Biarkan Kucing Hidup di Kota Lama

Winarni atau akrab di sapa dengan sebutan Win Kucing, memotret seorang pengunjung di Taman Srigunting, kawasan Kota Lama Semarang. (Foto : Margareta Mawardi / Halo Semarang)

 

HALO SEMARANG – Sambil mengeong berkali-kali, seekor kucing abu-abu nampak mendekati seorang perempuan di Taman Srigunting Kawasan Kota Lama Semarang.

“Ya sayang, sebentar ya. Tunggu di sana,” sahut perempuan itu seakan-akan mengerti apa keinginan hewan berkaki empat itu.

Si kucing pun seakan-akan paham, apa yang dimaksud dengan kata “sebentar”. Setelah berhenti sejenak untuk ‘menandai tempat’, kucing abu-abu itu pun pergi meninggalkannya.

Adapun perempuan bernama Winarni atau sering disapa dengan sebutan Win Meong itu, melanjutkan melayani pengunjung yang berfoto.

“Itu sebenarnya bukan milik saya. Tetapi kami sudah sangat akrab. Dia juga sudah lama hidup di sini dan menjadi ‘warga’ Kota Lama,” kata Winarni.

Kepada Halo Semarang, dia bercerita bahwa di kawasan Taman Srigunting memang terdapat banyak kucing.

Sebagian ada yang memang dipelihara orang. Tetapi ada pula yang benar-benar kucing liar dan beranak pinak di tempat itu.

Bagi dia, para meong itu sudah seperti teman dan bagian dari keluarga. Apalagi hingga di usiannya yang ke 49, perempuan berbintang Leo itu masih melajang.

“Banyak dari mereka saya biarkan bebas berkeliaran. Walaupun liar, mereka juga saya beri makan. Ketika sakit, saya juga beri obat seadanya. Ada kalanya saya berkeliling Kota Lama, hanya untuk memberi mereka makanan,” tutur Winarni.

Makanan yang dia berikan pun beragam. Kadang para “meong” itu dia beri nasi dengan lauk ikan. Kadang pula dia beri makanan khusus kucing.

Sedemikian dekat dia dengan “teman-temannya” itu, hingga Winarni tak rela kalau ada orang yang menyakiti atau membuang mereka.

“Pernah ada kucing di sini diambil orang, lalu dibuang. Seharian saya mencari dan untungnya ketemu di dekat Old City (Museum 3D). Saya yakin dia diambil orang dan kemudian dibuang. Soalnya, kucing-kucing di sini tidak mau pergi jauh-jauh,” kata dia.

Setelah terdiam sebentar, Winarni pun melanjutkan bercerita. Dia menuturkan bahwa hidup di kota besar seperti Semarang memang tidak mudah. Apapun dilakukan, demi dapat bertahan.

Dia mengaku pernah menjadi pemandu lagu di karaoke, dan pernah pula menjadi tukang parkir. Di Taman Srigunting itu, dulu dia pernah ikut bekerja menyewakan sepeda.

Tetapi kemudian karena pengelolaanya diambil orang lain, dia pun beralih mencari penghasilan lain. Ketika ada orang yang berfoto-foto di Taman Srigunting, dia mendekati dan mencoba ikut mengarahkan gaya. Tak jarang pula, dia membantu pengunjung untuk berfoto.

Melalui jasanya itulah, Winarni bisa memperoleh penghasilan yang kemudian dia kumpulkan. Sebagian penghasilan itu dia berikan ke ibu, sebagian lagi untuk bertahan hidup, dan untuk membelikan makanan kucing.

Sebelum Covid-19 masuk ke Semarang dan ketika Kota Lama banyak dikunjungi wisatawan, dia mengaku dalam sehari bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 300 ribu.

Tetapi ketika pandemi terjadi dan wisata Kota Lama Semarang ditutup, dia bahkan pernah selama berhari-hari tak mendapat penghasilan. Demi bertahan hidup, dia pun terpaksa menjual ponsel yang dulu pernah diberikan oleh Ibu-Ibu Srikandi Kota Semarang.

“Untuk ibu-ibu Srikandi, saya benar-benar mohon maaf. Saat itu saya benar-benar tak lagi mempunyai uang,” kata dia. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.