Dalang Cilik Anggito Jagad Mardhiko, Semarakkan Tradisi Selamatan Mongso Labuh Desa Sidomulyo

Pentas wayang kulit yang menampilkan dalang cilik Anggito Jagad Mardhiko di Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, Kendal.

 

HALO KENDAL – Sanggar Kejeling belum lama ini menggelar pentas wayang kulit di Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, Kendal. Pentas yang berdurasi sekitar 2 jam menampilkan dalang cilik Anggito Jagad Mardhiko (14) dengan lakon “Sumilaking Pedhut Ekocokro”.

Penampilan bocah yang masih duduk di kelas 8 SMP Negeri 1 Cerpiring ini cukup menghibur penonton. Iringan musik gamelan juga didukung para pengrawit muda dan para sinden yang masih remaja.

Pimpinan Sanggar Kejeling, Agus Riyanto mengatakan, pentas wayang kulit ini sebagai ungkapan rasa kangen para pegiat seni budaya, khususnya wayang kulit yang sejak awal masa pandemi Covid-19 tidak boleh menerima tanggapan.

“Adanya pandemi ini sangat berdampak pada kehidupan para seniman seperti kami. Yang sebagian mengandalkan kebutuhan hidupnya dengan menerima job atau tanggapan dari orang yang punya hajatan, seperti pernikahan, khitanan atau lainnya,” ungkapnya.

Agus Riyanto menegaskan, dengan pentas ini juga untuk menunjukkan bahwa seni budaya, khususnya wayang kulit masih eksis.

Menurutnya, dalam kondisi apapun seni budaya harus dirawat dan dikembangkan, karena seni budaya harus mengikuti perkembangan zaman.

“Pentas wayang kulit kali ini untuk melepas rasa kangen, karena sudah lama tidak menerima job, semoga bisa menghibur dan tetap semangat berkesenian,” kata Agus.

Dalang cilik Anggito Jagad Marhiko sendiri merupakan putra dari Agus Riyanto, yang belum lama ini berhasil meraih juara Lomba Dalang Bocah di Yogyakarta sebagai juara harapan 3.

“Kami minta supportnya agar anak kami menjadi dalang yang pintar. Di samping itu, yang terpenting supaya terus mencintai seni budaya. Mari kita bersama-sama berdoa supaya seni budaya tetap eksis dan semoga pandemi ini segera berakhir,” harapnya.

Agus menambahkan, pentas wayang kulit ini merupakan rangkaian kegiatan tradisi Selamatan Mongso Labuh yang dilakukan padi hari di persawahan.

“Tradisi Selamatan Mongso Labuh dilakukan secara sederhana oleh para petani sebagai pertanda dimulainya masa bercocok tanam,” jelasnya.

Tradisi Selamatan Mongso Labuh ini untuk berdoa bersama memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa supaya diberi keberkahan panen yang melimpah.

“Keberhasilan petani juga berimbas pada kesejahteraan masyarakat lainnya, karena dari hasil panen inilah masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangannya,” pungkas Agus Riyanto.

Pentas yang digelar di masa pandemi tersebut menerapkan protokol kesehatan, yaitu dengan jumlah penonton terbatas.

Penonton harus memakai masker dan sebelum masuk dilakukan pemeriksaan suhu tubuh. Kursi penonton pun dibatasi dan diatur jaraknya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.