in

Bunda Literasi Kota Semarang Dikukuhkan, Role Model Menumbuhkan Minat Baca Masyarakat

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu saat dikukuhkan menjadi Bunda Literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Muhammad Syarif Bando di Kawasan Kotalama Semarang, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Pencanangan Bunda Literasi di Kota Semarang yang digelar di Kawasan Kota Lama Semarang baru-baru ini, diharapkan bisa menjadi role model untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Sebab, saat ini minat baca masyarakat masih kurang menggembirakan. Hal ini berdasarkan survei dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) nilai Indeks Literasi Masyarakat (ILM) baik di tingkat Provinsi/Kota masih rendah.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kota Semarang, Endang Sarwiningsih mengatakan, Pencanangan Bunda Literasi yang digelar di Kawasan Kotalama Semarang sekaligus mengukuhkan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sebagai Bunda Literasi, yang dihadiri langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando.

Dikatakan Endang, Bunda Literasi adalah kepanjangan tangan dari Duta Baca yang cetuskan oleh Perpustakaan Nasional, mulai dari tingkat Provinsi, Kabapaten/kota, Kecamatan, sampai kelurahan.

“Bunda literasi diemban oleh pimpinan daerah di kabupaten/kota, istri pejabat atau pejabatnya. Yang bertujuan guna meningkatkan tingkat literasi masyarakat Kota Semarang. Agar minat baca terutama anak usia dini bisa baik,” terangnya, Senin (8/5/2023).

Dalam meningkatkan minat baca, pihaknya melakukan berbagai kegiatan seperti menjemput bola dengan mendatangi sekolah- sekolah.

“Bahkan, sebelum dimulai jam pelajaran di tiap sekolah, telah dibudayakan yakni selama 10-15 menit dimanfaatkan untuk membaca buku. Kemudian, setelah dibaca, guru akan meminta siswa untuk menceritakan kembali apa yang dibacanya. Alhamdulillah untuk tingkat gemar membaca Kota Semarang berada di posisi nomor 1 di Provinsi Jawa Tengah. Secara nasional, ILM -nya Kota Semarang di bawah Provinsi Jawa Tengah di angka 72,8 provinsi di angka 74,8 dan pusat di angka 64,” imbuhnya.

Kedepan, lanjut dia, harapan Bunda Literasi ini juga bisa menjadi gerakan baca di masyarakat.

“Saat ini kami melaksanakan dengan dua program, yaitu pusling atau perpustakaan keliling. Yakni dengan cara mendatangi sekolah atau masyarakat yang meminta kita untuk melayani bahan bacaan di keramaian. Seperi taman, pasar dan sekolah. Bahkan, melayani di akhir pekan dengan mobil keliling sampai sore hari. Pihak kecamatan juga kami dukung untuk membuka perpustakaaannya,” katanya.

Di samping itu, Dinas Arpus juga mengundang sekolah untuk ke kantor Arsip dan perpustakaan Kota Semarang untuk mengikuti program wisata pustaka.

“Memang untuk saat ini kebanyakan PAUD, TK, SD dan SMP, secara bergantian karena ruangan yang ada terbatas, anak-anak bisa belajar membaca maupun permainan edukasi. Ada juga berupa pemutaran film nobar, dan memberikan edukasi sampai anak difable, tuna rungu, tuna netra yang diberikan oleh narator atau penerjemah tiap adegan. Dengan kapasitas ruangan 50-70 orang anak,” paparnya.

Tak hanya itu, untuk menggencarkan minat baca dan tingkat literasi masyarakat, Bunda Literasi dengan
mendirikan rumah kebon untuk masyarakat, lalu membangun day care untuk pencegahan anak stunting gizi.

“Yang mana memberikan literer ke ibu-ibu agar anak-anaknya tidak kekurangan gizi. Misalnya ibu-ibu saat ini secara massif masak menu resep makanan sehat untuk baduta, salah satu cara meningkatkan literasi masyarakat,” katanya.

Selanjutnya dengan gencarnya literasi ekonomi dan keuangan kepada masyarakat dan PNS, jelas Endang, bisa turunkan tingkat inflasi.

“Inflasi turun, bahkan Kota Semarang tingkat inflasinya paling rendah. Jadi literasi bisa meningkatkan kualitas SDM masyarakat agar bisa maju dan berwawasan luas,” pungkasnya. (HS-06)

 

182 Calon Haji Kendal Belum Lunas BPIH

Tragis, Mayat Laki-Laki Ditemukan Dalam Cor Beton di Semarang