Bubur India, Kuliner Khas Buka Puasa di Masjid Jami Pekojan Semarang

Bubur India yang tersaji di Masjid Jami Pekojan Semarang.

 

BUBUR India adalah makanan khas Ramadan yang disajikan sebagai menu buka puasa di Masjid Jami Pekojan di Jalan Petolongan No 1 Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Bubur ini disajikan kembali pada Ramadan tahun ini.
Karena pada tahun lalu, kegiatan buka puasa dengan bubur india terkendala pandemi Covid-19.

“Tahun kemarin cuma lima hari di awal. Terus karena pandemi tidak ada. Ini sekarang sudah boleh,” kata takmir Masjid Jami Pekojan Semarang, Taskirin, belum lama ini.

Pembuatan Bubur India ini dilakukan setelah Salat Dhuzur. Dalam proses pembuatan Bubur India, diperlukan bahan yang sama seperti pembuatan bubur pada umumunya, yaitu beras.

Namun di menu khas ini, bubur dilengkapi dengan rempah-rempah yang digunakan seperti jahe, serai, kayu manis, garam, santan dan daun salam.

Kemudian dalam penyajiannya ada ditambah kuah sayur krecek, wortel dan telur. Sebagai pelengkap penyajian, selain bubur juga disediakan minuman air putih atau teh, dan beberapa kurma. Untuk setiap harinya, lauk yang diberikan pun beda dengan sesuai ketersediaan yang ada.

Bubur India di Masjid Jami Pekojan Semarang ini, katanya, dimasak dengan kuali tembaga besar di atas perapian kayu. Setelah itu diaduk hampir selama dua jam.

“Ini diaduk terus selama dua jam. Tidak ada teknik khusus, yang penting bagian bawah teraduk,” ujarnya.

Pada saat jelang Asar, bubur sudah jadi dan mulai datang warga atau anak-anak yang membawa stoples atau tempat makan lainnya. Pengurus masjid kemudian membagikan bubur tersebut kepada mereka.

Kemudian menjelang berbuka, bubur juga dituang ke mangkuk warna-warni untuk disajikan bagi warga yang berbuka di masjid. Mangkuk itu ditempatkan di saf salat yang berada di luar ruang utama salat.

Pandemi atau tidak pandemi, susunan penempatan mangkuk bubur itu sudah menjaga jarak.

“Jadi para jamaah yang berbuka dengan bubur tidak berdekatan,” katanya.

Setelah menyantap bubur sebagai menu takjil, warga biasanya segera melaksanakan Salat Maghrib berjamaah di masjid tersebut.

Untuk diketahui, tradisi dengan menyuguhkan takjil saat berbuka puasa dengan Bubur India sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu. Kala itu pedagang dari Gujarat, India, dan Pakistan datang dan menetap di Petolongan.

Untuk memfasilitasi tempat ibadah bagi para pedagang, maka pada bangun masjid yang kini menjadi Masjid Jami Pekojan disediakan takjil untuk para musafir. Para musafir sering berbuka di masjid yang dibangun para pedagang itu.

Kemudian saat bulan Ramadan banyak pedagang yang membawa bubur sendiri dan lama-lama terbentuk kebiasaan atau tradisi berbuka dengan Bubur India di sini.

Takmir masjid kala itu kemudian bekerja sama dengan pedagang untuk menghidangkan bubur saat berbuka puasa.

Bubur itu kemudian dikenal dengan Bubur India, meski sebenarnya tidak ada bahan yang berasal dari India.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.