Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Citarum Akan Dipugar, Kota Semarang Makin Krisis Lapangan Layak

Lapangan Citarum Semarang, yang dalam waktu dekat akan dipugar Pemkot Semarang.

 

HALO SEMARANG – Persoalan di kota besar dalam pengembangan olahraga khususnya sepak bola salah satunya adalah ketersediaan infrastruktur layak, dalam bentuk lapangan sepak bola yang bisa diakses masyarakat secara mudah dan murah. Begitu juga yang terjadi di Kota Semarang. Minimnya lapangan sepak bola yang memadai untuk berlatih, membuat banyak tim sepak bola lokal maupun sekolah sepak bola (SSB) kesulitan mendapatkan fasilitas lapangan memadai.

Apalagi tahun ini, Stadion Citarum yang selama ini jadi langganan untuk menggelar kompetisi dalam lingkup lokal juga akan dipugar oleh Pemkot Semarang.
Akibatnya banyak klub dan SSB yang selama ini berlangganan menggunakan lapangan tersebut, kesulitan mencari lapangan pengganti.

Kondisinya semakin tak ideal, karena di Kota Semarang ada 25 klub sepak bola lokal, dan sekitar 40 Sekolah Sepak bola (SSB), tapi jumlah lapangan sepak bola yang layak tak lebih dari 10. Tak hanya klub dan SSB, Asprov PSSI Kota Semarang pun kesulitan mencari lapangan pengganti untuk menggelar kompetisi. Apalagi saat ini klub binaan Asprov PSSI Kota Semarang, PSIS U-17 juga masih berlaga di Piala Soeratin 2019. Selama ini PSIS U-17 ini menggunakan Stadion Citarum sebagai home basenya.

Supriyadi, Ketua Asprov PSSI Kota Semarang mengatakan, dirinya mengaku kesulitan untuk mencari lapangan pengganti sebagai home base.

“Saat ini kami masih komunikasi untuk bisa “nunut” di lapangan Arhanudse Jatingaleh, Banteng Raiders Srondol, atau di lapangan Brimob Banyumanik untuk mengarungi kompetisi Piala Soeratin 2019,” katanya, Rabu (2/10/2019).

Diakuinya, di beberapa kecamatan memang ada lapangan sepak bola yang bisa digunakan untuk latihan. Seperti Lapangan Sumurboto, Lapangan Sentyaki, Lapangan Sambiroto, dan beberapa lapangan lain. Namun kondisinya kini kurang memungkinkan karena ada bangunan jogging track dari paving di pinggir lapangan yang bisa membahayakan atletnya.

Supriyadi pun berharap ada pembenahan lapangan untuk menunjang prestasi sepak bola Kota Semarang. Seperti lapangan Sidodadi yang sebenarnya layak untuk dijadikan tempat penyelenggaraan pertandingan sepak bola tingkat lokal.

“Namun sayangnya pembenahan di beberapa lapangan yang telah dilakukan kurang sesuai harapan pegiat sepak bola. Semangat yang berbeda, pemkot ingin menambah ruang terbuka hijau, sementara untuk pembinaan atlet butuh lapangan layak,” katanya.

Kondisi minimnya lapangan layak di Kota Semarang juga dikeluhkan beberapa pengurus klub lokal.
Kondisi tersebut membuat klub-klub sepak bola sulit berlatih secara rutin.

“Klub-klub itu tak jarang langsung bertanding saat kompetisi digelar, tanpa melalui proses latihan. Yang penting mengumpulkan pemain, diberi kostum, lalu bertanding bila jadwalnya bertanding,” keluh Ferdinand Hindiarto, pembina PS Unika, salah satu klub sepak bola di Kota Semarang.

Ferdinand menyebut lapangan sepak bola yang ada di Kota Semarang tidak lebih dari hitungan jari tangan. Sebut saja lapangan Citarum yang akan dipugar, lapangan Sidodadi, Undip, Unnes, Arhanud, Diponegoro, Terang Bangsa dan yang baru saja diresmikan yakni lapangan “Telo” di Banyumanik.
Kondisi ini sangat tidak ideal dengan jumlah klub, SSB dan tidak seimbang dengan animo masyarakat untuk berlatih olahraga rakyat ini.

“Lapangan-lapangan itu pun tidak mudah digunakan. Butuh uang sewa yang nominalnya tidak sedikit kalau akan digunakan untuk latihan,” tambahnya.

Direktur PSIS Kairul Anwar juga mendorong agar pemerintah Kota Semarang serius membangun infrastruktur sepak bola. Menurutnya, dengan minimnya lapangan, maka pembinaan sepak bola di Semarang juga akan sulit berkembang. Kualitas pemain-pemain sepak bola asli Semarang juga akan stagnan.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang