Bonita D Sempurno: Saat Ngobrol, Jangan Ada Gadget Di Antara Kita

Bonita D Sempurno (merah) berbincang dengan kliennya belum lama ini.

 

HALO SEMARANG – Pernahkah kita berada dalam situasi bersama seorang teman, namun dia lebih fokus pada ponselnya daripada berbicara dengan kita?

Atau pernahkah kita merasa terganggu oleh ponsel seseorang, karena mereka tidak mendengarkan apa yang sedang kita bicarakan dan sibuk menatap ponselnya?

Menjaga hubungan langsung memang sangat penting, dibanding terjebak dalam hubungan virtual.

Jangan sampai orang lain terganggu dengan sikap kita, yang mengabaikan hubungan langsung demi sebuah percakapan virtual di ponsel.

Demikian disampaikan Bonita D Sempurno, Professional Image Consultant-Public Speaker, saat bincang-bincang santai dengan halosemarang.id, Minggu (1/11/2020).

“Ponsel membuat kita tetap terhubung dengan teman dan keluarga. Di samping itu, ponsel bisa menjadi penyelamat dalam keadaan darurat. Tapi mereka juga bisa mengganggu hubungan sosial jika tidak digunakan dengan benar,” kata Bonita.

Menurutnya, ponsel tidak harus selalu menyala dan tidak selalu harus segera menjawabnya ketika ada pesan masuk. Terutama saat kita sedang berbincang bersama orang lain, baik di acara santai maupun formal.

“Bayangkan saat kita berbincang dengan orang lain, dan kita sibuk sendiri pada layar ponsel, tentunya kita akan menjadi orang yang dianggap tidak peduli dengan lingkungan ataupun dengan orang-orang di sekitar kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita sedang berbicang dengan seseorang, namun orang yang sedang kita ajak bicara malah sibuk memainkan ponsel, tentu moment ini menjadi sangat tidak mengenakkan bagi kita. Apalagi saat kita sedang bicara serius,” ungkapnya.

Dikatakan Bonita, memeriksa smartphone di depan orang lain ketika sedang bertemu dengan orang lain tentu boleh-boleh saja.

Tapi itu hanya untuk hal-hal yang penting atau darurat saja.

“Abaikan pesan yang tidak mendesak, dan selalu permisi kepada orang yang sedang ngobrol dengan kita saat hendak berinteraksi dengan ponsel. Serta persingkat waktunya,” jelas pendiri jasa pendidikan dan konsultasi bisnis manajemen, YPI Training Centre Semarang ini.

Dipaparkan, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan dalam sebuah komunikasi sosial.

Di antaranya fokus pada lawan bicara kita. Kemudian, salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan untuk memelihara hubungan, adalah dengan mendengarkan orang lain bicara.

“Ada prioritas yang perlu kita patuhi, yaitu prioritas pada interaksi langsung. Bukan prioritas pada ponsel. Jadi usahakan matikan ponsel saat kita sedang berkumpul atau berbicara bersama teman dan bahkan relasi,” imbuhnya.

Melakukan hal itu, lanjutnya, untuk memastikan bahwa kita memberikan perhatian penuh pada interaksi langsung.

“Jika kita merasa khawatir kehilangan sesuatu yang benar-benar penting, nyalakan ponsel dalam keadaan getar dan lihat sekilas saja sebelum memberikan perhatian penuh kepada orang tersebut,” terangnya.

Kemudian langkah selanjutnya, bersikaplah dengan empati. Pertimbangkan bagaimana perasaan kita, saat berbagi pengalaman dengan teman atau pasangan, tapi lawan bicara kita terus-menerus fokus ke ponselnya.

“Tidak ada yang suka diabaikan, atau merasa bahwa kita kurang penting dibandingkan orang yang tidak ada secara fisik. Jadi perlakukan orang tersebut sebagaimana kita ingin diperlakukan,” tandas Bonita.

Selain itu, usahakan jangan membuat janji telepon pada jam yang sama, apalagi saat sudah membuat rencana bertemu dengan seseorang. Cobalah menjadwal ulang untuk waktu atau hari lain, saat punya waktu luang.

“Akan lebih baik jika kita menjauhkan ponsel saat kita sedang makan, apalagi bersama keluarga, teman, atau relasi. Kita akan mencerna makanan dengan lebih baik, dan pengalaman bersantap akan jauh lebih menyenangkan bagi kita dan juga teman,” lanjut Bonita.

“Jadi berikanlah perhatian penuh kepada orang-orang di sekitar kita, hargai mereka, dan terlibatlah secara aktif dalam sosialisasi dari mulai mendengarkan, bertanya, bercakap-cakap, dan bersenda gurau,” pungkas Bonita.

Bonita D Sempurno adalah Direktur YPI Training Centre, sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan (pengembangan SDM di bidang soft skill) yang berfokus pada pengembangan diri yang berkesinambungan untuk memaksimalkan potensi diri masing masing individu.

Sampai dengan saat ini YPI Training Centre sudah melayani lebih dari 700 perusahaan baik skala nasional maupun lokal dengan lebih dari 900.000 karyawan perusahaan di berbagai kota baik di Jawa Tengah maupun berbagai daerah, seperti Makassar, Banjarmasin, Bali, Pangkalan Bun, Manado, Kolaka Utara, Majene, Mamuju, Balikpapan, Bangka dan lainnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.