in

Bisnis Prostitusi di Kos-kosan: Nina Mengaku Kos-kosan Lebih Aman, Karena Privasi Terjaga

Petugas Satpol PP Kota Semarang melakukan operasi yustisi di kos mewah di Jalan Slamet Riyadi RT 4 RW IV Gayamsari Kota Semarang, Rabu (28/5/2019) dini hari.

 

KEBERADAAN rumah kos-kosan di Kota Semarang perlu diawasi lebih ketat. Bila tidak tempat tinggal itu bisa disalahgunakan oleh penyewanya. Apalagi pengawasan yang tidak ketat, serta perilaku hidup yang cuek antarsesama penghuni membuat kos-kosan mewah di Kota Semarang rentan disalahgunakan. Bisa sebagai tempat transaksi prostitusi online, peredaran narkoba, atau pelanggaran hukum lainnya. Seperti dikisahkan Nina (23), bukan nama sebenarnya. Wanita yang mengaku bekerja sebagai pemandu karaoke freelance ini mengakui, bahwa banyak kos-kosan mewah di Kota Semarang yang sekaligus dipakai penghuninya untuk praktik prostitusi terselubung.

Nina mengisahkan, kos yang digunakan untuk transaksi seksual biasanya merupakan kos-kosan mewah dengan tarif sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta. Karena selain privasi lebih terjaga, penghuninya kebanyakan memiliki perilaku hidup cuek dengan lingkungan sekitar. Selain itu juga dinilai lebih menguntungkan bagi para pelanggannya, karena tidak usah mengeluarkan biaya untuk sewa hotel jika ingin berkencan dengannya.

“Kalau mau “main” di sini aman, tidak nambah uang sewa kamar. Semua yang di sini sudah saling tahu, dan tidak saling urus kehidupan penghuni kos lainnya. Orang‑orang di sekitar sini juga tidak resek,” kata Nina, yang sudah sekitar setahun ngekos di kos-kosan mewah Jalan Gajah, Rabu (29/5/2019).

Lebih lanjut Nina mengisahkan, bahwa dirinya lebih sering menggunakan kos tersebut untuk transaksi seksual karena aman, jarang dirazia, serta kondisi kamarnya bersih dan bagus.

“Sebenarnya kos-kosan seperti ini banyak di Kota Semarang. Ada di Jalan Gajah, Karang Ayu, Sampangan, Tembalang, dan lain-lain. Kebanyakan penghuninya mahasiswi/mahasiswa dan pekerja tempat hiburan malam,” kata wanita asal Jepara yang mengaku sekali kencan di kos mematok tarif Rp 750 ribu ini.

Untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam pengelolaan kos-kosan, Satpol PP Kota Semarang memang berharap ada aturan terkait aturan jam kunjung serta aturan lain yang mengatur tentang prosedur bisnis kos-kosan.

Hal itu dilatarbelakangi temuan pelanggaran di kos mewah di wilayah Gayamsari, Kota Semarang. Di tempat itu kedapatan ada empat pasangan tidak sah yang terjaring operasi yustisi yang dilakukan Satpol PP Kota Semarang, Rabu dini hari (29/5/2019).

Satpol PP khawatir, keberadaan kos-kos mewah di Kota Semarang ini digunakan untuk berbuat asusila oleh penghuninya. Hal tersebut disampaikan Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat operasi yustisi di beberapa rumah kos mewah, Rabu (28/5/2019).
Fajar juga meminta pemilik kos untuk memperjelas aturan apakah kos-kosan itu diperuntukan bagi pria atau wanita.

“Di sini, tidak ada aturan jam kunjungan, parah ini. Apalagi ada maaf, bencong (waria-red) jadi satu bercampur dengan pria dan wanita. Untuk itu kami juga akan meminta kepada instansi terkait yaitu Dispendukcapil untuk mengeluarkan surat edaran tentang aturan rumah kos, jam kunjungan dan lainnya,” tegas Fajar.

Sebelumnya, puluhan petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang merazia komplek kos mewah yang ada di Jalan Slamet Riyadi, Gayamsari Kota Semarang, Rabu (29/5/2019). Sebanyak 20 orang diamankan, termasuk empat pasangan yang tidak sah status pernikahan tapi berada dalam satu tempat kos.

Mendapat laporan warga, dipimpin langsung Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto membawa dua mobil trantib mendatangi komplek kos tersebut. “Ada tiga tempat yang kami sidak. Harga kamar perbulan juga cukup tinggi, antara Rp 1 juta sampai Rp 3 juta.

Sempat terjadi kucing-kucingan antarpetugas dan penghuni kos. Seolah paham kedatangan Satpol PP, para penghuni kos yang kebanyakan mahasiswi tersebut langsung mematikan lampu kamar. Menyamarkan jika di dalam kamar tidak ada penghuninya.

Petugas pun tak kalah strategi, satu persatu kamar diketuk, ditunggu sampai benar-benar pintu kamar dibuka. Alhasil ditemukan empat pasangan muda-mudi asik berduaan di kamar.

Bahkan satu pasangan muda-mudi didapati bugil sedang berada di ranjang. Kaget akan kedatangan petugas, sang pria lari tunggang langgang dan bersembunyi di toilet kamar mandi.

Setelah berpakaian lengkap, keduanya diminta membuat surat pernyataan, dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) disita oleh petugas Satpol PP. “Kami prihatin, mereka masih mahasiswa, padahal ini malam bulan suci Ramadan,” kata Fajar.(HS)

Kapolda Jateng: “Kalau Tinggalkan Rumah untuk Mudik, Pastikam dalam Kondisi Aman”

Hanya Bawa 18 Pemain, PSIS Berambisi Ambil Poin Perdana Laga Tandang