Bersepeda Jadi Tren Warga, Harga Onderdil Becak Pun Ikut Naik

Zaenal Abidin Petir foto bersama pengayuh becak di Surtikanti, Semarang.

 

HALO SEMARANG – Bersepeda sedang menjadi tren sarana olahraga bagi banyak warga di Kota Semarang selama pandemi virus corona atau Covid-19.

Masyarakat, baik dari ekonomi kelas bawah hingga atas, banyak yang kembali menekuni hobi bersepeda. Tujuannya selain untuk berolahraga, juga untuk menempuh sebuah perjalanan dan beraktivitas harian.

Ada banyak faktor yang menyebabkan peningkatan pengguna sepeda di Kota Semarang. Salah satunya bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berolahraga pada masa pandemi wabah corona.

Namun di balik tren bersepeda, ternyata juga berpengaruh pada sektor lain. Selain menjamurnya bengkel reparasi sepeda yang muncul, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga onderdil sepeda.

Hal ini pun berdampak langsung pada para pelaku jasa transportasi becak kayuh. Dikarenakan onderdil becak kayuh, kebanyakan sama dengan onderdil sepeda.

Supardi, pengayuh becak yang ditemui di sekitar bundaran Bubakan Semarang mengatakan, akhir-akhir ini di tengah meningkatnya tren bersepeda di banyak kota, harga onderdil becak juga naik. Rantai becak yang biasa dia beli dengan harga Rp 25 ribu, kini melonjak jadi sekitar Rp 35 ribu.

Begitu juga dengan perangkat roda dan ban becak, juga naik dua kali lipat.

“Untuk mengakalinya kami beli onderdil bekas di tokang loak. Tapi harganya juga naik. Velg dan ban bekas yang biasanya bisa saya beli dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu tergantung kelayakan, kini harganya sudah di atas itu. Bahkan sampai Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Itupun kini cari yang masih bagus agak susah, karena juga diburu para penghobi sepeda,” katanya.

Kondisi ini menurutnya sangat memberatkan bagi dia dan pelaku jasa becak kayuh di Semarang. Apalagi di tengah wabah corona banyak pasar dan objek wisata yang tutup.

Wisatawan, turis, dan pedagang yang selama ini jadi pelanggannya, kini mulai tak banyak yang menggunakan jasa becak kayuh.

“Kondisi sekarang sepi. Cari pendapatan susah. Tapi mau bagaimana lagi, memang kondisi sedang seperti ini,” kata pria paruh baya ini.

Zainal Abidin Petir, Ketua LBH Petir Jateng pun mengomentari kondisi ini. Menurutnya di tengah maraknya tren bersepeda di masyarakat, ternyata juga berdampak kurang baik bagi sebagian masyarakat kecil, khususnya tukang becak.

Hal ini menurutnya jadi problem tersendiri dan dilema sosial.

“Saat para pejabat banyak yang sepedaan dan membeli sepeda dengan harga mahal, di situasi sama banyak pula para pengayuh becak yang makin kesulitan memperoleh onderdil alat kerjanya,” katanya.

Ditambahkan, penumpang becak saat ini juga makin sedikit karena kalah dengan ojek online. Penumpang biasanya hanya meneruskan langganan pedagang pasar yang masih setia dengan tukang becak.

“Itupun karena pelanggan sifatnya sambil membantu untuk pendapatan mereka,” kata Zainal Petir yang juga Ketua Bidang Advokasi Hukum PPJP (Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar) Kota Semarang ini.

Maka dia berharap para penghobi sepeda bisa lebih berempati pada situasi seperti ini. Misalnya tetap santun dalam berlalu lintas dan memahami situasi sekitar saat bersepeda bersama komunitasnya.

“Karena hal ini bisa memicu persoalan kecemburuan sosial di masyarakat,” tandasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.