in

Budayawan: Makna Muharram dan Sura Yang Tidak Bertentangan

Budayawan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Raden Mas Teguh Supriyanto, MHum.

 

HALO SEMARANG – Tahun Baru Islam dirayakan setiap satu Muharram. Tahun ini, Tahun Baru Islam Satu Muharram 1443 Hijriyah bertepatan pada Selasa, 10 Agustus 2021.

Bulan Muharram, dalam masyarakat Jawa dikenal dengan bulan Sura. Kata Sura, sebenarnya berasal dari Asyura, yang merupakan hari ke-10 pada bulan Muharram dalam Kalender Hijriyah. Namun karena logat Jawa, masyarakat lebih familiar dengan penyebutan bulan Sura daripada bulan Asyura.

Budayawan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Raden Mas Teguh Supriyanto, MHum menuturkan, tidak ada yang bertentangan dalam penyebutan bulan tersebut.

“Ketika zaman Kerajaan Mataram, Sultan Agung sebagai raja kala itu, mengawinkan tanggalan Islam dengan tanggalan Jawa. Jadi tidak bertentangan. Hanya beda istilahnya saja. Sebab dalam pandangan Jawa, malam satu Sura itu mengikuti ajaran nabi, jadi tidak bisa dipisahkan dari Muharram,” tutur Teguh saat dihubungi halosemarang.id, Selasa (10/8/2021).

Teguh melanjutkan, bulan Muharram atau Sura, akrab dikenal bulan duka cita Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Oleh sebab itu, berbagai perayaan atau peringatan dianjurkan untuk ditiadakan.

“Seperti tidak boleh melakukan acara khitanan, pernikahan dan lainnya. Dalam lingkup keluarga keraton pun saat itu juga demikian, dilarang untuk menggelar perhelatan di bulan Sura, sebagai bentuk belasungkawa. Ditambah saat itu, Kerajaan Mataram Islam, jadi mengikuti ajaran Islam,” jelas Guru Besar Unnes tersebut.

Karena dianggap sebagai bulan duka, imbuhnya, maka pada bulan Muharram atau Sura dilakukan laku pembersihan. Seperti muncul ritual-ritual keagamaan, seperti umat Muslim memanjatkan doa-doa, ayat-ayat kitap suci menjelang bulan Muharram. Dengan harapan supaya di tahun berikutnya menjadi lebih baik.

Begitupun dalam ritual kebudayaan Jawa, tiba saat malam satu Sura di keraton-keraton biasanya membersihkan beragam pusaka mulai dari keris, hingga tombak, yang dibersihkan dengan air bunga.

“Semakin ke sini, pemahaman masyarakat dengan ritual Jawa seperti itu kian meluntur, karena sudah jauh dari lingkungan keraton. Padahal dari simbol-simbol tersebut, terselip makna bagus di dalamnya. Seperti sebuah pusaka pasti merupakan benda tajam, nah artinya itu tajam dalam berpikir, tajam dalam hati rasa, untuk menghadap kepada sang kuasa,” terang Mantan Rektor Politeknik Banjarnegara 2013-2017 itu.

Dijelaskannya, maksud dari berbagai ritual-ritual yang dilakukan saat malam satu Sura tersebut adalah perihal pembersihan badan dan jiwa.

“Jangan memberikan penilaian sepihak, bahwa ritual tersebut musyrik. Manusia itu tergantung dari bagaimana cara berpikirnya,” papar keturunan Sultan Hadiwijaya itu.

Diungkapkannya, pembakaran dupa sebagai medium dalam memanjatkan doa terhadap sang Maha Kuasa, telah digunakan dalam budaya Jawa, jauh sebelum Islam datang di Indonesia. Baginya dalam penggunaan, disesuaikan dengan agama yang ada kala itu. Saat agama Hindu, pembakaran dupa sesuai dengan agama tersebut.

“Saat Islam datang, pembakaran dupa diiringi doa yang dipanjatkan, sesuai dengan cara Islam. Seperti dengan membaca ayat-ayat suci tertentu. Sama halnya dengan saat berziarah kubur, yang dibawa adalah bunga, itu hanya sebagai medium dan simbol. Dupa itu merupakan lambang untuk memanjatkan doa, bunga adalah lambang kesuburan,” ungkap pria kelahiran Banyumas itu.

Orang Jawa, sambungnya, memiliki prinsip untuk hidup harmonis dengan semua makhluk yang ada. Orang Jawa meyakini, ada makhluk lain yang tidak kasat mata, dan hidup berdampingan dengannya.

“Jadi mereka juga harus disapa, agar tidak mengganggu. Tapi pembakaran dupa dan doa-doa malah dipandang syirik,” ujar pria yang mengoleksi buku-buku teks Jawa Kuno ini.

Di Tahun Baru Islam ini, ia berharap masa wabah dunia ini segera berakhir. Menurutnya, dalam hitungan Jawa, tahun baru ini sudah memasuki Windu Sangcoyo yang artinya bulan yang cerah, bersinar.

“Delapan tahun sebelumnya kan masuk Windu Sengoro, artinya delapan tahun kebelakang kemarin itu banyak penyakit, pagebluk dan sudah terbukti. Nah, memasuki Windu Sangcoyo ini, semoga pandemi segera berakhir. Dan delapan tahun ke depan, juga menjadi tahun yang cerah,” harap penulis naskah pewayangan itu.

Ia juga berpesan, untuk bisa introspeksi diri di awal tahun ini, supaya ke depan tidak mengulangi kesalahan yang telah terjadi, pada tahun depan. Sehingga perubahan ke arah yang lebih baik pun akan terwujud.

“Yang terpenting selalu memohon petunjuk kepada Tuhan yang Maha Kuasa, supaya diberi keberkahan, dan kesehatan,” pesan Teguh, penggemar berat dalang Ki Anom Suroto ini.(HS)

Share This

Komisi A Berharap Gedung Perpusda Kendal Bisa Menarik Minat Baca Masyarakat

UKM Paskibra Universitas Semarang Gelar LDK