in

Bermula Kembara Bermuara Kendara, Sehimpun Puisi Naka Mencatat Sebuah Peristiwa

Setia Naka Andrian (kiri) saat menjelaskan isi puisinya Bermula Kembara Bermuara Kendara yang dibedah Perpustakaan Universitas PGRI Semarang, Kamis (21/10/2021).

 

PENGALAMAN adalah guru terbaik, begitu ungkapan kata-kata bijak. Pada kenyataannya memang begitu, pengalaman memberi manusia banyak pelajaran, ide, serta gagasan.

Melalui perjumpaaan bertemu seseorang, atau berkunjung ke suatu tempat yang jauh, atau peristiwa-peristiwa yang berkesan, semua itu mengayakan pengalaman batin manusia.

Hal itulah di antaranya yang menjadi sumber dari penciptaan puisi bagi penyair Setia Naka Andrian.

“Pertemuan dengan orang-orang serta perjalanan yang saya alami memantik untuk menuliskannya dalam bait-bait puisi. Bahkan di jalan pun seringkali saya mendapat ide menulis puisi,” ungkap Naka saat menyampaikan paparannya dalam acara bedah buku “Bermula Kembara Bermuara Kendara” karya dirinya sendiri, yang digelar oleh UPT Perpustakaan Universitas PGRI Semarang di Gedung Perpustakaan, Kamis (21/10/2021).

Heri CS, penyair sekaligus pegiat Komunitas Lereng Medini yang didaulat sebagai pengupas, melihat gelagat Naka yang juga dosen Universitas PGRI Semarang itu dalam mencatat peristiwa keseharian begitu besar.

“Bahkan pertemuan dengan seorang kawan bisa menjadi bahan untuk menulis puisi, ini menunjukkan betapa peka Setia Naka ini memungut ide dari hal-hal sepele,” ungkapnya.

Heri juga menilai, Setia Naka mampu mengombinasikan pengalaman itu ke dalam puisi dengan tegangan antara yang liris dan prosaistik.

Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan, Endah Rita Sulistya Dewi menambahkan, program bedah buku rutin digelar tiap tahun guna memberi informasi tambahan terkait buku-buku baru serta untuk turut mengajak mahasiswa lebih sering berkunjung ke perpustakaan.

Endah menilai pemaparan dari penulis buku dan pembahasnya memberi pemahaman yang sederhana terkait bagaimana sebuah puisi ditulis.

“Apa yang disampaikan Mas Setia Naka ini membuat kita tahu, bahwa menulis puisi berasal dari pengalaman sehari-hari, tinggal kita yang seharusnya peka melihat keadaan,” ujarnya.(HS)

Share This

Ratusan Monyet Dari Goa Kreo Berebut Makanan di Gunungan Dan Tiang Panjat Pinang

Hendi Ajak Anak Muda Kota Semarang Berinvestasi Nama