in

Berkat Bibit Unggul dari Kementan, Sawah Tadah Hujan di Blora Tak Lagi Gagal Panen

Demplot penangkaran benih varietas Cakrabuana dalam pilot project Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif dari Kementan, di desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Sawah tadah hujan di Desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo, yang biasanya gagal panen karena kurang air pada musim tanam kedua (MT2), untuk kali ini ternyata berhasil panen. Keberhasilan ini antara lain berkat 10 varietas bibit unggul, hasil Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK), yang dilakukan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian.

Perasaan gembira pun diungkapkan Bupati H Arief Rohman SIP MSi, ketika menerima kunjungan Kepala Badan Balitbangtan Kementerian Pertanian, Dr Ir Fadjry Djufry MSi, Kamis (17/6). Kedatangannya ke Blora, untuk meninjau sawah tadah hujan yang dijadikan pilot project penanaman bibit hasil RPIK tersebut.

Rombongan tiba di persawahan Desa Prantaan didampingi Bupati H Arief Rohman SIP Msi dan Kepala Dinas Pertanian Ir  Reni Miharti M Agr Bus.

“Terima kasih Balitbangtan Kementerian Pertanian. Blora yang biasanya dikenal kering, susah air, serta sering gagal panen, kini perlahan mulai berubah dengan bantuan Pak Kepala Badan dan jajarannya. Jika memungkikan, nanti saat panen akan kami undang Pak Menteri, untuk hadir ke Blora untuk memotivasi petani kami,” kata Bupati, seperti dirilis Blorakab.go.id.

Adapun bantuan bibit yang sebelumnya diberikan Kementerian Pertanian, adalah Cakrabuana, Inpari 39 Tadah Hujan, Inpari 46 Agritan TDH, Inpari 43 Agritan GSR, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari Digdaya, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 12, dan Inpago 13 Fortiz. Diperkirakan tanaman padi ini, akan memasuki masa panen pada pekan pertama Juli 2021.

Untuk varietas Cakrabuana, menurut Bupati, diprediksi bisa menghasilkan gabah sebanyak 10,2 ton per hektare.

“Dari 16 Kecamatan se Kabupaten Blora, ada ada 4 Kecamatan yang ketersediaan airnya stabil. Selebihnya merupakan Kecamatan dengan sawah tadah hujan. Dengan adanya teknologi RPIK ini, kami berharap kedepan bisa direplikasikan ke seluruh wilayah Blora,” tambah Bupati.

Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian RI Dr Ir Fadjry Djufry MSi, mengatakan dari uji coba penanaman 10 varietas padi di lahan tersebut, diketahui Cakrabuana yang menunjukkan hasil paling baik.

“Alhamdulillah ternyata pertumbuhan 10 varietas padi hasil penelitian Balitbangtan di sini bisa tumbuh bagus. Yang paling bagus terlihat ada Cakrabuana, mungkin ini yang paling cocok dengan kondisi tanah Blora. Kami bertekad agar produktivitas pertanian bisa terus ditingkatkan meskipun pada lahan sawah tadah hujan yang minim air seperti di Blora ini,” kata Dr Ir Fadjry Djufry MSi.

Dia berharap keberhasilan ini bisa dilanjutkan dan para petani di Desa Prantaan bisa menjadi pelopor atau tutor bagi para petani di desa lainnya.

Sementara itu, Yatmo salah satu petani berharap program ini bisa terus berlanjut dan terus didampingi pemupukannya karena cukup memakai pupuk organik.

“Ketika sawah di desa sebelah sudah ditanami jagung karena kurang air, kita masih bisa panen padi. Ini luar biasa,” katanya.

Ia berharap semoga berlanjut dan minta tolong diajari tentang pembuatan pupuk organiknya, atau pupuk kandangnya. Karena yang akan kita panen ini kemarin dipupuk dengan pupuk organik dari Pati.

“Padahal Blora sendiri banyak kotoran sapi dan jagung, serta bahan pupuk lainnya,” ungkap Yatmo.

Hal ini pun langsung direspon Bupati. Bupati yang akrab disapa Mas Arief ini mengaku siap mengawal dan bekerjasama dengan Balitbangtan untuk pendampingan pembuatan pupuk, hingga progam lain seperti pembuatan pakan ternak dan lainnya. (HS-08)

Share This

Kasus Covid-19 Meningkat, Wabup Kendal Cek Kesiapan RSUD dr Soewondo dan RSDC Kendal

Pertanian Penyumbang Pertumbuhan Ekonomi saat Pandemi