in

Berawal Sebagai Taman Hiburan Rakyat di Semarang, Begini Kondisi Gedung Ki Narto Sabdo di Komplek TBRS Sekarang

Suasana asri dan teduh dengan banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan besar saat berada di komplek Taman Budaya Raden Saleh di Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, Selasa (5/7/2022).

SELAIN memiliki sejarah berupa sendang atau sumber mata air Mintoloyo yang hingga kini masih ada, komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang berlokasi di Jalan Sriwijaya, Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang juga punya beberapa gedung yang sudah puluhan tahun lamanya digunakan para seniman untuk berkesenian.

Salah-satunya yang kerap untuk gelaran pentas Wayang Orang Ngesti Pandawa yakni gedung Ki Narto Sabdo. Pentas Wayang Orang ini biasanya dilakukan secara rutin setiap akhir pekan. Dengan mengambil lakon yang berbeda tiap tampil dan tetap eksis menghibur penonton.

Gedung ini persis di belakang Patung Maestro lukis asal semarang, Raden Saleh Sjarif Boestaman yang dapat dijumpai persis setelah masuk dari pintu gerbang TBRS.

Nama gedung tersebut diambil dari nama salah seorang seniman musik dan dalang ternama dari Jawa Tengah, Ki Narto Sabdo. Gedung ini memiliki ciri khas berupa lukisan wayang cukup besar di depan gedung.

Saat halosemarang.id mengunjungi TBRS, Selasa (5/7/2022), nampak pada bagian plafon dan internit serta di beberapa bagian bangunan ini mulai keropos dan bolong. Kemungkinan terkena air hujan dan karena lapuk dimakan usia, sebab telah dibangun dan digunakan selama puluhan tahun.

Menurut Pelaku Seni di TBRS, Daniel Hakiki mengatakan, gedung Ki Narto Sabdo ini adalah satu di antara gedung yang ada di Komplek TBRS. Masing-masing bangunan tersebut memiliki sejarahnya. Selain juga ada gedung serba guna, kantor pengelola TBRS, Kantor Kesenian Semarang (Dekase).

“Kalau gedung untuk pentas Wayang Orang Ngesti Pandawa , itu sejarahnya luar biasa. Karena, di Indonesia wayang orang tinggal tiga, salah satunya di Semarang,” terang Daniel, Selasa (5/7/2022).

Ditambahkan, sedangkan yang dua lainnya adalah Wayang Orang Barata di Jakarta dan Sriwedari di Solo.

“Kalau nama bangunan Ki Narto Sabdo, sejak awal berdiri memang diambil dari nama seniman musik dan dalang wayang kulit ternama dari Jawa Tengah, yaitu Ki Narto Sabdo,” katanya.

Dilanjutkan dia, TBRS merupakan Ruang publik, dulunya sebagai Taman Hiburan Rakyat (THR) dengan adanya wisata berupa kebun binatang (Bonbin).

“Setelah bonbin pindah di Tinjomoyo, lalu bertempat di Bonbin Mangkang, taman budaya raden saleh kan kosong. Kemudian sempat digunakan untuk pameran. Baru mulai temen-temen masuk untuk berkegiatan berawal dari seni rupa. Ada proses kesenian disitu,” ujarnya.

Kemudian wilayah itu untuk tempat para seniman bereskpresi, karena ruangnya terbuka.

“Setahu saya, di TBRS dulunya hanya terdapat dua gedung. Yakni gedung utama yang sekarang dirobohkan, dan saat ini dibangun baru untuk gedung pertujukan yang lebih bagus. Tapi memang belum jadi. Kemudian ada gedung open theater terbuka. Nah, dua gedung ini dulu yang ada di TBRS. Sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di Semarang,” paparnya.

Disamping itu ada sebuah gedung yang dulu akan difungsikan untuk museum Raden Saleh.

“Sekarang kemudian jadi kantor itu (Pengelola TBRS-red). Kalau gedung Ngesti, setahu saya tidak digunakan untuk pertujukan wayang, tetapi untuk segala kesenian,” imbuhnya.

“Tapi perkembangannya, Wayang Orang Ngesti Pandawa yang sebelumnya dimainkan di taman Majapahit, kan sepi penontonnya. Akhirnya dialihkan ke gedung di TBRS itu dan mulai digunakan untuk Ngesti Pandawa tampil,” jelasnya.

Kepindahan Wayang Orang Ngesto Pandawa, sempat diprotes seniman lainnya pada waktu itu. Karena setahu mereka gedung itu untuk segala macam kesenian.

“Tapi karena yang memakai adalah Ngesti Pandawa, mereka memaklumi. Awal -awal temen temen sempat protes karena tidak untuk peruntukannya. Namun, karena Ngesti Pandawa adalah tinggal tiga wayang orang yang masih bertahan. Yaitu Barata di Jakarta dan Sriwedari di Solo jadi mereka memaklumi hal itu,” pungkasnya.

Adapun pertujukan yang kerap diselenggarakan di Gedung Ki Narto Sabdo, selain wayang orang, juga wayang kulit, ketoprak, teater, dan musik keroncong.

Di samping Gedung Ki Narto Sabdo berdiri sebuah galeri seni yang menjajakkan aneka pameran seni grafis seperti lukisan, pahatan patung dan barang seni lainnya. (HS)

Perayaan HUT Bhayangkara ke-76 di Akpol Semarang, Presiden Beri Pesan Kepada Polri untuk Berhati-Hati dalam Bekerja

Soal Kurikulum Merdeka SMK, Ketua Komisi D : Sarpras Praktek Siswa Masih Jadul