Bercanda dengan Petani di Klaten, Ganjar : Rojolele Kui Rojone Endi Lelene Endi

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sedang bedialog dengan petani, dalam uji coba penanaman padi Rojolele Srinuk, di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.(Foto : Capture Video Youtube Ganjar Pranowo)

 

HALO KLATEN – Suasana akrab tampak dalam video berjudul Kembalinya Beras Rojolele Delanggu”, yang diunggah di akun Youtube Ganjar Pranowo, Kamis (12/12).

Dalam video berdurasi 8 menit 20 detik itu, terlihat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, mengunjungi lokasi uji coba penanaman bibit padi varietas Rojolele Srinuk, di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.

Setiba di sawah siang itu, Ganjar langsung menyapa para petani di kejauhan.

“Buk…panjenengan nanam nopo ? (Bu, sedang menanam apa ?),” tanya Ganjar dengan setengah berteriak berusaha mengalahkan suara angin.

Petani pun menyahut bahwa saat itu mereka sedang menanam bibit padi rojolele.

“Lho rojone sing endi, lelene sing endi ?. (Lho, rajanya yang mana, lelenya yang mana,’’ sahut Ganjar kemudian.

Sadar sedang diajak bercanda oleh Gubernur, petani pun menyahut dengan candaan.

“Rojone panjenengan Pak. (Rajanya anda Pak),” sahut petani disambut gelak tawa semua orang yang ada di tempat itu.

Rupanya Ganjar belum puas mengajak bercanda petani.

“Niki tandure kok maju bu ?. (Ini bertanam kok maju),” tanya dia

“Niki mboten tandur, ning taju Pak. (Ini bukan tandur, tapi taju Pak),” yang kembali disambut gelak tawa orang-orang.

Rupanya petani mengartikan tandur bertanam sebagai bertanam secara mundur dan taju adalah bertanam sambil berjalan maju.

Saat itu Ganjar juga bertanya tentang rentang waktu antara bertanam hingga panen. Petani pun menjawab, kalau dulu mulai dari tanam hingga penen sekitar enam bulan, maka untuk saat ini hanya 3,5 bulan.

“Nek iki engko pirang wulan jarene ?. (Kalau ini nanti berapa bulan katanya ?)” tanya Ganjar

“Nggih 3,5 nopo 4 wulan jarene. (Ya 3,5 atau 4 bulan katanya),” jawab petani.

“Kok jarene. Jare sopo ?. (Kok katanya. Katanya siapa ?)” sahut Ganjar lagi yang langsung disambut gelak tawa.

Sementara itu, Ketua Sanggar Rojolele Desa Delanggu, Ikhsan Hartanto mengatakan bibit padi yang diuji coba ditanam oleh petani itu adalah varietas Rojolele Srinuk.

Uji coba penanaman Rojolele Srinuk, dilakukan di lahan seluas empat hektare, di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.

Menurut dia, varietas ini punya banyak keunggulan. Jika beras dari padi ini dimasak, akan menghasilkan nasi yang wangi, pulen, dan enak. Selain itu masa tanamnya juga hanya 105 hari, lebih singkat dari rojolele biasa yang mencapai 6 bulan.

“Ini beras rojolele, hasil riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Klaten dan beberapa petani dari delanggu,” kata dia.

Lanjut Ikhsan, dengan sistem jajar legowo, bulir padi yang dihasilkan juga bisa lebih banyak, dibanding jika bertanam dengan cara biasa. Dengan benih ini dan kualitas air yang baik, akan menghasilkan beras kualitas premium. Harganya pun akan menjadi lebih mahal dibanding beras biasa. Dengan begitu petani menjadi lebih sejahtera.

“Pasar yang kami tuju memang pada pasar premium,” kata dia.

Menanggapi hal itu, Ganjar Pranowo menyarankan agar petani beralih menggunakan pupuk dan pestisida organik.

“Uji cobanya harus sampai ke organik. Nanti harganya bisa lebih mahal lagi. Itu pasti luar biasa. Sekarang orang khan cari makanan yang berkualitas ya,’’ kata Ganjar.

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.