Berprofesi Sebagai Guru Honorer, Sosok Cawabup Ani Dinilai Sangat Tahu Persoalan GTT dan PTT

#Pilkada Kendal

Cawabup Yekti Handayani (tengah) saat sosialisasi di Rumah Pemenangan Nurani di Kendal, Senin (28/9/2020).

 

HALO KENDAL – Sosok Cawabup Yekti Handayani yang selama ini berprofesi sebagai guru honorer di Kendal, dinilai sangat tahu persoalan dan dilema yang dihadapi para guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) di Kabupaten Kendal.

Hal ini yang mendorong politisi muda Gerindra, Hegar Saputra, ikut mendukung Bu Ani, sapaan akrab Yekti Handayani.

“Bu Ani yang berprofesi sebagai pengusaha dan di sisi lain sebagai guru honorer, bisa mewakili aspirasi dari kalangan masyarakat bawah,” kata anggota DPRD Kendal dari Dapil 3 yang meliputi kecamatan Singorojo, Boja, dan Limbangan (Siboli).

Dikatakan oleh Hegar, profesi lain Ani sebagai guru honorer, membuatnya mengerti persis persoalan yang dialami para guru tidak tetap (GTT).

“Saya salut Bu Ani yang sudah menjadi pengusaha sukses tapi masih mau menjadi guru honorer. Tentunya bicara soal pendidikan, beliau adalah pelaku. Selain GTT, ada suster, perawat, dan banyak profesi lain yang mengabdikan diri untuk melayani kepentingan orang banyak,” ungkap Hegar.

Atas dasar itulah, dirinya mengaku siap memenangkan pasangan calon Ustadz Ali Nurudin dan Yekti Handayani (Nurani).

Pertimbangan penting lainnya, imbuh Hegar, karena paslon Nurani berasal dari putra daerah.

“Dapil 3 Nurani wajib menang, tidak bisa ditawar-tawar lagi,” imbuhnya, di sela peresmian rumah pemenangan Nurani baru-baru ini.

Sementara itu, Cawabup Ani mengaku dirinya tidak asing dengan daerah Siboli. Dikatakan, dirinya pernah menjadi guru honorer di SMP Negeri 2 Boja dan SD di Desa Kertosari, Singorojo.

“Sampai sekarang saya juga masih mengajar. Di SD Negeri Kebongembong di dekat rumah saya, dan MTs Falahul Huda di Plantungan. Saya menjadi guru bantu mengajar bahasa Inggris,” terangnya.

Ditanya soal aktivitasnya sebagai guru sementara dirinya sudah menjadi pengusaha sukses di bidang pertambangan, dirinya mengaku menjadi guru merupakan panggilan jiwa.

Di samping itu, menurutnya menjadi guru tidak semata-mata untuk mencari materi.

“Alhamdulilah, untuk kebutuhan materi saya dan suami sudah tercukupi. Saya sampai hari ini masih mengajar karena memang dibutuhkan oleh pihak sekolah. Kebetulan mencari guru bahasa Inggris di sekolah terpencil itu tidak mudah. Kalaupun ada, apa mau jika diberi upah kecil,” ungkapnya.

Alumnus IKIP PGRI Semarang tersebut juga menceritakan, dirinya menjadi guru sejak lulus kuliah.

“Dari profesi yang saya jalani, saya merasakan perjuangan para guru dalam ikut mencerdaskan anak bangsa. Apalagi para guru honorer di sekolah negeri maupun swasta,” ujar Ani.

Saat disinggung apa yang ingin dilakukan untuk mengangkat kesejahteraan para guru, Ani menyatakan akan mengupayakan upah yang layak untuk para GTT dan guru di sekolah swasta.

“Untuk guru di sekolah swasta atau yang ada di bawah yayasan, kami akan berinovasi menelurkan kebijakan di bidang pendidikan,” ucapnya.

Dijelaskan, para GTT-PTT diberikan intensif dengan nilai beragam sebagai apresiasi dari daerah atas jasa para pendidik, yang dianggarkan melalui APBD atau BOS.

“Karena saya mengalaminya sendiri, jika diberi amanah nanti saya dan Pak Ustad Ali ingin berikan perhatian kepada GTT. Minimal mereka mendapatkan penghasilan yang layak dalam ativitas mengajarnya,” katanya.

Menurut Ani, intensif dari daerah ini tak hanya diberikan kepada para GTT dan PTT, melainkan guru madrasah diniyah, pendidikan anak usia dini (PAUD), termasuk taman kanak-kanak (TK) pun juga menerima.

Menurutnya, untuk besar kisarannya akan ditentukan melalui peraturan kepala daerah.

“Intensif ini nantinya merupakan bentuk apresiasi bagi para guru atas jasanya mendidik para generasi penerus bangsa utamanya di kabupaten Kendal,” pungkas Ani. (HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.