in

Bimas Buddha, BRIN, dan Tim Ahli Lakukan Studi Lapangan Rencana Pemasangan Chattra Candi Borobudur

Rapat pembahasan rencana pemasangan Chattra pada Candi Borobudur. (Foto : kemenag.go.id)

 

 

HALO MAGELANG – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag, menggelar kunjungan lapangan untuk membahas dampak Pemasangan Chattra pada Candi Borobudur.

Kajian ini dilakukan bersama Tim Ahli dari Pusat Arkheolog Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peneliti, pakar, praktisi, serta Tim Pemanfaatan Candi Borobudur Ditjen Bimas Buddha.

Studi lapangan dilakukan setelah Ditjen Bimas Buddha, menggelar serangkaian Focus Group Discussion (FGD), yang membahas rencana pemasangan Chattra pada Candi Borobudur.

Kepala Kemenag Kabupaten Magelang, Muhammad Miftah, menyampaikan terima kasih kepada Ditjen Bimas Buddha dan tim atas kepercayaan dan diamanahi sebagai tuan rumah untuk mengkaji pemasangan Chattra di Candi Borobudur.

“Baru-baru ini, saya ngobrol dengan BhantePannavaro, membicarakan perihal pemasangan Chattra. Hal itu sangat baik dan memiliki nilai filosofi dalam agama Buddha,” kata Muhammad Miftah, menceritakan hasil pertemuannya dengan Bhante Pannavaro, di Borobudur, baru-baru ini.

“Saya berharap Tim ini dapat menyelesaikan tugas sampai akhir dan bisa menghasilkan kesimpulan yang terbaik dalam hal pemasangan Chattra ini,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.

Muhammad Miftah menjelaskan bahwa nilai-nilai religi yang terkandung dalam Chattra itu sangat penting, utamanya bagi Umat Buddha.

Pembimas Buddha Kemenag Kabupaten Magelang, Saring menjelaskan bahwa sampai saat ini secara umum masyarakat sangat mendukung pemasangan Chattra.

“Kami umat Buddha sangat mendukung. Karena ada nilai filosofis, dan nilai religisnya,” tandas Saring.

Terpisah, Kepala Ikatan Arkheologi Indonesia Marsis Sutopo menyampaikan bahwa wacana pemasangan Chattra pada Candi Borobudur sudah muncul beberapa tahun lalu.

“Pada prinsipnya, secara Arkheologi, pemugaran Cagar Budaya itu adalah alasan akademis, regulasi, dan lainnya,” kata Marsis Sutopo.

Dalam Undang-undang Cagar Budaya, lanjut Marsis Sutopo, misalnya disebutkan, yang bisa dilakukan terhadap cagar Budaya adalah rekonstruksi. Artinya, mengembalikan bahan ke bentuk semula, boleh dengan bahan baru. Bahan baru diberi tanda, agar bahan lama terpasang.

Selain rekonstruksi, kata Marsis Sutopo, ada konsolidasi. Yakni, pembersihan wilayah candi atau cagar budaya. Selanjutnua, rehabilitasi, yakni perbaikan yang sifatnya parsial.

“Dan terakhir yang mungkin dilakukan adalah Restorasi. Ini berarti pengembalian bentuk bangunan yang sudah runtuh, yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” jelas Marsis Sutopo.

Pakar/praktisi Agama Buddha Hendrick Tanuwidjaja menjelaskan bahwa chattra yang akan terpasang pada stupa induk Candi Borubudur nantinya akan mempunyai nilai spiritual tersendiri bagi umat Buddha.

“Chattra terdiri atasbeberapa bagian lapisan, sesuai dengan Tripitaka (kitab suci ajaran Buddha). Chattra terbaik terdiri atas tiga belas lapis tingkatan, sepuluh lapis di bawah melambangkan sepuluh tingkatan pencerahan bodhisattva, tiga lapis teratas melambangkan tiga kesadaran Buddha yang damai dan tentram. Puncak payung di atas tiga belas lapis tersebut melambangkan welas asih yang mengayomi semuanya,” jelas Hendrick.

Tim Ahli BRIN, Irfan Mahmud menyampaikan bahwa melihat pemasangan Chattra ini dari sisi sosiokultural yang harus memikirkan kondisi atau peningkatan ekonomi masyarakat.

“Setelah pemasangan Chattra nanti, apakah berimplikasi kepada peningkatan pengunjung yang efeknya peningkatakan ekonomi bagi masyarakat sekitar!,” kata Irfan Mahmud. (HS-08)

Tim PKM USM Beri Pelatihan Jurnalistik ke Guru TK Aisyiyah

Legislator di DPR RI Soroti Gencarnya Penyaluran Bansos