in

Cerita Mantan ABK yang Kini Memilih Budi Daya Ikan Lele

Diki Sugiarto, saat menebar pakan pelet untuk ikan lelenya.

 

RINTISAN bisnis menyeruak kala wabah melanda seperti saat ini. Mulai menjadi bisnis sampingan hingga utama dengan berbagai macam latar belakang.

Seperti halnya yang dijalani oleh Diki Sugiarto, mantan anak buah kapal (ABK) yang sekarang merintis budi daya ikan lele.

Alasan Diki menekuni bisnis barunya itu, setelah nasib tak semulus yang dibayangkan menimpa dirinya saat berlayar di kawasan Black Country, Eropa.

“Waktu itu kontrak berlayar dua tahun, tapi ada pandemi menjadikan Inggris genting. Meskipun tidak sesuai dengan masa kontrak, tetapi masih tetap digaji,” tutur Diki saat ditemui halosemarang.id di rumahnya, di Desa Mundingan, RT V RW II Kelurahan Cepoko,

Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Senin (2/8/2021).
Ia mau tak mau menerima kenyataan bahwa pandemi membuat kapalnya untuk berhenti berlayar, dan menuntut dirinya berlabuh pada dunia budi daya ikan lele.

“Saya diberi pandangan sama adik bahwa budi daya lele menjanjikan. Dari pada gaji saya ke mana-mana, akhirnya saya sepakat memulai bisnis ini,” ujar pria kelahiran Kabupaten Purbalingga itu.

Meski baru seumur jagung, ia telah memanen sebanyak tujuh kwintal ikal lele yang tersebar di sembilan kolam buatan berbentuk lingkaran dengan kedalaman dua meter dan berdiameter tiga meter.

“Awal saya tebar 14 ribu bibit lele, harusnya bisa panen 1 ton. Namun karena masih dibilang belajar, dan kami masih bisa panen 7 kwintal,” terangnya.

Dijelaskannya, tidak ada perlakuan khusus dalam budi daya ikan lele. Untuk menjaga kualitas, Diki memberikan pakan dengan sepenuhnya pelet ikan.

“Daging lele lebih padat dan baunya tidak terlalu amis itu kalau pakannya pelet. Kalau pakannya bangkai ayam dibakar, tekstur daging lele jadi lembek dan baunya amis,” bebernya.

Sirkulasi uang ia jaga betul, tidak sampai berukuran besar ikan lele sudah siap dijual. Sebab, selain membutuhkan waktu lama, juga pengaruh semakin besar lele pakannya akan semakin banyak.

“Karena sepenuhnya menggunakan pelet ikan. Kami menjual setiap satu kilogram dengan ikan lele sebanyak 11 atau 12 ekor,” katanya.

Ia biasa menjual ikan lelenya dengan jasa tengkulak. Namun tak jarang juga para konsumen langsung datang ke kolamnya.

“Lele per kilogram biasa saya jual dengan kisaran harga Rp 18 ribu sampai Rp 22 ribu,” papar pria berusia 34 tahun ini.(HS)

Share This

Dengan Anggaran Rp 200 Juta, Pemkot Semarang Akan Pasang Alat Spayer Pendingin Otomatis di Traffic Light

Pemkab Kendal Terima 5.000 Dosis Vaksin Astrazeneca