in

Curhatan Pengrajin Batik Kendal, Kesulitan Pemasaran Kini Banting Stir Jual Jajanan

Asmiati (53) salah seorang pengrajin batik khas Kendal yang mengaku kesulitan pemasaran.

PERJUANGAN Asmiati (53), salah seorang pengrajin batik di Kelurahan Pegulon, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal dalam menghadapi tantangan dan persaingan pasar yang semakin ketat, bisa menjadi cermin bagi banyak pengrajin batik tradisional.

Di mana dalam menghadapi kondisi saat ini, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk melestarikan warisan budaya batik dan membantu para pengrajin supaya dapat bersaing dalam pasar global.

Saat ditemui di kediamannya, Minggu (25/2/2024) Asmiati menceritakan, dalam seni membatik berbagai unsur aspek kehidupan semua tergambar. Karena batik tidak hanya sekadar elemen budaya, tapi juga mendarah daging dan menjadi nilai hidup. Saat susah, kain batik yang dipakai berbeda dengan saat sedang senang. Kain batik yang dikenakan kaum tua, berbeda dengan yang dipakai kaum muda.

“Membuat sehelai kain batik itu membutuhkan waktu dan ketelatenan untuk menyelesaikannya. Ya karena kami industri rumahan. Namun, inilah batik yang betul-betul asli, yang dibuat dan dikerjakan secara manual,” tuturnya.

Asmiati juga mengaku, sudah melakoni sebagai pengrajin batik sejak tahun 2011 lalu. Di mana dia bersama kaum ibu lainnya diberi peluang oleh Bupati Kendal masa itu, Widya Kandi Susanti untuk mengenal dan belajar membatik.

“Dulu saat zamannya Bupati Kendal Ibu Widya Kandi Susanti, ibu-ibu mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan belajar membatik yang diselenggarakan oleh PKK Kabupaten Kendal. Nah dari sanalah kami mengenal batik dan mulai menjalani sebagai pengrajin batik rumahan,” ungkapnya.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dengan mengalami masa suka dan duka dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas, hingga sekarang mengalami perubahan di industri batik rumahan.

Namun, meskipun memiliki keterampilan dan bakat yang luar biasa yang Asmiati punya, dirinya juga sempat menghadapi kesulitan dalam memasarkan produk-produknya.

“Ya kalau dulu saat zamannya Bupati Kendal, Ibu Widya Kandi Susanti, karya kami menonjol dan usaha cukup lumayan lancar. Karena beliau selalu memberi perhatian untuk pengembangan dan kemajuan pengrajin-pengrajin batik rumahan seperti kami. Kami sering diajak ikut pameran-pameran, untuk mempromosikan batik khas Kendal,” bebernya.

“Tapi setelah beliau (Widya Kandi Susanti-red) tidak menjabat sebagai Bupati, lambat laun kami merasa kesulitan. Terutama dalam hal pemasarannya,” imbuh Asmiati.

Apalagi, di era digital yang semakin berkembang menuntut adanya strategi pemasaran yang lebih canggih. Hal tersebut yang menurutnya menjadi salah satu hambatan dalam pemasaran. Karena dirinya terbiasa dengan cara-cara konvensional.

“Ya kalau sekarang, di samping harus melek teknologi, juga harus tau strategi pemasarannya. Selain itu, harus aktif mentelengi (melihat-red) di ponsel, produk-produk batik apa saja yang diminati konsumen dan mudah dipasarkan,” jelas Asmiati.

Dirinya berharap kepada pemerintah untuk memberikan perhatian kepada pengrajin-pengrajin batik rumahan seperti dirinya. Supaya batik khas Kendal lebih dikenal masyarakat luas.

“Ya kalau bisa diperbanyak lagi kegiatan-kegiatan promosi, seperti pameran di luar daerah, atau bahkan di ibukota. Supaya batik khas Kendal bisa terkenal di mana-mana dan jangan sampai punah,” harap Asmiati.

Selain sebagai seorang pengrajin batik, wanita dengan dua orang anak tersebut juga menambah penghasilan dengan membuat makanan ringan di rumahnya, yang ia suplai ke warung dan angkringan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena diakui, harga batik tulis khas Kendal yang berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu tersebut kini susah untuk dipasarkan. Kalaupun ada dalam sebulan hanya laku satu atau dua helai kain batik saja.

“Melihat banyak teman-teman pengrajin batik yang beralih profesi, karena merasa kesulitan dalam memasarkan batik Kendal jadi saya mencoba membuat makanan ringan seperti gorengan dan lain-lain yang saya titipkan di angkringan,” pungkas Asmiati.(HS)

Berikan Rasa Aman dan Nyaman Bagi Masyarakat, Polres Kendal Laksanakan Patroli KRYD

Pantai Pulau Kodok Jadi Alternatif Wisata di Kota Tegal