Dampak Pandemi, Crew Orkes Dangdut di Kendal Ini Banting Stir Jualan Lontong Opor

Mimma Milky Muhammad berjualan lontong opor di rumahnya di Desa Rowo Branten RT 2 RW 3, Kecamatan Ringinarum, Kendal.

 

HALO KENDAL – Pandemi Covid-19 memberikan dampak besar terhadap ekonomi masyarakat. Khususnya para pekerja nonformal dan pekerja seni, yang selama ini bekerja tanpa gaji bulanan.

Seperti yang dialami Mimma Milky Muhammad (38) atau sebutan nama panggungnya Milky, pemain sekaligus crew kelompok musik dangdut New Puspita Kendal.

Saat para pekerja formal mendapat bantuan dari negara sebesar Rp 600 ribu/bulan, pekerja non-formal seperti dirinya hanya bisa gigit jari.

“Sejak ada peraturan atau imbauan pelarangan kegiatan dari pemerintah, praktis pekerja seni musik seperti kami juga terkena dampak atau tidak dapat beraktivitas. Maka nyaris tak ada pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya, Senin (31/8/2020).

Pemerintah memang telah memberikan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak Covid-19, tapi luput mengakomodir bagi pekerja seni sebagaimana dialami Milky.

Bapak dua anak ini harus mensiasati kebutuhan hidup keluarga dengan berjualan Lontong Opor di depan rumahnya, dibantu istri dan kedua anaknya di Desa Rowo Branten RT 2 RW 3, Kecamatan Ringinarum, Kendal.

“Awalnya memang malu dan belum punya pengalaman jualan, tapi karena terdesak kebutuhan ekonomi dan supaya kebutuhan keluarga bisa tercukupi, saya berembug dengan istri untuk jualan lontong opor,” ungkapnya.

Dengan modal menggadaikan surat kendaraan bermotor sebesar Rp 5.000.000, Milky didukung istrinya.

Dirinya bertekad berjualan lontong opor dan aneka minuman ringan di rumahnya.

“Jika ramai, pendapatan bisa sampai Rp 100.000/hari, tapi saat sepi kadang-kadang Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu/hari. Minimal bisa pegang uang, kadang ya bingung sendiri belanjanya,” ungap Milky.

Dirinya juga mengaku, memanfaatkan teknologi dengan mengapload promosi daganganya di layanan jual beli onlina, agar bisa dijangkau nitizen dengan nama “Lontong Opor Nanu Milen Rowo Branten”.

Sebagai pekerja musik panggung, selama ini Milky tidak hanya tergabung di grup New Puspita Kendal, tapi juga di beberapa grup musik lain seperti Dwi Pangga juga orkes Tarling.

Musik panggung yang dia lakoni adalah pentas musik yang biasa dipesan masyarakat dalam pentas hajatan, seperti mantenan, sunat, hiburan hari kemerdekaan, dan ulang tahun.

Milky mengaku, sebagai crew musik panggung dia sendiri biasa mendapat upah Rp 250.000 untuk sekali pentas. Setiap pekan setidaknya ada dua kali pentas. Namun pada masa pandemi ini, nyaris selama beberapa bulan belum ada undangan untuk pentas.

“Pekerja musik belum diakui keberadaanya oleh pemerintah, sehingga masih luput dari berbagai bantuan dan program pemberdayaan negara,” imbuhnya.

Permasalahan lain tidak dapat diaksesnya informasi pemberian bantuan pemerintah, baik dari pemerintah pusat, provinsi, maupun labupaten dan desa, menjadikan warga yang terdampak pandemi Covid-19 harus secara mandiri dan kreatif mempertahankan ekonomi keluarga.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.