in

Budi Daya Lebah Klanceng, Produk Berkualitas Tingkatkan Imunitas

Tempat budi daya Lebah Klanceng milik Khafid Sirotudin di Weleri, Kabupaten Kendal

 

HALO KENDAL – Madu dikenal banyak memiliki segudang khasiat yang sangat baik untuk tubuh, karena merupakan pangan organik yang diperoleh lebah dari nektar beragam bunga tanaman buah, sayuran, dan rerumputan.

Nektar bunga ditelan dan difermentasi di perut lebah, lalu dikeluarkan melalui mulut dan dikumpulkan pada pot madu. Segudang manfaat yang terkandung di dalam madu murni/asli menjadikan beragam makan olahan berbasis madu dapat ditemukan di aneka produk makanan dan minuman.

Produk turunan berbahan dasar madu dapat dijumpai mulai dari suplemen kesehatan, perawatan kulit, krim untuk luka, hingga jamu/herbal kaya antioksidan, dan lain sebagainya.

Salah satu jenis madu yang cukup populer di masyarakat adalah Madu Klanceng yang dihasilkan oleh lebah madu tidak bersengat (stingless bee), yaitu Trigona SP.

Lebah ini menggunakan gigitan sebagai cara untuk bertahan dari ancaman yang menggantikan peran dari sengat (venom) yang mereduksi.

Menurut pembudi daya lebah klanceng asal Weleri, yang produknya diberi label “KlancengMu”, Khafid Sirotudin, lebah klanceng sangat berbeda dengan lebah madu jenis Apis.

Dijelaskan, lebah klanceng meletakkan madu dan pollen pada pot madu/pot pollen. Sedangkan lebah Apis mellifera meletakkan madu pada lubang-lubang heksagonal yang tersusun dalam sisir-sisir kotak budi daya.

“Banyak manfaat yang bisa kita rasakan setelah mengonsumsi madu KlancengMu secara rutin, setiap hari selama 2-3 pekan. Manfaat madu klanceng lainnya adalah lebih aman dan sehat bagi penderita diabetes mellitus atau kencing manis,” jelasnya kepada halosemarang.id, Minggu (11/7/2021).

Khafid mengatakan, pada dasarnya semua madu memang memiliki beragam manfaat dan khasiat untuk kesehatan.

“Asalkan madu tersebut asli/murni, dan bukan madu SOS (Sirupan, Oplosan dan Sintetis-red),” tandas Khafid yang juga Owner dan Founder dari Tritisan Coffee & Tea Weleri.

Namun, lanjut Khafid, mengingat kedua madu ini dihasilkan dari jenis lebah yang berbeda, maka karakteristik madu yang dihasilkan juga berbeda.

Beberapa perbedaan madu klanceng dengan madu lebah Apis lainnya, rasanya sedikit asam (kadar keasaman 3,05-4,55) dengan kadar air lebih banyak (kadar air 24-30%).

“Pokoknya rasanya unik, perpaduan asam-manis-sepet dan terkadang ada pahitnya,” jelas Khafid.

Selain itu, lanjutnya, tekstur madu klanceng juga cenderung lebih encer dari madu yang dihasilkan lebah Apis (Apis mellifera, Apis cerana, Apis dorsata), karena kadar airnya lebih tinggi.

“Dari segi fisik, madu KlancengMu memiliki warna cokelat muda hingga tua menghitam. Selaras dengan umur madu di dalam pot madu dan lamanya penyimpanan setelah panen. Karena semakin lama warna madu menua dan rasanya semakin asam,” ujarnya.

“Karena produksi madu klanceng setiap koloni per stup/kotak budi daya lebih sedikit dan memiliki keunikan rasa dan manfaat itulah, maka harga madu klanceng juga relatif lebih mahal,” imbuh Khafid.

Menurutnya, terdapat perbedaan, namun keduanya sama-sama memiliki beragam khasiat untuk menjaga kesehatan tubuh.

“Selain madu yang kita konsumsi memenuhi syarat kemurnian/asli, kita harus membiasakan minum madu setiap pagi minimal satu sendok makan (10 cc),” kata Khafid.

Beberapa khasiat yang kita dapatkan saat rajin mengkonsumsi madu klanceng, yaitu imunitas tubuh meningkat.

“Sebab madu klanceng memiliki kandungan flavonoid dan antioksidan sebagai zat penangkal terhadap risiko terpapar berbagai macam penyakit,” imbuhnya.

Meski belum populer sebagaimana madu Apis umumnya, namun budi daya madu klanceng memiliki sisi ekonomis bagi peternaknya.

“Dari harganya, madu klanceng lebih mahal dari madu biasa, karena koloni lebah klanceng tidak menghasilkan madu yang berlimpah, yakni hanya 100-200 ml (T laeviceps) atau 500-700 ml (H itama) setiap stup per 3-4 bulan,” papar Khafid.

Saat ini peminat lebah klanceng terbilang mulai banyak, lebahnya pun relatif lebih mudah dibudi dayakan.

“Lebah ini tidak bersifat agresif dalam mempertahankan sarangnya, sehingga berisiko kecil menimbulkan cedera pada manusia akibat gigitan lebah. Serta tidak perlu angon koloni (mengembala-red) sebagaimana lebah Apis Mellifera,” pungkas Khafid.(HS)

Share This

Stok Darah Di PMI Kendal Untuk Semua Golongan Masih Cukup

Gagal Bayar Tridomain Berujung PKPU