Butuh Bantuan, Pekerja Bangunan Ini Harus Kehilangan Dua Tanganya Akibat Kecelakaan Kerja

Anak pertama Subiat, Dita Sari Faulina Putri memegang foto ayahnya yang terbaring di rumah sakit dan membutuhkan pertolongan.

 

NASIB nahas dialami Subiat warga Bendungan RT 5 RW 5, Barusari, Semarang Selatan, Kota Semarang. Bapak empat anak yang setiap hari bekerja sebagai pekerja bangunan ini harus kehilangan kedua tanganya.

Hal itu karena saat bekerja di rumah milik Sukamino Jalan Suyodono, Kelurahan Bulustalan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang pada Rabu (24/3/2021), Subiat mengalami kecelakaan kerja tersengat listrik.

“Sekarang ayah sedang menjalani operasi di RS Kariadi Semarang,” kata anak pertama Subiat, Dita Sari Faulina Putri Jumat (9/4/2021) sore.

- Advertisement -

Saat ini Dita dan kedua adiknya belum bisa menjumpai ayah mereka yang masih dalam tahap operasi di RS Kariadi Semarang. Sementara adik lelakinya tak di rumah kontrakan karena mondok di pesantren.

Mereka bertiga ditemani seorang tetangga di rumah kontrakan papan kayu seluas 7 meter x 3 meter di Barusari, Kecamatan Semarang Selatan.

Menurut Dita, ibunya saat ini sedang menunggu bapaknya yang tengah menjalani operasi pemotongan pergelangan atas tangan kiri di rumah sakit.

Ini merupakan operasi ke lima, dari rangkaian operasi yang membuat bapaknya tak lagi memiliki kedua tangan.
Terutama tangan kiri yang harus dipotong hingga bagian ketiak.

Sedangkan tangan kanan hanya di bagian pergelangan tangan.
Dia menerangkan, saat mendengar ayahnya terkena musibah, Dita saat itu sedang merawat kedua adiknya yang masih balita.

Sedangkan ibunya kala itu sedang berjualan ikan laut di wilayah Menoreh, Sampangan.

Dia mendengar kabar ayahnya sudah dibawa ke rumah sakit namun tak menyangka akan sakit separah itu.

“Tidak menyangka bapak akan diamputasi sehingga kehilangan kedua tangan,” paparnya.

Dia menyebut, bapaknya sudah 17 hari dirawat di rumah sakit. Selama ini memang hanya ibunya yang sibuk merawat dan menemaninya di rumah sakit.

Pihak keluarga juga sempat kebingungan apalagi biaya rumah sakit cukup besar.
Kejadian itu tak bisa dicover BPJS lantaran kecelakaan kerja.

“Kata ibu biaya operasi habis Rp 200 juta lebih tapi jumlah pastinya saya kurang tahu. Apalagi sore ini juga masih ada operasi lagi,” terangnya.

Sementara itu, tetangga korban, Martini mengatakan, korban dan keluarganya merupakan warga pendatang.

Pasangan suami istri itu sudah 19 tahun tinggal di kawasan tersebut. Subiat asal Temanggung dan Siti asal Purwodadi.

Mereka memiliki empat orang anak, terdiri tiga putri satu putra. Anak pertama sudah berusia 19 tahun, kedua 12 tahun yang saat ini tengah belajar di Pondok Pesantren, balita 3 tahun, dan bayi 5 bulan.

“Keluarga tersebut memiliki hubungan baik dengan para tetangga, sehingga musibah tersebut juga membuat kami sangat prihatin,” katanya.

Dia mengaku, sudah lama mengenal keluarga itu, yakni mulai dari awal mereka mengontrak di tempat yang sekarang.

Korban setiap hari memang bekerja serabutan dari belasan tahun lalu. Mulai dari menjadi tukang sampah dan buruh bangunan.

Baru tiga tahun terakhir dibantu istrinya yang berjualan ikan laut di kawasan Perumahan Menoreh, Sampangan.

“Mereka bekerja keras untuk menghidupi empat anak,” paparnya.

Dia pun merasa prihatin dengan kondisi yang dialami oleh korban.

Pasalnya di tengah himpitan ekonomi mendapatkan musibah kehilangan dua tangan.

Apalagi korban harus menghidupi anak-anaknya yang masih kecil. Dia tak bisa membayangkan betapa hancurnya mental korban.

“Luka fisik butuh waktu lama untuk sembuh namun tentu menyembuhkan mental korban lebih lama lagi,” ungkapnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.