in

Berbicara di Universitas Muhammadiyah Kudus, Iptu Subkhan Ajak Mahasiswa Tangkal Radikalisme

Kanit Keamanan Satuan Intelkam Polres Kudus, Iptu Subkhan SH MH, dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru dan Masa Taáruf Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Kudus. (Foto : Humas.polri.go.id)

 

HALO KUDUS – Mahasiswa dapat berperan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, dari ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Namun untuk dapat menangkal, mahasiswa perlu mengenali paham-paham semacam itu.

Upaya untuk menangkal radikalisme dan terorisme tersebut, merupakan salah satu materi yang disampaikan Kanit Keamanan Satuan Intelkam Polres Kudus, Iptu Subkhan SH MH, dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKBMB) dan Masa Taáruf (Masta) Bagi Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Kudus, Tahun Akademik 2021 / 2022.

Kegiatan yang diikuti 500 mahasiswa itu, diselenggarakan secara hibrida. Sebanyak 250 mahasiswa mengikuti secara langsung di Gedung Auditorium UMKU dan 250 mahasiswa lainnya secara virtual.

Menurut Iptu Subkhan, mengenali intoleransi, radikalisme, terorisme, dan paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila, adalah salah satu cara untuk menangkalnya. “Kita tidak akan dapat menangkal, kalau tidak mengetahui apa yang harus ditangkal,” kata dia, seperti dirilis Humas.polri.go.id.

Lebih lanjut Iptu Subkhan mengatakan bahwa pemuda merupakan golongan terpilih dalam masyarakat. Pemuda, menurutnya adalah generasi penerus, generasi pengganti,  dan generasi pembaharu.

Dalam catatan sejarah, tidak ada perubahan suatu negara tanpa adanya peran pemuda. Mereka bukan hanya sebagai agen perubahan, tapi juga pelaksana dari perubahan tersebut.

Mengutip data BPS, bahwa dari sekitar 260-an juta penduduk Indonesia, 63 juta di antaranya adalah usia millennial. Dari jumlah itu, 94,4 persen sudah menggunakan internet.

Hampir semua pemuda saat ini menggunakan smart phone dan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan dari survei oleh BPS, 70,9 persen pengguna smartphone di Indoenesia, membuka gawai mereka, satu menit setelah bangun tidur.

Fakta-fakta semacam itu, menurut Iptu Subkhan, benar-benar dimanfaatkan oleh anggota kelompok-kelompok radikal, untuk mempropagandakan paham mereka secara virtual.

Penyebaran paham melalui media digital tersebut, juga 70 persen lebih efektif dibanding melalui tatap muka, yang hanya 11 persen efektivitasnya.

Iptu Subkhan pun mengemukakan data-data yang cukup mengkhawatirkan. “Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), pada 2017 menemukan angka 9,2% setuju Pancasila diganti dan pada 2019 IDN Research menemukan 19,5% untuk hal yang sama,” kata dia.

Menurutnya, kenaikan angka ini karena dunia digital dikuasai kelompok radikal dan sebagian besar dari masyarakat diam. Jika angka ini dikonversi dengan penduduk Indonesia yang jumlahnya 260 juta, maka jumlah mereka hanya sekitar 20 jutaan.

“Jika penduduk Indonesia 260 juta dikurangi mereka 20 juta, lalu ke mana suara 240 juta pendukung NKRI dengan pancasilanya di dunia digital ?. Inilah yang disebut Silent Majority is Minority, yang besar menjadi kecil karena tidak bersuara,” terangnya.

Kepada seluruh mahasiswa, Subkhan berpesan mereka dapat dunia nyata dan dunia maya, demi kebaikan dan mencari ridho Tuhan.

“Karena NKRI dengan Pancasila, adalah wujud dari Islam yang rakhmatan lil alamin dan bukan sekadar Islam rakhmatan lil muslimin,” kata dia. (HS-08)

Share This

Lindungi Masyarakat dari Covid-19, Polres Jepara Bagikan Masker

Masuk PPKM Level 2, Kapolres Pekalongan Minta Masyarakat Perketat Prokes