industri manufaktur pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat CN235.

Sebagaimana informasi yang dilansir laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sebagian modal kerja PT DI dalam pembuatan pesawat ini didanai oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dengan skema National Interest Account (NIA).

Skema tersebut merupakan penugasan khusus dari Kemenkeu, untuk penyediaan pembiayaan ekspor pesawat udara, dengan pasar Afrika dan Asia Selatan.

Pembiayaan ini juga mempertimbangkan dampak ekonomi dan sosial, di antaranya penyerapan tenaga kerja lebih dari 4.000 orang serta perluasan negara tujuan ekspor Indonesia ke pasar nontradisional.

“Penugasan khusus kepada LPEI merupakan bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan daya saing ekspor, terutama di industri strategis. Apalagi pemerintah saat ini sedang mendorong industri nasional untuk melakukan ekspor ke negara-negara tujuan ekspor baru,” ucap Sekretaris Lembaga LPEI Agus Windiarto.

Ekspor pesawat terbang ke Senegal, dianggap memiliki nilai strategis, bagi industri nasional karena supply record export order dan kepuasan pelanggan luar negeri menjadi salah satu syarat utama dalam evaluasi pada tender-tender internasional.

Proyek ini juga merupakan salah satu langkah strategis untuk memasuki pasar negara Asia Selatan dan Kawasan Afrika. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.