in

Cegah Stunting pada Anak, Pemkot Pekalongan Sosialisasi hingga ke Kelurahan

Foto : Pekalongankota.go.id

 

HALO PEKALONGAN – Stunting pada anak tidak selalu akibat kemiskinan, melainkan bisa pula karena ketidaktahuan orang tua dalam mempersiapkan makanan sehat untuk anaknya.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Pekalongan, Nur Agustina SPsi MM.

Dia mengemukakah, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Stunting disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pendidikan pengasuh, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan.

Lebih lanjut Nur Agustina menjelaskan, jika masalah stunting ini tidak segera terselesaikan, maka akan berpengaruh pada banyak aspek anak ke depannya, seperti aspek kognitif, sosial, motorik, psikologis, dan sebagainya.

“Hal ini penting diketahui karena jika tidak teratasi sebelum usia 5 tahun (usia dini), maka kemungkinan untuk diperbaiki akan sangat sulit. Pasalnya, stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi,” kata dia, seperti dirilis Pekalongankota.go.id.

Menurut dia pada 2045 mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi, di mana anak-anak saat ini akan menjadi penerus, yang dipersiapkan untuk memimpin negara.

“Jika mereka tidak disiapkan sejak dini, maka kita akan mengalami suatu masalah generasi yang hilang. Sehingga stunting saat ini menjadi masalah utama secara nasional,” kata Agustin.

Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Pekalongan, bersama kelurahan dan ahli gizi telah memberikan edukasi tentang parenting. Dalam edukasi ini, para orang tua diberi pemahaman tentang cara memberikan stimulasi pada anak.

Orang tua juga diminta senantiasa mendampingi anak. Ketika anaknya susah makan, orang tua perlu berupaya membuat anaknya mau makan. Selain itu orang tua juga dilatih untuk memberikan makanan tambahan pada anak.

Selain mekanan, menurut dia faktor sanitasi dan akses air bersih juga penting. Hal itu menambah risiko anak terkena infeksi, yang dapat menyebabkan asupan makanan menjadi terganggu.

Untuk itu, baik orang tua mauoun anak, perlu membiasakan diri mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar secara sembarangan.

“Semua itu harus sinkron, antara pengasuhan dan keterampilan orang tua menyiapkan makanan. Banyak orang tua yang secara ekonomi mampu, tetapi ternyata anaknya kurang gizi,” kata dia.

Dalam kasus seperti itu, Agustin menduga karena kurangnya pengetahuan dan ketelatenan orang tua, dalam merawat anak-anaknya. Hal ini mungkin akibat kesibukan orang tua bekerja, sehingga anak-anak menjadi kurang mendapatkan perhatian yang optimal.

“Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya,” kata dia. (HS-08)

Share This

Puluhan Mahasiswa Jateng Belajar Literasi Berita Bareng AMSI

Wujudkan Pelayanan Prima, RSUD Cilacap Luncurkan Pendaftaran hingga Resep Digital