Dampak Corona, 1.835 Pekerja di Kota Semarang Kena PHK dan 2.448 Pekerja Dirumahkan

Foto ilustrasi.

 

HALO SEMARANG – Wabah virus corona (covid-19) ternyata membawa dampak besar terhadap kehidupan warga, khususnya di Kota Semarang. Tercatat, ada ribuan pekerja di Kota Semarang harus kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat dia bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun merumahkan pegawainya.

Kepala Disnaker Kota Semarang, Sutrisno mengatakan, ada 41 perusahaan yang telah melaporkan kepada Disnaker bahwa telah melakukan PHK maupun merumahkan para pekerja akibat pandemi Covid-19. Hal ini karena lesunya produksi akibat dampak penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, China ini.

Hingga saat ini, dia merinci, ada 1.835 pekerja terka PHK dan 2.448 pekerja dirumahkan oleh 41 perusahaan di Kota Semarang. Jumlah warga Kota Semarang sendiri sebanyak 962 orang yang ter-PHK dan 1.289 orang yang di rumahhkan. Sisanya merupakan warga luar Kota Semarang.

“Selain laporan dari perusahaan, ada tujuh pekerja yang ter-PHK melaporkan secara mandiri kepada kami,” sebut Sutrisno ketika dihubungi wartawan, Selasa (7/4/2020).

Lebih lanjut, kata Sutrisno, data tersebut akan terus diperbarui mengikuti jumlah pelapor baik dari perusahaan maupun individu.

Pihaknya juga terus mengimbau perusahaan untuk melaporkan kepada Disnaker apabila melakukan PHK atau merumahkan pekerjanya. Data tersebut akan disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah.

Menurut Sutrisno, pandemi Covid-19 ini merupakan masalah global. Kasus ini pun sangat mempengaruhi perekonomian, sehingga beberapa perusahaan secara berat hati mengambil langkah PHK ataupun merumahkan pekerjanya.

“Semua perusahaan merasa berat hati melakukan PHK maupun merumahkan dan berjanji bila ekonomi normal pekerja bisa kembali bekerja, karena saat ini bencana ekonomi melanda dunia dan sendi-sendinya,” terangnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga sudah menyiapkan kartu prakerja bagi karyawan yang terkena PHK.

“Karyawan yang kena PHK sudah kami siapkan kartu prakerja. Di Jawa Tengah alokasinya cukup banyak dan pendaftarnya masih sedikit. Maka sebentar lagi Dinas Tenaga Kerja akan merespons itu dengan cepat,” kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Ganjar juga meminta kepada para pengusaha untuk menjaga kekompakan yang sudah ada dan berharap tidak ada PHK. Bagi yang relasi buruh dan pengusahanya baik, maka lebih baik dibicarakan secara internal.

“Saya mohon usahakan betul-betul tidak ada PHK. Bicarakan secara internal. Apakah mungkin pengurangan jam kerja, apakah mungkin dari sisi pendapatan yang sekarang lagi drop itu bisa dipakai menjadi satu aturan baru, bagaimana kemudian pola penggajian dan seberapa besarannya. Sehingga musyawarah ini bisa menjadi penting untuk sama-sama bisa menjaga dan merasakan kondisi yang sulit ini,” kata Ganjar.

Sementara, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, Pemerintah Kota Semarang berupaya memberikan bantuan sembako kepada warga Kota Semarang yang terdampak virus corona, seperti para orang dalam pemantuan (ODP), para pedagang kaki lima (PKL) yang pendapatannya semakin berkurang, dan para karyawan yang dirumahakan dari pekerjaannya.

“Gugus tugas sudah bagikan sembako, jamu, dan melakukan beberapa penyemprotan. Rata-rata setiap hari ada 3 kecamatan yg disemprot untuk menanggulangi penyebaran Covid-19,” terang Hendi, sapaannya.

Guna meminimalkan biaya pengeluaran masyarakat, lanjut Hendi, Pemkot Semarang mengeluarkan kebijakan pemberian diskon sebesar 20 persen untuk pelanggan PDAM Tirta Moedal selama tiga bulan, terhitung sejak April hingga Juni mendatang.

Pihaknya juga membebaskan retribusi pedagang kaki lima (PKL) dan biaya sewa di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) milik Pemkot Semarang.

“Kalau perkembangan Covid-19 tidak ada penurunan hingga Juni, kami teruskan (kebijakan tersebut) tapi kami prediksi insya-Allah Juni mereda,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.