Dampak Pandemi Covid-19, Kegiatan Dunia Usaha di Jateng Triwulan III 2020 Mengalami Penurunan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Soekowardojo.

 

HALO SEMARANG – Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) di Jawa Tengah mengindikasikan kegiatan dunia usaha pada triwulan III 2020 mengalami penurunan.

Hal itu tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), pada triwulan III 2020 sebesar -11,03%. Meski tidak sedalam periode sebelumnya sebesar SBT -47,75%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Soekowardojo menyatakan, penurunan kegiatan usaha pada triwulan III tersebut masih disebabkan oleh dampak lanjutan dari pandemi Covid-19.

Menurutnya, kebijakan pembatasan sosial sebagai upaya untuk meredam penyebaran Covid-19, mengakibatkan terbatasnya pergerakan manusia dan barang. Hal ini berdampak pada penurunan permintaan dalam negeri dan menghambat kegiatan produksi dan investasi, serta gangguan pasokan dan distribusi barang.

“Hal itu juga terkonfirmasi dari hasil survei konsumen, di mana sepanjang triwulan III 2020 (Juli hingga September 2020) keyakinan konsumen cenderung rendah dan berada pada level pesimis (< 100) dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 90,34,” ujarnya, Jumat (23/10/2020).

Berdasarkan sektornya, lanjut dia, penurunan aktivitas dunia usaha terbesar terjadi pada sektor industri pengolahan, yang merupakan salah satu sektor utama di Jateng dengan kontraksi sebesar SBT -4,17%.

Penurunan pada sektor industri olahan juga terkonfirmasi oleh Prompt Manufacturing Index (PMI), di mana pada triwulan III 2020 indeks PMI tercatat sebesar 37,85%, atau terindikasi masih berada pada fase kontraksi (PMI < 50%).

Selain menekan sisi supply, menurutnya, kebijakan pembatasan sosial secara tidak langsung juga telah menekan daya beli konsumen yang bermuara pada penurunan permintaan.

Selain menekan permintaan pada sektor industri pengolahan, lanjutnya, juga menekan permintaan sektor lainnya. Salah satunya adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor yang mengalami penurunan kegiatan usaha sebesar SBT -3,79%.

Ditinjau berdasarkan kapasitas produksi, Soekowardojo menambahkan, pada triwulan III 2020 rata-rata kapasitas produksi terindikasi mengalami peningkatan menjadi 68,00%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 63,84%.

“Namun peningkatan ini masih di bawah rata-rata kapasitas produksi pada tahun sebelumnya sebesar 72,42%. Hal ini mengindikasikan bahwa kapasitas produksi perusahaan belum mencapai kapasitas normal perusahaan sebelum periode pandemi,” katanya.

Sejalan dengan penurunan kegiatan usaha, kondisi keuangan responden cenderung mengalami penurunan.

Hal tersebut diindikasikan oleh kemampuan perusahaan untuk mencetak laba (rentabilitas) pada triwulan III 2020, yang tercatat mengalami kontraksi sebesar SB -16,58%. Meski hal ini tidak sedalam kontraksi triwulan sebelumnya sebesar SB -40,18%.

“Rentabilitas pada triwulan laporan, berada jauh di bawah rata-rata tahun sebelumnya yang mencapai 27,90%. Rentabilitas yang rendah umumnya dipengaruhi oleh ketidakmampuan responden untuk melakukan penyesuaian harga jual secara optimal,” paparnya.

Meskipun pada triwulan III 2020 kegiatan usaha mengalami kontraksi, responden memperkirakan kegiatan usaha akan meningkat pada triwulan IV 2020, didorong oleh pemberlakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB), melalui penerapan protokol Covid-19 berdampak pada perkembangan mobilitas masyarakat.

Hal itu, menurutnya, tercermin dari perkiraan kegiatan usaha yang bernilai SBT 9,84%. Optimisme peningkatan kegiatan usaha terutama terjadi pada responden sektor industri pengolahan (SBT 3,99%), sektor konstruksi (SBT 3,04%), sektor jasa keuangan (SBT 2,43%), sektor perdagangan (SBT 1,78%) dan sektor pertanian (SBT 0,87%).

“Namun peningkatan itu bersifat masih sangat terbatas, dan belum mencapai pada kapasitas normal perusahaan sebelum periode pandemi. Hal itu diindikasikan oleh proyeksi peningkatan harga yang terbatas dan proyeksi investasi yang masih mengalami penurunan. Selain itu, peningkatan yang terbatas juga terkonfirmasi pada indikator PMI yang diperkirakan masih berada pada zona kontraksi (43,81%),” paparnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.