Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Congyang, Minuman Beralkohol Hasil Akulturasi Budaya Jawa dan Tiongkok

Minuman beralkohol asli Semarang, Congyang.

 

KOTA SEMARANG memiliki berbagai macam kuliner khas yang sudah dikenal masyarakat luas, seperti lunpia, tahu pong, bandeng presto, wingko babat, dan banyak lagi. Kota yang terbentuk dari akulturasi empat budaya, Jawa, Tingkok, Arab, dan Belanda ini memang memiliki kekayaan kuliner yang tercipta dari sebuah perpaduan budaya.

Selain makanan, ada pula produk minuman beralkohol yang juga tercipta dari perpaduan budaya Jawa dan Tiongkok.

Congyang namanya, minuman beralkohol semacam wine ini diproduksi CV Tirta Waluyo dan memiliki kadar alkohol 19,63 persen.

Meski sebenarnya dalam kemasannya diberi nama Cap Tiga Orang, warga Kota Semarang sering menyebutnya dengan nama Ceye (CY) atau Congyang.

Congyang merupakan hasil fermentasi beras dan gula pasir, sepirit, perasa kopi moka, pewarna makanan, yang dilengkapi dengan beberapa kandungan lain dan tergolong dalam alkohol tipe B.

Dari banyak referensi yang diperoleh halosemarang.id, tokoh penting di balik penciptaan Congyang adalah seorang ‎kakek yang biasa disapa Koh Tiong. Dia adalah pewaris generasi peracik obat berdarah Tionghoa yang menetap di Kota Semarang.
Dari tangan dingin Koh Tiong inilah, Congyang melegenda hingga sekarang.

Konon, Koh Tiong merupakan salah satu penerus generasi Khong A Djong, seorang suhu ternama yang mengusai ilmu kungfu nomor wahid pada zamannya.

Khong A Djong yang konon juga mewarisi ilmu Wong Fei Hong ini sekaligus adalah master peracik minuman tradisional. Khong A Djong sendiri lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896.

Dikisahkan, selama 27 tahun dia digembleng ilmu kungfu di Tiongkok. Pada tahun 1923, saat itu masih era penjajahan Belanda di Indonesia, A Djong kemudian dipanggil oleh orang tuanya yang menetap di Semarang dan diminta segera menikah dengan seorang gadis bernama Auw Yang Ien Nio, warga Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Semarang.

Untuk menghidupi keluarganya pada masa kolonial Belanda di Indonesia, Khong A Djong yang juga memiliki keahlian meracik obat-obatan tradisional ini kemudian memproduksi minuman beralkohol yang diberi nama A Djong.

Minuman ini sempat populer pada tahun 1960an sampai 1980an. Bahkan saking terkenalnya, di kalangan anak muda Kota Semarang kala itu, sempat ada istilah “ndoyong Ajong” atau “mabuk Ajong” untuk menyebut orang yang berperilaku kurang normal seperti orang mabuk.

Sejarah Congyang tak terlepas dari minuman A Djong ini, karena merupakan evolusi dari minuman beralkohol A Djong.

Pada era 1960-1970-an, merk A Djong ini menjadi minuman alkohol terkenal di Semarang dengan kadar alkohol 35 persen.

Namun seiring berjalannya waktu, minuman A Djong kian lama ditinggalkan karena rasanya yang dinilai terlalu panas, mirip seperti arak China. Rasa A Djong bagi para konsumen di Semarang dirasa kurang bersahabat di lidah, tenggorokan, dan perut mereka. Hal inilah yang kemudian menyebabkan A Djong berangsur-angsur makin meredup.

Dan sekitar 1980an, kejayaan A Djong benar-benar pudar dan lambat laun mulai tidak laku. Karena persoalan inilah muncul inovasi baru dalam bentuk Congyang pada tahun 1980-an.

Racikan Congyang kemudian mulai diproduksi dan dilempar ke pasaran. Ternyata pergulatan Koh Tiong dalam mengkreasikan minuman A Djong jadi Congyang mendapatkan antusiasme dari masyarakat Kota Semarang.

Congyang pun mulai beredar sekitar 1980-an silam. Sejak awal minuman ini memang diproduksi massal sebagai komuditas dagang. Jadi berbeda dengan ciu atau arak dan minuman tradisional lain di Indonesia yang diproduksi sebagai tradisi yang mengakar di masyarakat atau kultural.

‎Congyang kali pertama diproduksi di sebuah rumah, tepatnya di sebelah Klenteng Siu Hok Bio yang berada di Jalan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang.

Distribusi awalnya dikemas menggunakan besek yang terbuat dari bambu. Di dalamnya diberi pengaman dari dami atau pohon padi yang sudah kering agar botol tidak mudah pecah bila terbentur.

Pada kemasan botol tertulis Cong Yang dengan gambar logo anak kecil diapit raja dan ratu.
Pada tahun 1985 nama minuman ini dipatenkan menjadi Cap Tiga Orang.

Hingga kini Cap Tiga Orang dikenal luas dengan istilah Congyang. Bagi para penikmatnya, Congyang merupakan air kedamaian, air kata-kata yang rasanya manis dan menghangatkan.

Namun sebenarnya ramuan yang terkandung pada Congyang, diracik secara khusus oleh Koh Tiong untuk meningkatkan kejantanan atau keperkasaan bagi lelaki, dengan takaran khusus yakni 1 sloki (gelas kecil).

Konsumsi Congyang yang sesuai dengan aturan, menurut pembuatnya akan berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah dan membuat otot serta saraf menjadi rileks. Konsumsinya tidak boleh melebihi dosis karena jika melebihi dosis, maka minuman ini dapat memabukkan hingga menyebabkan seseorang menjadi hilang ingatan.

Berubah Fungsi

Congyang yang pada esensinya adalah jamu kesehatan, pada perjalanannya banyak dikonsumsi secara berlebihan oleh para konsumennya. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka pemerintah membuat kebijakan dengan memasukkan minuman ini dalam kategori minuman beralkohol golongan B, karena di dalamnya memiliki kandung alkohol sebesar 19.5%.

Peredaran minuman ini kemudian harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat.
Sayangnya, dalam upaya penelusuran sejarah minuman Congyang di industri pembuatnya, halosemarang.id gagal memperoleh informasi dari pemilik CV Tirta Waluyo.

Wakil keluarga CV Tirto Waluyo yang coba dihubungi, enggan memberikan informasi terkait sejarah dan perkembangan produksi Congyang saat ini.

Namun dari referensi yang didapat dari banyak sumber, ada yang mengatakan bahwa kata Congyang adalah serapan dari bahasa Hokkian yang berarti Mawar Merah.

Padahal dalam bahasa Hokkian kata “Chong” sendiri berarti Maju dan “Yang” sendiri tidak memiliki pemaknaan Mawar ataupun Merah (Hóngsè).

Namun lepas dari itu, keunikan rasa Congyang telah menjadi bentuk asimilasi dua budaya, yakni etnis Jawa dan Tionghoa.

Di pasaran, Congyang dijual dalam dua jenis kemasan botol besar dan botol kecil. Label gambarnya khas yakni orang tua yang diapit oleh dua perempuan. Oleh karena itu pada labelnya ada tulisan “Cap Tiga Orang”.

Meski termasuk minuman keras, namun tahun 2010, Congyang dilegalkan sebagai produk komoditi.

Saat ini, produksi Congyang dilakukan di daerah Kaligawe Semarang.
Menurut sumber yang diperoleh halosemarang.id, sejak awal, perusahaan ini telah memiliki izin produksi. Tetapi baru menggunakan cukai resmi mulai 2005 silam.

Meski laris manis, produksi Congyang saat ini telah dibatasi, yakni setiap hari hanya memproduksi 1.000 dus. Setiap satu dus berisi 24 botol.

Kemasan dus tersebut kemudian diedarkan melalui distributor. Harga eceran per botol seharga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu.
Tetapi kalau di tempat hiburan malam seperti di tempat karaoke bisa mencapai Rp 50 ribu per botol kecil.

Wilayah edarnya hanya di sekitar wilayah Kota Semarang saja. Meski penyebarannya hanya di warung-warung tradisional, namun nama Congyang, diakui atau tidak, sudah terlanjur melegenda sebagai salah satu produk unggulan Kota Semarang.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang